
Tak! Tak!
Seperti suara langkah mendekati pintu kamar. Aku merapatkan tubuh ke samping ranjang Karel. Suasana semakin terasa mencekam, ditambah lagi lampu mulai berkedip-kedip.
"Sayang, aku takut," bisikku ke telinga Karel.
Sssss!!
Suara desisan seperti suara ular. Aku bergidik, kembali terbayang kenangan hina di masa lalu.
"Apakah siluman itu kembali lagi? Ah! Jangan sekarang, Tuhan. Tolong lindungi kekasihku." Kupeluk tubuh Karel sekuatnya.
Benar saja, hal yang aku takutkan ternyata terjadi. Siluman ular itu, kini sudah berada dalam ruangan. Sepertinya mbah Sugiono ingin membalas dendam.
"Tidak! Kamu jangan mendekat, jangan sentuh dia," ucapku sambil terus melindungi tubuh Karel.
Hahahahah!
Makhluk itu tertawa puas, ia seakan sudah menemukan kelemahan kekasihku. Tentu saja lemah, karena dalam keadaan koma begini, apa yang bisa diperbuat?
"Aku mohon, bunuh saja aku, jangan dia." Berusaha membujuk siluman tersebut, sambil menangkup di lantai.
Sssss!
Siluman itu kembali berdesis, bola matanya berwarna merah menyala. Aku tahu tatapan itu penuh benci dan dendam, percuma juga aku memohon padanya.
Berusaha menghadangnya dengan tiang infus portabel. Namun, sia-sia saja, aku malah terpental ke lantai akibat kibasan ekor makhluk jahanam itu.
Wuusss!
Cahaya berwarna biru melesat tajam masuk dari jendela, kini aku benar-benar dibuat ternganga. Ada makhluk lain hadir di tengah-tengah kekacauan ini.
"Malaikat?" bisikku dalam hati, karena sosok makhluk bersayap putih berdiri tepat di depanku.
Sinar biru seukuran bola kasti keluar dari telapak tangannya. Aku berusaha melihat wajah makhluk tersebut, tetapi masih terhalang oleh sayapnya yang terus mengepak-ngepak.
Pertarungan sengit pun dimulai, aku berlari ke atas ranjang, melindungi tubuh Karel dari benda-benda yang beterbangan. Sesekali malaikat penolong itu terpepet ke belakang, di saat itulah aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Senyumnya dan tatapan mata itu ...
"Karel?" bisikku tak percaya, wajahnya persis, tak ada beda sedikit pun dengan orang yang kucintai.
Selang lima menit lamanya, pergumulan itu berakhir. Siluman ular tiba-tiba menghilang, setelah mendapatkan pukulan tepat di kepalanya.
"Tidurlah," ucap makhluk yang kukira malaikat itu. Ia membelai rambutku, kemudian meniupkan aroma bunga lavender ke wajahku.
***
Paginya aku dibangunkan oleh suara suster yang sedang memeriksa kondisi Kenan. Tak ada tanda-tanda kerusakan benda dalam ruangan ini, semuanya masih sama, dan susunannya masih seperti yang kemarin.
"Agh! Apakah aku hanya bermimpi? Tetapi itu sangat terasa nyata. Hah, entahlah. Aku bingung dan lelah sekali," cebikku dalam hati.
__ADS_1
"Bu Rafe enggak pulang dulu?" tanya seorang suster.
"Enggak, Sus. Aku mau jagain Karel sampai siuman," jawabku sambil mengucek-ngucek mata.
"Sebaiknya pulang dulu, nanti ada yang akan jagain Pak Karel, Bu."
"Siapa?"
"Seingat saya, namanya Clara ...."
"Clara siapa?" tanyaku memotong ucapan suster.
Mendengar nama perempuan, rasa cemburu pun mulai timbul. Curiga, berpikir kalau Karel punya pacar yang lain selain aku.
"Selamat pagi!" Suara merdu itu berhasil membuyarkan lamunan sesaat.
Baru saja mencoba mendinginkan dada yang sempat memanas akibat cemburu, perempuan yang bernama Clara itu sudah berdiri di samping tempat Karel berbaring.
"Sial!" gerutuku.
Perempuan itu mengangkat kepalanya, kulihat matanya memerah, dia menangis. Itu membuatku semakin curiga.
"Nama kakak--Rafe--ya?" tanyanya membuka percakapan yang tak ingin kuawali.
"Iya," jawabku sesingkatnya.
"Kenalkan, namaku Clara, kak." Ia mengulurkan tangan sambil memasang wajah ramah tamah dan senyuman yang mungkin ikhlas.
"Oppa pernah cerita," jawabnya sambil senyum-senyum nggak jelas.
"What? Oppa, emangnya kamu baru pulang dari Korea, ya?" tanyaku ketus.
"Iya, Kak. Mungkin Oppa belum pernah cerita tentangku pada kakak," ujarnya, kemudian ia tertawa kecil.
Aku semakin gemas sekaligus penasaran, sampai di manakah gadis bermata sipit ini mengenalku dan Karel? Lagian kenapa Karel menceritakan aku pada pacarnya yang lain?
Ingin beranjak dari ruangan ini sesegera mungkin. Namun, itu hanya akan membuat perempuan itu bebas menyentuh Karel. Bisa saja ia akan mengecup kekasihku setelah pergi dari sini.
"Oh! Tidak ... tidak, Karel adalah milikku, ia sudah melamar dan kami akan menikah setelah ini," gumamku pelan.
"Ada apa, Kak?" tanya Clara berhasil membuatku kaget lagi.
"Enggak apa-apa," jawabku, lalu melempar pandangan ke luar jendela.
Gadis itu tertegun melihat sikapku yang tak ramah, mungkin ia tahu kalau aku sedang menahan rasa yang tak bisa dihindari oleh kaum wanita.
"Kalau boleh tahu, sejak kapan kamu mengenal Karel?" tanyaku kemudian.
"Udah lama, Kak."
__ADS_1
"Berapa lama?" tanyaku lagi.
"Hmmmm ... sejak aku bisa mengenal orang," jawabnya santai.
"Maksudnya apa, sih? Coba jelaskan secara detail." Aku mendesak Clara, karena jawabannya terlalu bertele-tele menurutku.
"Kakak cemburu, ya?" tanya dia tanpa basa basi.
Malas berdebat, kuputuskan untuk mengunci mulut tanpa menoleh lagi padanya. Kurogoh tas cokelat yang berada di atas meja, kemudian mengambil ponsel dan pura-pura sibuk mengerjakan sesuatu.
Suasana dalam ruangan ini menjadi hening, sesekali hanya terdengar langkah para suster dan pasien yang berlalu-lalang di luar sana.
"Oppa enggak pernah membahas tentang aku, Kak?" Lagi-lagi Clara membuat muak.
"Enggak," jawabku ketus, tanpa memikirkan penilaian apa yang akan kuterima darinya.
"Hehehe ... sepertinya kakak salah paham padaku. Aku ini sepupu orang yang kakak cintai, lho," ujarnya yang membuat wajahku memerah menahan malu.
Malu karena sudah salah sangka dan berperilaku tak ramah sama sekali. Wajar saja menurutku, karena Clara tidak bilang dari awal kalau dia adalah sepupu Karel.
"Maaf, soalnya itu ...."
"Iya, Kak. Aku paham, kok. Heee." Clara tersenyum, lalu menghampiri dan memelukku.
"Baiklah, aku titip Kenan dulu, ya. Nanti setelah mandi dan membawa beberapa potong pakaian, aku balik lagi ke sini," ujarku pada Clara.
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan." Clara mengantarku sampai ke halaman rumah sakit.
Sesampainya di rumah Karel, aku langsung mandi dan mengambil keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit. Tidak lupa membawakan makanan untuk Clara, kemudian aku berangkat lagi setelah berpamitan pada para asisten rumah tangga.
Siapa yang akan menyangka, nasib naas kembali menghampiri. Taksi yang aku tumpangi membawaku jauh dari perkotaan.
Karena kelelahan, aku pun tertidur dan bangun setelah berada di gubuk tua di tengah hutan yang masih asri.
"Bangun, Sayang!" Aku mendengar suara yang tak asing di telinga.
"Qenan?" Nyaris saja jantung ini melompat ke luar. Setakut-takutnya pada siluman ular itu, lebih takut pada manusia yang pernah aku cintai ini.
"Welcome cintaku." Qenan menyeringai persis seperti seorang penjahat yang menjijikkan di mataku.
"Mau apa kamu?" tanyaku dengan bibir yang mulai gemetaran.
"Ck! Jangan terlalu naif jadi orang, kamu kangen, kan, samaku?" Ia mulai meraba rambutku, perlahan, lalu dijambak sangat keras. Aku menjerit kesakitan.
"Biadab!"
"Wih, mulai berani kamu, ya, apakah si pengecut yang melarikan kekasihku itu masih hidup?"
"Kamu ora ...."
__ADS_1
"Yup! Tepat sekali. Tak ada orang lain yang boleh memilikimu selain aku." Qenan langsung memotong ucapanku.
Aku menangis sejadi-jadinya, ingin melawan tak bisa. Tangan dan kaki terikat, hanya mulutku saja yang bebas bergerak dan mencerca dengan kelakuan mantan kekasihku itu.