Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Lamaran


__ADS_3

"Rafe, kamu jangan membuatku cemas lagi."


Sungguh kali ini membuatku benar-benar terpana, karena Karel langsung memelukku. Ia seperti mencemaskan orang yang dicintainya. Aku pun tersenyum dalam dekapan.


"Aku enggak apa-apa, Karel."


"Tapi kenapa kamu diam aja saat dipanggil?"


"Maaf, aku hanya mencoba menghukum diri," ucapku lirih.


"Untuk?"


Aku melirik Bik Imah yang juga menunggu penjelasan. Ingin mengatakan yang sejujurnya, tetapi aku meragu. Karel yang menyadari itu langsung menyuruh Bik Imah meninggalkan kamar.


"Bibik buatin jus jeruk dulu, ya," usir Karel dengan sopan.


"Iya, Tuan."


"Sekarang bicaralah," ucap Karel memberiku ruang.


"Sebelumnya aku mau ucapi banyak terima kasih, karena sudah menolong dan memberikan tempat tinggal."


"Iya sama-sama. Itu saja?"


"Dan aku tidak mau lagi menjadi beban di rumah ini."


"Maksudnya apa sih, Rafe? Jangan bilang kalau kamu akan pergi meninggalkan rumah ini."


"Iya, aku mau berpamitan."


"Mau ke mana? Apakah kamu sudah merasa aman jika aku lepaskan?"


"Aku pulang kampung, Karel."


"Tidak boleh!" Aku tersentak karena suara Karel berubah seperti orang yang lagi marah.


"Karel, kamu mengapa membentakku?" tanyaku.


"Kamu enggak boleh pergi pokoknya. Aku ... aku ...."


"Kamu suka padaku?" Aku langsung menebak itu.


"Iya, aku suka padamu. Aku sayang padamu, Rafe."


"Aku juga."


"Benarkah?" tanya Karel dengan tatapan mata berbinar.


"Iya, tapi aku kotor. Jadi, lebih baik cari wanita yang baik-baik saja, karena kamu adalah pria yang baik."

__ADS_1


"Walaupun kamu keluar dari rumah bordil sekalipun, tetapi Tuhan menakdirkan kamu menjadi milikku, tetap saja akan dipertemukan. Betul enggak?"


"Kamu enggak akan kuat jika aku ceritakan semua yang telah terjadi sebelum kita bertemu."


"Jadi, jangan diceritakan. Cukup buang saja kenangan itu, kapan perlu dikubur dalam-dalam."


Karel menegaskan agar aku tetap menyimpan kisah kelam itu. Namun, hatiku benar-benar tidak nyaman. Tanpa seizinnya, aku menceritakan semua dari mulai tragedi kematian kedua orang tua kandungku, sampai bertemu kembali dengannya saat diburu Qenan.


Suaraku parau, air mata benar-benar terkuras habis, pasrah dengan keputusan Karel, jika pun nantinya ia menolak, tapi aku sudah berusaha jujur.


Karel masih termenung di sampingku. Aku pun kembali diam membisu, menanti tanggapan darinya, hingga kesabaran terkikis, pada akhirnya aku membuka pembicaraan lagi.


"Kamu enggak sanggup, kan? Aku benar-benar kotor."


"Sudah! Jangan dilanjutkan."


"Tapi aku menunggu jawaban darimu."


"Kamu mau tahu jawabannya sekarang juga?"


"Iya," ucapku tanpa ragu.


"Rafe, dari awal aku sudah bilang, siapa pun kamu dan bagaimanapun kamu, aku akan tetap menyukaimu. Karena rasa sayang ini sudah sangat melekat."


Karel menatapku sendu. Kucoba menelisik bola matanya, memang benar tidak ada kebohongan di sana. Terharu pastinya, aku wanita yang sangat hina, bisa diterima baik oleh seorang pria seperti Karel.


"Ini hanya untuk sekedar sebuah perasaan saja atau bagaimana?" tanyaku hati-hati.


Jantungku kembali berdegup kencang, akan tetapi, kali ini beda lagi rasanya. Sebuah rasa haru bahagia, yang benar-benar nyata terjadi dalam kehidupanku, dan sebuah kecupan tulus terpatri di keningku begitu lama. Tidak seperti masa lalu, diawali dengan kecupan di bibir, berakhir dengan hubungan terlarang. Berkali-kali. Sampai membuat hidupku benar-benar hancur.


"Makan siang dulu, setelah itu minum obat dan langsung tidur." Karel menyuapiku makan, dan ia pergi dari kamar setelah aku benar-benar terlelap.


***


Malam Minggu di tepi pantai, Karel memberikan sebuah kejutan. Makan malam yang romantis, serta suara musik yang sesekali diiringi oleh debur ombak yang menghempas batu karang.


Saat ini bertepatan dengan hari lahirku. Kue berukuran sedang berbentuk hati, ternyata tempat Karel menyimpan sebuah cincin berlian bermata putih.


Iya, makan malam romantis serta perayaan hari ulang tahun, plus Karel memberi kejutan dengan cincin yang indah, lalu ia berkata, "Will you marry me?"


"Seriously?" tanyaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Yeah! Because, I love you ... forever."


Malu mungkin sudah hilang, karena terlalu bahagia, aku menangis sampai tersedu, berlomba dengan pasir yang berbisik, kuhempaskan rasa sakit selama ini yang mengganjal, lalu aku berteriak, "I love you, Kareeelll ...."


Door!


Sebuah tembakan terlepas entah dari mana sumbernya. Yang jelas satu peluru berhasil mengenai priaku tercinta. Ia tersungkur di depanku, bersimbah darah.

__ADS_1


"Karel? Enggak ... nggak mungkin. Karel, bangun sayang ... banguuun!" Aku berteriak sekuat tenaga, bahagia yang baru saja tercipta menjadi sirna.


Tangisanku semakin pecah ketika ambulans dan mobil polisi sudah datang. Karel tak bergerak sedikit pun, hanya ada lelehan air mata yang bergulir di sudut matanya.


Sesampainya di rumah sakit, Karel langsung ditangani oleh para dokter. Menunggu di depan ruangan operasi, serasa menunggu bertahun lamanya menanti hasil.


Usai menjalani operasi pengangkatan proyektil yang bersarang di tubuh kekasihku, kini ia menjalani operasi pemulihan di ICU.


Ceklek!


Pintu ruangan operasi terbuka, aku bergegas menghampiri Dokter Wisnu.


"Bagaimana, Dokter?" tanyaku gemetaran.


"Operasi pengangkatan peluru berjalan lancar, tapi ...."


"Tapi apa, dok?" tanyaku memotong ucapan Dokter Wisnu.


"Limpa di tubuh Pak Karel sempat diambil, lantaran peluru menembus pinggang kiri hingga bersarang di dada bagian kanan.


"Peluru terkena di dada, diafragma kemudian limpa," tambah Dokter Wisnu.


Karel harus menjalani masa observasi pasca pembedahan. Operasi tersebut akhirnya memakan waktu sekitar empat jam lebih.


"Kita tunggu hasil observasi berikutnya," tutup Dokter Wisnu.


Kuhempaskan napas berat, sambil mengelap air mata. Walau bagaimana pun, Karel masih dalam kondisi yang tidak aku pahami sama sekali. Pikiran ini terasa kacau, saat orang yang kucintai masih tergeletak lemah.


"Pak Karel koma." Terdengar pembicaraan Dokter Wisnu dan suster.


"Apa?" tanyaku setelah memergoki mereka.


"Eh, Bu Rafe, kami baru saja ingin memberi tahu," ucap Dokter Wisnu sambil menepuk pelan pundakku.


Kaki terasa lemas, netra ini mulai hangat, dan akhirnya aku terenyak di lantai.


"Sabar, Bu," bujuk suster.


Tak kuhiraukan lagi panggilan Dokter Wisnu, aku berlari ke ruangan tempat Karel dirawat. Menangis adalah jalan satu-satunya, saat dokter lainnya mengganti ventilator yang baru, karena yang pertama tiba-tiba tak berfungsi.


"Ada apa lagi ini, Tuhan?"


"Silahkan tunggu di luar, Bu," pinta suster, kemudian menyeret tanganku untuk menjauhi Karel.


***


Malam semakin larut, berkali-kali mencoba memejamkan mata ini, tetapi sepertinya rasa kantuk tak kunjung datang, padahal tubuh ini sudah sangat lelah. Kuambil ponsel, lalu memainkannya, sesekali memotret cintaku yang tergeletak di atas ranjang pasien.


"Hufh!"

__ADS_1


Kukedip-kedipkan mata ini biar mengantuk, tetapi tak berhasil juga. Suhu ruangan tiba-tiba terasa amat dingin, bau ruangan ini seperti tak berbau rumah sakit lagi.


"Wangi!" gumamku pelan.


__ADS_2