
Pagi datang terasa cepat, dengan otomatis gorden jendela terbuka karena terkoneksi oleh cahaya matahari. Qenan tak lagi berada di sampingku, karena selepas subuh, ia langsung pulang ke rumahnya. Ya! Beginilah setiap hari dijalani, setelah semalaman bersama, ia pergi diam-diam tanpa membangunkanku terlebih dahulu.
Aku bahagia, merasa sangat dicintai dan dihargai. Pastinya aku bak seorang ratu yang selalu terjaga di pagi hari dengan disambut oleh beberapa pelayan. Amazing!
Selesai mandi aku langsung menuju ke meja makan. Di sana sudah tersedia Sandwich dan segelas susu yang telah disiapkan oleh asisten rumah tangga. Perlahan sudah merasakan hidup seperti orang kaya. Apa pun yang aku mau, sudah tersedia dalam rumah ini.
Sesuai perintah Mbah Sugiono, aku harus mandi dulu dan berendam dengan taburan bunga tujuh rupa.
"Aduh! Aku lupa membeli bunga." Aku pun mondar mandir sambil berpikir, karena tidak tahu di mana pasar yang terdekat di daerah sini. Ya! Karena aku adalah penduduk baru yang tidak terdaftar sama sekali.
Sambil berpikir, aku melongok ke halaman. Pandangan tertuju pada tumpukan bunga-bunga. Akhirnya aku tidak kerepotan lagi untuk mencari bunga ke pasar. Di halaman sudah tersedia bermacam bunga dan warna, serta terawat dengan baik.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Ternyata lebih dari tujuh macam bunga yang tumbuh di halaman ini, mantap," gumamku pelan.
"Untuk apa bunga-bunga itu, Nyonya?" tanya asisten rumah tangga yang membuatku langsung terperanjat.
"Bibik! Aduh, Bik. Bikin kaget aja!" seruku sambil melotot.
"Maaf, Nya. Saya kira, Nyonya tahu kalau saya sudah berdiri di sini sejak tadi," ujar Bik Imah tampak canggung.
"Ya, sudah. Bibik masuk ke dalam, sana!" perintahku.
Bik Imah pun masuk tergopoh-gopoh, kemudian aku mengikutinya dari belakang. Sesekali Bik Imah melirik, seperti seseorang yang sedang curiga. Di sini memang akulah terdakwa, makanya pasti merasa ketakutan karena memang melakukan kesalahan.
"Apakah Bik Imah punya ilmu terawang?" bisikku di hati.
Sesampainya di kamar, aku langsung memereteli bunga-bunga tersebut. Lalu menaburkan ke dalam bathtub dan tidak lupa memasukkan air mawar juga minyak air mata duyung. Aromanya menguar dalam ruang kamar mandi, wangi.
Tepat jam 12 siang, aku langsung masuk ke dalam bathub dan berendam selama beberapa menit, menyapukan bunga-bunga itu perlahan ke wajah dan ke tiap helai rambutku.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Nyonya." Terdengar suara Bik Imah dari depan pintu kamarku.
"Ada apa, Bik?" teriakku dari dalam kamar mandi. Akan tetapi, percuma saja berteriak, karena Bik Imah pasti tidak akan mendengarkan suaraku. Lalu kusudahi berendam, dan berjalan menuju pintu.
"Nyonya?"
"Iya, ada apa!" sahutku.
"Makan siangnya udah siap, mau diantar ke kamar atau gimana, Nya?" tanya bik Imah lagi.
"Letakan di meja makan aja, Bik," ucapku sambil terus mengawasi.
"Baik, Nyonya," ucap bik Imah singkat.
Selesai mengenakan pakaian, aku berjalan ke lantai bawah untuk menyantap makan siang yang sudah tertata rapi di meja makan.
__ADS_1
"Bik! Aku mau pulang dulu ke Cilacap. Mau jenguk Om dan Tanteku. Nanti, kalau Mas Qenan bertanya, bilangin, ya, Bik. Soalnya ponselku pasti tidak aktif karena daerah sana lumayan masuk ke hutan-hutan, jadi signal susah," terangku penuh kebohongan. Pada hal aku sebenarnya mau ke rumah Mbah Sugiono.
"Baik, Nyonya," jawab Bik Imah sambil melirikku penuh selidik.
"Ada apa, Bik?"
"Iya, ada apa, Nya?"
"Bibik aneh deh, dikongkon malah ngongkon," celetukku menggunakan bahasa Jawa.
"Permisi, Nya. Bibik mau berberes dulu," ucap Bik Imah. Lalu dia pergi nyelonong tanpa menoleh lagi.
***
Setelah mengambil ayam cemani di kontrakan lama, aku langsung pergi menuju tempat Mbah Sugiono. Kembali menaiki bus yang penuh sesak. Sesekali ada yang menyolek lengan dan pinggulku. Ingin marah, siapa yang bakalan dituduh. Sementara laki-laki yang berdiri di dekatku tidaklah sedikit.
"Silakan duduk, Neng," tawar seorang pemuda yang berperawakan tinggi, kulit putih dan bermata biru.
"Terima kasih, Mas," ucapku sambil menghempaskan napas lega.
Ternyata pemuda itu menyadari kalau aku sedang diganggu dan dilecehkan oleh segerombolan pria yang berdiri di dekatku.
"Mau ke mana, Neng?" tanya pemuda itu lagi dengan ramah.
"Mau ke rumah saudara, Mas."
"Sebentar lagi sampai," jawabku sopan.
"Kenalkan, namaku Karel," ucap pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
"Rafe," sahutku sambil menjabat tangannya.
Di saat berbincang-bincang dengan Karel, di pertengahan jalan turun hujan sangat lebat disertai angin kencang, sehingga terjadilah longsor. Bus terpaksa berhenti dan menepi bersama kendaraan lain yang berada di belakang.
"Aduh, gimana ini?"
"Sabar, semoga semua ini bisa teratasi," ujar Karel meyakinkanku.
"Tapi, ini sudah menjelang sore, aku takut di ...."
"Iya, ada apa?" tanya Karel menatapku.
"Eh, enggak apa-apa. Semoga bisa lewat, ya."
Lalu aku naik lagi ke dalam bus, dan menenteng karung yang berisi sepasang ayam cemani itu. Tanpa berpamitan pada Karel, aku pergi melewati jalan yang terhalang oleh tumpukan tanah dan batu, akibat longsor yang menghalangi jalan. Aku berharap dari balik longsoran ini, bisa menemukan ojek.
Kreek!
__ADS_1
Bunyi dahan kayu patah. Aku langsung mendongak ke atas setelah melewati jalan yang tertimbun tanah. Terlambat menghindar, bisa saja dahan itu menancap tepat di ubun-ubunku.
"Huf! Untung saja aku cepat menghindar," kataku sambil mengurut-ngurut dada karena kaget.
***
Aku kembali melanjutkan perjalanan. Sepatu yang berwarna putih, berubah menjadi kuning, sebab menempuh jalan tanah yang becek. Belum lagi harus memanjat bukit untuk mencapai rumah Mbah Sugiono. Aku takut seandainya tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke jurang. Pikiranku pun akhirnya tak karuan. Berkhayal kalau mati saat melakukan dosa sebesar ini.
"Ih, amit-amit."
Di persimpangan jalan, akhirnya aku menemukan ojek. Sementara gerimis masih memayungi perjalanan menuju jalan rumah Mbah Sugiono.
"Stop ... stop ... !"
"Turun di sini, Neng?" tanya tukang ojek sambil melihat-lihat sekeliling.
"Iya, emangnya kenapa, Kang?"
"Di sini enggak ada rumah, Neng mau ke mana, sih?" tanya tukang ojek itu penasaran.
"Enggak usah kepoh, deh, Kang. Berapa sewanya?" jawabku balik bertanya.
"Dua puluh ribu, Neng."
Setelah membayar tukang ojek, aku langsung masuk ke jalan setapak. Langit sudah mulai gelap, pertanda sebentar lagi malam akan datang.
Berbekal penerangan dari cahaya ponsel, aku mulai merangkak ke atas. Sesekali kakiku tergelincir akibat tanah yang basah tersiram air hujan sejak tadi siang.
Angin kembali berdesir menggoyang pepohonan. Mataku liar memeriksa sekitar perbukitan setelah berhasil mencapai puncak. Aku takut nanti tiba-tiba makhluk tanpa wajah itu menghalangi lagi. Perasaan takut mulai menyerang, dari balik semak belukar terlihat ada yang bergerak-gerak. Semisal itu hanya karena angin, tidak mungkin beraturan seperti itu, sangat tidak wajar. seperti digerakkan oleh seseorang.
Suutt! suutt !
Tiba-tiba makhluk hitam, besar dan badannya diselimuti bulu lebat, kini berdiri hanya beberapa langkah di depanku. Ingin lari, tetapi kakiku terasa kaku, tak bisa digerakkan.
"Mbah Sugiono! Tolong aku," bisikku ketakutan.
Makhluk itu semakin mendekat, hingga membuat jantungku berdegup lebih kencang, keringat dingin mulai bercucuran.
"Galuh, pergilah!" Terdengar suara Mbah Sugiono berteriak. Lalu, makhluk itu berubah menjadi gumpalan asap tebal, kemudian menghilang.
Aku bergegas meninggalkan tempat tersebut, karena cahaya dari lampu rumah Mbah Sugiono yang terbuat dari batang-batang bambu, sudah terlihat. Sesampainya di sana, aku baru ingat kalau karung yang berisi ayam cemani, tertinggal di bawah bukit. Untuk turun lagi membutuhkan waktu dan pasti sangat ribet.
"Aduhh ...."
"Kenapa?" tanya Mbah Sugiono
"Anu, Mbah. Ayamnya ... ayamnya ketinggalan," jawabku canggung.
__ADS_1
"Sudah kuduga, makanya aku menyusulmu tadi," ucap Mbah Sugiono sambil menunjuk ke sudut ruangan.