Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Dihantui


__ADS_3

"Kalau dia bukan siluman, aku pasti maulah," bisikku mencelos dalam hati.


Aku terus memperhatikan Mbah Sugiono berbincang dengan siluman ular itu. Kali ini wujudnya persis dalam film-film, separuh manusia, separuh ular. Untung saja aku nggak gila, hidup di tengah-tengah kekonyolan, penuh dengan mistis, fantasi dan wanita simpanan. Iya, memang terasa begitu, merasa kalau aku hanyalah wanita simpanan. Tak ada integritas.


"Baiklah. Jadi begini ingin Raden, sebelum berpisah, dia meminta kamu melahirkan anak untuknya."


"Apa? Enggak ... nggak mungkin Mbah. Jika aku hamil, aku akan dicampakkan oleh


Qenan!" teriakku histeris.


"Dicampakkan? Ya, enggaklah, wong hamilnya sebentar kok." Mbah Sugiono terkekeh melihat reaksi yang kutimbulkan.


"Maksudnya?" tanyaku semakin tak mengerti.


"Masuklah ke dalam bilik, Raden sudah menanti!" perintahnya datar.


Aku mengikuti perintah Mbah Sugiono. Setiba di bilik, seperti sebelumnya, bilik Nyai Keling pun terlihat sangat indah. Dalam keadaan sadar, aku terus bergidik membayangkan yang terjadi setelah ini.


Siluman ular yang dipanggil Raden itu, berubah seperti orang maniak ***. Berulang kali ia mencumbuku, hingga aku terkapar tak berdaya.


TEEENG!


Jam kuno yang terletak di sudut kamar, berdentang satu kali. Itu pertanda sudah menunjukkan pukul satu. Saat aku bangkit dari tempat tidur, tiba-tiba perutku terasa kram, kemudian membuncit.


"Nyai, Mbah, tolong aku!" Aku berteriak memanggil mereka, sementara perutku semakin besar dan ada beberapa gerakan yang membuatku makin ketakutan.


"Tenang dulu, tunggu kontraksinya berkesinambungan," kata Nyai Keling.


"Hormat dari hamba, Raden. Sebentar lagi anak-anak Raden akan lahir. Monggo."


Kudengar suara Mbah Sugiono dari luar.


AAAAAAAA!!


Aku semakin kesakitan, rasanya mau mati saat itu juga.


Suuuuut!


Sesuatu yang panjang keluar dari rahimku. Tidak hanya satu, dua, atau tiga ekor, tetapi banyak. Bergidik. Namun, rasa sakit dan tak berdaya membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Sebelum mata ini benar-benar terpejam, samar kulihat segerombolan ular berwarna hijau keemasan.


Aghh!


Tulang punggungku terasa patah, saat bangun, aku sudah berada dalam kamarku. Mungkin Mbah Sugiono yang mengantarkan pulang.


***


Pagi ini tak secerah hari kemarin, Qenan pun belum juga menghubungi. Selintas bayangan pembunuhan Bik Imah kembali teringat. Aku merasa berdosa walaupun bukan aku yang membunuh, tetapi Bik Imah tewas gara-gara aku.


Tok! Tok!


"Pasti Qenan yang datang," tebakku.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk, Sayang. Pintunya enggak dikunci, kok!" kataku sedikit mengeraskan suara.


Ditunggu-tunggu, Qenan tak kunjung membuka pintu. Sampai suara ketukan di depan pintu kamar terdengar lagi.

__ADS_1


Tok! Tok!


"Haiih! Kebiasaan de ... " ucapanku terhenti ketika membuka pintu, tidak ada siapa-siapa.


"Sayang, jangan bercanda, ah. Kamu mengumpet di mana?" Hening, tak ada jawaban.


Lalu aku berjalan ke dapur, terdengar suara seperti orang yang sedang memotong sesuatu.


"Sayang, kamu di dapur?"


Akan tetapi apa yang kutemui. Aku melihat Bik Imah sedang sibuk menguliti kulit kepalanya.


“Ha ... haa .... hantuuuuuu!”


Aku berlari tak tentu arah, sesekali kakiku tersandung meja, Bik Imah terus mengejar, sambil menenteng kepalanya.


"Dasar perempuan terkutuk!" bentak hantu Bik Imah.


Bik Imah berhasil meraih rambutku, lalu ia mulai menggesekkan pisau tepat di tenggorokanku.


Sekresek! kresekk! kreseek!


AAAAAAAAA ....!


"Hey! Bangun, Sayang. Kamu mimpi buruk, ya?" Sayup-sayup aku mendengar suara Qenan. Namun, mataku enggan terbuka. Sementara Bik Imah terus menggesekkan pisau di leherku.


Sedikit lagi leherku hampir putus, Bik Imah kemudian lenyap. Akhirnya aku bangun sambil terbatuk-batuk.


"Kamu enggak apa-apa, Sayang?" tanya Qenan terlihat cemas.


"Kamu mimpi apa?" tanya Qenan lagi.


"Enggak tahu," jawabku pelan.


"Ini diminum dulu," ucapnya sambil menyodorkan gelas berisi susu coklat.


"Kamu kapan datang, Sayang?"


"Sudah dari sejam yang lalu."


"Owh."


"Eh, Yang. Bik Imah, mana?"


Deg!


Aku terdiam, jawaban apa yang mesti kuberikan pada Qenan.


"Hey, malah melamun. Bik Imah mana?"


"Hmmmm ... itu juga yang menjadi pikiranku. Sejak kemarin sore, Bik Imah tak menampakkan batang hidungnya," kataku berbohong.


"Apa Bik Imah pulang kampung, ya?" tanya Qenan sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Bisa jadi, soalnya pagi saat sarapan, Bik Imah minta uang. Aku kira sudah masanya gajian, ya, udah, aku kasih uang sebanyak gaji dua bulan."


"Oke, Sayang. Uang tabungan cintaku masih cukup, kan, untuk sebulan ini? Kalau kurang aku tambahi."

__ADS_1


"Masih, Sayang."


"Sip! Besok jangan lupa ke salon dulu, ya. Soalnya ada rekan bisnis yang akan berkunjung ke rumah kita."


Qenan mengecup keningku, lalu ia berangkat ke kantor.


"Sepenting apa, sih, tamu tersebut? Pakai disuruh ke salon segala, emangnya aku terlihat jelek, apa?" cecarku sambil memperhatikan wajah di kaca.


Tiba-tiba aku melihat bayangan Bik Imah di dalam kaca. Aku terperanjat, lalu langsung menoleh ke belakang. Nihil, tidak ada sesuatu yang aneh. Namun, saat kembali menolehkan wajah ke kaca, bayangan Bik Imah kembali terlihat, bahkan kini tidak seperti bayangan lagi. Bayangan itu berubah menjadi Bik Imah yang utuh, kepalanya masih ada, tetapi terlihat pucat dan bola matanya? Aku gemetaran saat melihat mata Bik Imah tanpa pupil. Panik dan ketakutan, akhirnya aku melempar kaca itu dengan vas bunga.


Braaaak!


Kaca berserakan di lantai. Kemudian lari ke luar rumah, tanpa pakai alas kaki, aku terus berlari, sampai menabrak seseorang.


"Agh!"


"Kamu tidak apa-apa?" tanya orang itu, yang ternyata adalah Karel. Pemuda yang pernah berbincang denganku di atas bus sewaktu menuju rumah Mbah Sugiono.


"Karel?" Ia tersenyum sambil mengulurkan tangan.


"Mari aku bantu," tawarnya.


"Terima kasih," jawabku sambil terus mengatur napas yang tersengal.


"Kenapa kamu lari? Ada yang mengejar?"


"Aku lagi joging," sahutku berbohong.


"Joging, kok, enggak pakai sepatu?"


"Lagi terapi aja," jawabku sambil tertawa kecil.


"Oke, mau aku antar pulang?" tawarnya.


"Enggak usah, Rel. Rumahku dekat, kok."


"Owh, baiklah. Aku duluan, ya." Lalu Karel berjalan menuju ke tempat parkiran.


Setelah aku perhatikan, ternyata Karel mengendarai mobil sport merek Aston Martin DB11 keluaran Toyota berwarna merah.


"Wih! Mobilnya keren, tapi kenapa saat itu dia naik bus?" Aku jadi bertanya-tanya sendiri, sambil memandangi mobil itu berlalu dan menghilang di kejauhan.


"Ah, bodo amat. Mengapa pula kupikirkan. Sebaiknya aku balik ke rumah, semoga hantu sialan itu sudah pergi."


Ternyata aku berlari cukup jauh karena tanpa disadari, jarak rumah masih butuh waktu sepuluh menit lagi untuk menempuh jarak tiga kilo meter .


Tukang ojek pun sepertinya enggan menerimaku sebagai penumpangnya, karena mereka melihatku seperti orang yang ketakutan. Akhirnya aku terpaksa jalan kaki.


Sesampai di rumah.


"Perasaan saat lari, pintu rumah tak sempat kututup. Apa Qenan balik lagi, ya? Atau jangan-jangan, hantu Bik Imah yang menutupnya?" Aku bergidik.


Perlahan kupegang gagang pintu.


Cekrek!


"Halo! Ada orang di dalam." Tak ada sahutan, berarti bukan Qenan. Lalu kuberanikan masuk, walau detak jantungku tak karuan. Setelah dirasa aman, aku langsung mandi, beberes dan berangkat ke salon.

__ADS_1


__ADS_2