Susuk Mustika Ular

Susuk Mustika Ular
Rumah Mewah Sebagai Hadiah


__ADS_3

Bau bunga melati menguar di udara, mataku liar menelisik di setiap sudut kamar, sementara Qenan masih sibuk mempersiapkan dirinya. Ia tersenyum penuh arti, dan napasnya tak lagi normal terdengar di gendang telingaku.


"Ada apa?" tanya Qenan heran melihatku seperti orang yang sedang mencari-cari sesuatu.


"Eh, anu, lampunya tolong dimatikan," pintaku gugup.


"Oke," jawabnya mantap.


Qenan mulai mendekat lagi.


Mulutku bungkam, membiarkan ia melakukan apa yang ingin dilakukannya. Kini hanya ada suara hewan malam yang terdengar, sesekali beradu dengan suara rintihan menahan sakit dari mulutku ini.


Luntur sudah segalanya, penyesalan mungkin selalu ada, tetapi pengharapanku lebih besar dari itu. Berharap Qenan benar-benar menepati janjinya, menikahiku bulan depan.


"Rafe, jangan takut." Qenan kembali berbisik di telingaku. Aku hanya mengangguk tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Kamu menyesal?" tanya Qenan lagi. Aku hanya menggeleng lesu.


"Kenapa kamu tidak berbicara, Sayang?"


"Enggak apa-apa, Sayang. Aku mandi dulu, ya." Sambil memegang pipinya dengan kedua telapak tangan, aku berkata.


Jam sebelas malam, Qenan berpamitan pulang ke rumahnya. Tidak lupa ia mengecup keningku dengan mesra.


"Aku pulang dulu, ya, sayang. Sampai ketemu besok di kantor," ucap Qenan sambil melambaikan tangannya.


"Eh, tunggu, Yang."


"Iya?"


"Besok aku cuti, ya?"


"Lho, kenapa?" ucap Qenan balik bertanya.


"Aku capek dan ...."


"Owh, iya iya ... aku paham." Qenan memegang kepalaku, lalu mengacak-ngacak rambutku yang belum kering.


***


Pagi-pagi sekali aku langsung berangkat mencari ayam cemani. Tak begitu sulit, karena aku sudah mendapatkan info akurat dari Mbah Sugiono.


Setiba di lokasi tersebut, aku langsung disambut oleh tuan rumah, si pemilik ayam cemani itu.


"Selamat datang, Nona," ucap Nyai Keling menyambutku ramah.


Nyai Keling adalah teman dekat Mbah Sugiono. Mereka berdua selalu terhubung saat pasien Mbah Sugiono membutuhkan ayam cemani atau saling membantu dalam hal-hal yang berhubungan dengan mistis.


"Sudah berapa banyak wanita yang ditiduri oleh siluman ular itu," gerutuku dalam hati.


"Silahkan masuk, Nona," tawar Nyi Keling sambil merentangkan tangan kanannya.


"Baik, Nyi," ucapku.

__ADS_1


Suasana rumah Nyi Keling tidak jauh beda dengan rumah Mbah Sugiono. Suhu dalam rumah ini terasa dingin, padahal tidak memakai AC maupun kipas angin. Bau kemenyan pun terasa kuat di indra penciumanku. Dan beberapa tengkorak manusia berjejer di atas meja, seperti meja persembahan, lengkap dengan berbagai macam bunga dan buah-buahan.


"Hehehe ... kamu heran, ya?" tanya Nyi Keling mengagetkanku.


"Enggak, Nyi. Tapi kalau boleh tahu, itu asli tengkorak manusia, ya?"


"Menurutmu?" tanya Nyi Keling menatap ke arahku sambil menggosok-gosok giginya dengan daun sirih.


"Karena enggak tahu, makanya aku bertanya pada, Nyi Keling," ucapku sambil menyengir.


"Sudahlah, ayo kita ke belakang!"


Halaman belakang begitu luas, kandang ayam tersusun dengan rapi, walau kumuh dan bau. Beberapa pohon beringin tampak berdiri kokoh mengelilingi pagar halaman belakang. Akar-akar pohon itu saling bertautan, ada yang membentuk sebuah bangku dan dipan-dipan tempat bersantai.


"Kamu mau yang mana, Nona?" tanya Nyi Keling sambil menimang-nimang ayam di tangannya.


"Yang ini berapa, Nyi?"


"Satu juta lima ratus."


"Waduh, satu ekor, Nyi?


"Iya, berhubungan kamu harus membeli sepasang, aku berikan harga khusus untukmu."


"Terima kasih, Nyai. Berapa sepasang?"


"Ambil dua juta lima ratus saja," ucap Nyi Keling sambil memamerkan giginya yang terlihat merah kehitaman.


Sambil menenteng karung yang berisi dua ekor ayam, aku berpamitan pada Nyi Keling. Akan tetapi, tengkorak-tengkorak manusia itu masih membuatku sangat penasaran. Hingga mata ini tak lepas melirik ke meja persembahan itu, saat berjalan menuju keluar.


Dreet! Dreet!


Ponselku bergetar beberapa kali.


"Halo, Sayang. Kenapa ponselmu tidak aktif dari pagi?" tanya Qenan saatku mengangkat telepon darinya, setiba di rumah kontrakan.


"Aku ketiduran, Sayang. Maaf, ya," jawabku berbohong.


"Ya sudah, entar malam aku ke sana."


"Mau ngapain, Sayang?"


"Lho, kok gitu pertanyaannya?"


Gelisah sesaat memikirkan kalau Qenan ke rumahku lagi, nanti dia bakalan mendengar suara ayam-ayam tersebut. Pasti akan menimbulkan kecurigaan karena enggak mungkin juga aku memelihara ayam dalam rumah.


"Tapi jangan lama-lama, ya. Aku takut ketahuan oleh pemilik kontrakan kalau aku memasukkan laki-laki ke dalam rumah," kataku kemudian memberi alasan yang tepat.


"Ya, enggaklah, Sayang. Aku ke sana cuma mau jemput kamu aja, kok. Sekalian beberes, ya, jangan lupa masukan semua baju-bajumu ke dalam koper."


"Memangnya kita mau ke mana?"


"Mulai besok, cintaku akan tinggal di rumah sendiri."

__ADS_1


"Maksudnya, aku dibelikan rumah, gitu?"


"Yup, biar tidak ada halangan lagi ketika aku menemuimu," bisiknya mesra.


Mendengarkan perkataan dari Qenan, nyaris aku terpekik karena kegirangan. Namun, cepat-cepat kuatasi semua itu, agar tidak terkesan matre di matanya.


"Sudah, ya. Aku mau lanjut meeting dulu," ucap Qenan menutup sambungan telepon.


***


Malam pun tiba, aku langsung menyembunyikan sepasang ayam itu di dapur. Berharap ayam-ayam itu tidak menimbulkan suara gaduh sampai aku meninggalkan rumah ini.


"Kalian tinggal dulu, ya, besok aku jemput dan kita pergi bareng-bareng ke rumah Mbah Sugiono," kataku pada ayam, seperti orang gila.


Setelah berberes, dan menyusun koper-koper di ruangan tamu. Qenan pun akhirnya tiba.


"Sudah siap, Yang."


"Sudah," jawabku sambil tersenyum.


"Enggak pamitan dulu sama pemilik kontrakan, atau sewa kontrakan ada yang belum dibayar?" tanya Qenan penuh perhatian.


"Besok aja, Sayang," jawabku sambil menyeret satu koper kecil yang berisi alat kosmetik dan pakaian dalam. Sementara dua koper lagi dibawa Qenan dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


"Rafe, mulai besok kamu enggak usah kerja lagi, ya?"


"Lho, kok gitu, Yang?"


"Udah ... kamu duduk manis saja dalam rumah, sambil menungguku pulang kerja."


"Memangnya, kita mau tinggal bersama, ya?"


"Ya, belum. Nanti sesekali aku, kan, mampir ke tempat kamu, Sayang."


"Owh, gitu."


"Iyup," jawab Qenan sambil memegang daguku.


Laju mobil mulai pelan, kemudian masuk melewati pintu gerbang. Awalnya, aku mengira gerbang ini adalah pintu memasuki kompleks perumahan elit. Namun, setelah kuperhatikan, hanya ada satu rumah yang berdiri megah. Halamannya luas, sangat asri dengan pemandangan yang menghijau. Banyak pohon-pohon yang sudah dibonsai, dan banyak terdapat bermacam ragam bunga-bunga yang sedang bemekaran. Indah.


Qenan menepikan mobilnya di depan teras yang lumayan besar. Lama kuterpana, sampai tidak bisa mengucapkan apa-apa.


Cekreek!


Pintu utama terbuka lebar. Kalau bisa diumpakan dengan daun pintu, mungkin mata ini tidak kalah terbuka lebar. Serasa berada di dalam istana, walaupun aku belum pernah masuk ke dalamnya. Akan tetapi, suasana isi rumah dan dekorasinya, persis sekali dengan rumah-rumah yang aku lihat di televisi butut, yang sengaja kutinggal di kontrakan.


"Kamu suka enggak?" tanya Qenan.


Aku masih diam karena terlalu menikmati hadiah yang diberikan oleh Qenan. Tak sadar kalau ia terus bertanya sedari tadi.


"Hey! Kok diam saja, Sayang?" Qenan mendorongku pelan, ia meletakan satu tangannya di dinding, lalu menatapku sambil perlahan mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Iya, Sayang. Aku suka banget," ucapku membalas tatapan mata Qenan yang sudah mulai meneduh.

__ADS_1


__ADS_2