
"Tadi lampunya mati, pas kamu datang, udah hidup lagi," ucapku sambil menggaruk-garuk kepala yang tak terasa gatal.
"Kalau lampunya mati, terus alat yang dipasang ke Oppa gimana, Kak?" tanya Clara kemudian.
"Alatnya tetap nyala, kok," terangku, lalu bergegas menyusul Clara yang sedang sibuk memperhatikan sepupunya itu.
Clara meraba hidung Karel, kemudian menempelkan telinganya ke dada Karel.
"Syukurlah," ucap Clara.
"Ada apa, Clar?" tanyaku.
"Enggak ada apa-apa, Kak. Aku cuma mau memastikan saja. Oh, iya, kak, tadi enggak menghubungi Dokter atau petugas yang jaga malam?" jawab Clara balik bertanya.
"Alat itu tidak berfungsi, dan aku juga mencoba keluar tadi, listrik malah padam," ucapku sambil menunjuk mikrokontroller.
***
Sebulan telah berlalu, tetapi tak ada perkembangan atau tanda-tanda berfungsinya anggota tubuh Karel. Jarinya bergerak saja, tak pernah terlihat. Putus asa tentu tidak, berusaha mencari dokter-dokter terbaik di negara ini dan didatangkan juga dari luar. Namun, hasilnya masih tetap sama.
Terniat olehku untuk meminta bantuan pada malaikat penyelamat itu, tetapi aku tak tahu bagaimana cara memanggilnya. Ia hanya datang ketika benar-benar dalam keadaan genting yang menimpa diri ini.
"Kamu di mana, sih? Aku mohon datanglah," bisikku dalam hati sambil memejamkan mata, seperti orang yang sedang berdoa.
Hal aneh kembali kutemukan setelah itu, suatu keadaan yang memaksa harus beranjak turun dari tempat tidur. Mulas tak tertahankan.
Aku terkejut bukan kepalang, saat mendorong pintu toilet, di sana terdapat hamparan taman bunga yang sangat luas. Bermacam ragam bunga berwarna warni, indah sekali. Hingga rasa mulas tiba-tiba menghilang. Di sana juga terlihat awan yang begitu rendah, rasa terjangkau dengan tangan.
Kulangkahkan kaki perlahan, rumput-rumput yang menghijau itu berubah menjadi butiran salju. Aku tertegun sejenak, lalu menunduk sambil menggenggam salju-salju tersebut.
"Mungkin aku sedang berhalusinasi lagi," gumamku sambil mencubit lengan sendiri.
Kemudian aku lanjutkan melangkah, netra ini langsung menangkap sesosok pria berpakaian serba putih. Wajahnya bersinar bak cahaya rembulan.
"Karel?"
Pria itu tersenyum sangat manis, lalu ia menghampiriku dan mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya tanpa berpikir panjang, karena diri ini memang menantikan saat-saat seperti ini, walau sebenarnya aku tak tahu ini nyata atau hanya sekedar mimpi penghibur duka yang selalu mengitari hari-hari.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, sosok yang aku kira Karel, kembali berubah, bukan wajahnya, tapi sayap-sayap itu kembali tumbuh. Tangannya melingkari pinggangku, lalu ia mengajak terbang mengelilingi taman ini.
Terbuai sudah pasti. Bukan tidak setia pada kekasih yang sedang tergeletak di atas tempat tidur pasien. Namun, aku mencoba meyakinkan diri, bahwa yang sedang bersamaku sebenarnya adalah orang yang kucintai.
"Karel," ucapku pelan. Namun, lagi-lagi ia hanya tersenyum.
Aku semakin bingung, biasanya jika kita berbicara pada seseorang, tapi ia tak menjawab, itu hanya terjadi dalam mimpi. Untuk memastikan lagi, aku kembali mencubit pipi.
"Augh! Sakit!" keluhku.
Kali ini ia tak tersenyum pagi, tetapi tertawa. Gigi-giginya tersusun rapi dan putih, lebih mengkilap dari gigi Karel, karena ia mantan perokok aktif.
"Rasa ingin tahu bukanlah sebuah tindakan kriminal." Akhirnya ia berbicara. "Akan tetapi, seseorang yang melanggar aturan, akan memiliki hukum tersendiri. Kamu seharusnya tidak memanggilku di hari ini, karena hari ini adalah hari yang sakral di kahyangan," tuturnya yang membuat aku tak mengerti.
"Aku tidak paham dengan apa yang kamu bahas, yang jelas, aku bukan bermaksud untuk datang ke sini. Ini hanya mimpi!" ujarku menegaskan.
"Ini nyata." Jawaban yang ia berikan membuatku terperangah. Mulut ini tiba-tiba terasa terkunci.
Tak tahu harus berucap apa lagi, aku melepaskan pegangan di pundaknya. Namun, ia semakin memelukku erat.
"Siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu mirip sekali dengan kekasihku Karel? Dan mengapa kamu hadir setelah orang yang aku cintai tergeletak tak berdaya di rumah sakit?" Aku memberondong makhluk itu dengan pertanyaan.
"Aku lelah," ucapku kemudian.
"Jangan pernah lelah, karena aku akan menjagamu selalu. Ingatlah kata-kata ini, aku tetap ada walaupun nanti kamu akan menolak kehadiranku," terangnya, itu membuatku semakin tak mengerti.
Ia kembali meniupkan aroma lavender ke wajahku, sebelum mata ini tertutup, makhluk tersebut mengecup lembut di keningku. Diam, tak menolak, aku menikmati itu walau terasa ganjil.
***
Saat terbangun, aku sudah berada lagi di rumah sakit. Melirik ke sana dan kemari, di tepi jendela, Clara sedang asyik memainkan ponselnya. Mata ini kembali menerawang, menatap bintang yang bertaburan di langit yang menghitam, sunyi dan terasa benar-benar lelah dengan kejadian yang menimpa diri.
Tak sengaja kulihat sekelebat bayangan melintas di dekat jendela.
"Clara, apakah kamu melihat sesuatu barusan? tanyaku padanya. Clara meletakkan ponselnya sebentar, lalu melirik ke arahku.
"Apaan, Kak?" jawabnya balik bertanya.
__ADS_1
"Beneran kamu enggak melihat apa-apa?" tanyaku memastikan.
Clara menggeleng, lalu kembali mengambil ponsel dan melanjutkan bermain game.
Malam semakin larut, semilir angin menyapa lewat jendela. Takut kenapa-kenapa pada Karel jika terkena angin malam, akhirnya aku menutup jendela dan mengajak Clara untuk beranjak ke tempat tidur.
Tok! Tok!
Terdengar ketukan pintu beberapa kali. Padahal pintu itu tak dikunci, kalau dokter atau perawat, mengapa pakai ketuk pintu segala?
"Siapa itu, Clar?" Clara hanya mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
Tok! Tok! Tok!
Untuk yang kedua kalinya suara ketukan pintu itu kembali terdengar. Namun, tak ada suara manusia di luar sana.
Kuberanikan diri mendekati pintu dan membawa bantal untuk jaga-jaga, kalau nanti ada orang yang langsung menikamku.
Ceklek!
Ketika pintu terbuka, tak ada siapa-siapa di luar. Aku terenyak di depan pintu, melepaskan ketegangan dan rasa kesal yang memuncak. Saat ingin bangkit lagi, petugas yang berjaga malam lewat dan menegur.
"Kenapa duduk di luar, Mbak? Sudah malam, silahkan istirahat."
"I-iya, Sus," jawabku sedikit gugup, karena tak tahu entah dari mana datangnya suster itu, yang tiba-tiba sudah berada di dekatku.
"Clar, aku kok, merasa aneh, ya?"
"Aneh kenapa emangnya, Kak?"
"Sejak pertama berada di rumah sakit ini, aku banyak menemukan keganjilan. Apa jangan-jangan rumah sakit ini angker, ya?"
"Ah, kakak bisa aja, aku enggak pernah menemukan hal yang aneh menurut kakak itu," jawab Clara sambil tertawa kecil.
"Gitu, ya." Mungkin aku saja yang
mengalaminya, karena hidup ini kacau setelah berkenalan dengan mbah Sugiono, si dukun sakti itu.
__ADS_1
Dalam hati yang masih dihujami beribu pertanyaan yang memuakkan, aku tertawa sesaat, kemudian kelopak mata ini memanas, lalu buliran-buliran bening itu mulai berjatuhan membasahi pipi.
"Sabar, Kak Rafe. Badai pasti akan berlalu, dan Oppa pasti pulih seperti sedia kala." Clara mendekat dan mencoba menenangkan diriku. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang kutangisi.