Syahadat Cinta Zakia

Syahadat Cinta Zakia
Bab 1


__ADS_3

***Rinai gerimis membasahi petala bumi, angin sepoi-sepoi meniup indah wajah gadis yang sedang tersenyum bahagia memulai harinya. bagaimana tidak, setelah lebih dari seminggu dirinya berada di kampung di karenakan Ayah tercintanya kembali kritis dan harus di rawat di Rumah sakit. Zakia bersyukur Tuhan masih memberi kesembuhan pada Ayahnya sehingga Zakia bisa kembali dengan tenang setelah mengetahui kondisi sang Ayah yang sudah membaik seperti biasa


Zakia Kairani, gadis yang rela merantau dan jauh dari orang tua di usianya yang masih tergolong sangat muda saat itu hanya untuk melanjutkan pendidikan nya di kota besar, bahkan saat anak-anak seusianya sedang menikmati masa remajanya. Zakia justru sedang banting tulang untuk membiayai dirinya dan juga sekolahnya hingga kini dirinya lulusan SMA. Zakia merupakan anak keempat dari lima bersaudara, kedua saudara laki-lakinya sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri, hal itu juga yang membuat mereka tidak leluasa lagi dalam membantu keluarga


Di tambah saat itu mata pencarian hanyalah menjual hasil kebun dan juga karet (getah) yang saat itu harganya sangat murah. Zakia memiliki seorang kakak perempuan dan juga adik laki-laki yang masih bersekolah dan juga tinggal bersama kedua orang tuanya di kampung. Adik Zakia melanjutkan sekolah dengan bantuan dari Zakia, hal itu yang membuat Zakia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kuliah di karenakan harus fokus membantu keluarga dan juga mencari uang untuk pengobatan sang Ayah


"Pinggir depan ya bang" Ucap Zakia pada supir angkot yang di tumpangi nya


Zakia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul delapan pagi. Zakia duduk di perkarangan toko sambil menunggu teman yang lainnya datang seraya memainkan ponselnya


"Astaga, ini anak ya udah balik nggak bilang-bilang, chat dariku juga nggak di balas. Aku pikir kamu di telan bumi disana" Ucap Maira nyerocos tanpa jeda


"Bisa nggak sih Mai kalau datang itu tarik nafas dulu, duduk dulu baru deh nyerocos, nggak takut keselek air liur sendiri apa" jawab Zakia sembari menarik tangan sahabatnya itu hingga terduduk di sebelahnya


"Itu karena aku tuh lagi kesal, tau nggak dari kemarin itu Fahmi nanyain kamu terus, kapan balik nya, udah ada kabar belum, sampai-sampai semua chat yang masuk dari dia semua. Aku kesal tau nggak sih"


"Ya ampun, kalau muak tinggal di blokir aja kali, gitu aja kok susah sih" balas Zakia dengan entengnya membuat Maira merasa geram

__ADS_1


" Ck! Kalau bukan karena kita sahabat udah dari dulu aku blokir kalian berdua, lagian apa susahnya sih Za buatmu menerima si Fahmi? kamu kan udah kenal dia lama, udah tau juga sifatnya seperti apa, jadi apa lagi?" Ujar Maira heran dengan Zakia yang terus kuat pada pendiriannya


"Mana mungkin aku pacaran sama sahabat sendiri, No Way, bagiku sahabat ya sahabat tidak akan pernah ku ubah menjadi pacar lagian kamu kan tahu sih kalau aku itu belum kepikiran buat yang namanya pacar-pacaran, Aku masih harus fokus mencari uang untuk membantu keluargaku Mai, udah yuk kita masuk. Aku udah kangen kerja mau ngumpulin uang lagi" Ucap Zakia seraya beranjak dari tempat duduknya


"Dasar wanita gila uang" balas Maira menoyor pelan kepala Zakia dan segera berlari untuk menghindari amukan dari sahabatnya itu


Bunyi Alarm membangunkan Zakia dari tidurnya, hari ini Zakia berencana untuk pergi beribadah ke Gereja Katolik yang setiap hari Minggunya dia datangi. Zakia mengikuti ibadah sampai dengan selesai, setiap pengkhotbah naik ke atas altar Zakia selalu membayangkan Ayahnya yang juga seorang Lektor/Pendeta di Gereja Katolik di kampung nya. "Semoga saja nanti kakak bisa di hubungi, sudah kangen sama Ayah" batin Zakia merindukan sang Ayah tercintanya


perkampungan Zakia terletak jauh dari kota, penduduk disana pun tidak semuanya memiliki HP seperti orang-orang di perkotaan pada umumnya. bahkan jaringan internet disana pun masih terbilang sangat sulit, jika ingin memberi kabar pada kerabat yang jauh terpaksa harus mendaki gunung dulu untuk mendapatkan jaringan, hal itu juga yang membuat Zakia tidak leluasa untuk memberi kabar pada keluarganya


Matahari terbenam hampir seluruhnya, Zakia dan juga teman-temannya yang lain bersiap-siap untuk menutup toko. " Ya Allah Za, itu dari tadi HP kamu berdering mulu, angkat dulu kenapa sih" Omel Maira


"Memang nya kalian mau kemana?" Tanya Maira penasaran


"Nggak ada kemana-mana. Aku juga capek tau mau istirahat, bagaimana kalau kalian berdua saja yang pergi kan satu kampus" Ujar Zakia memelas berharap sahabatnya itu mau menolong nya


"Jangan bilang kamu mau menghindar dari dia ya, makanya aku kamu tumbalkan" Balas Maira dengan menatap tajam ke arah Zakia

__ADS_1


"Selesai kan semua baik-baik Za, beri pengertian pada Fahmi. Aku yakin pasti dia juga akan menerimanya kok" lanjut Maira


Zakia berjalan menuju parkiran dimana Fahmi sedang menunggu nya, sebenarnya Zakia sangat tidak nyaman berjalan berdua saja dengan Fahmi setelah mengetahui perasaannya. Namun Zakia terus memikirkan perkataan Maira yang mengatakan semuanya harus di perjelas dari sekarang supaya Fahmi tidak lagi berharap padanya


"Hai, maaf ya lama, baru selesai tutup toko soalnya" sapa Zakia


"Aku nunggu sudah hampir lumutan disini" sahut Fahmi dengan berpura-pura kesal


"Lagi pula siapa yang minta di jemput? kan kamu sendiri yang maksa tadi" ujar Zakia sedikit tidak terima


"Astaga, begitu saja marah, udah ayo naik kita cari makan dulu, biasanya perempuan kalau marah-marah begini itu tandanya perutnya lagi kosong minta diisi makan" ucap Fahmi seraya menjalankan motor matic kesayangannya


Disepanjang perjalanan Zakia memilih lebih banyak diam, dia sebenarnya sangat kelelahan dan rasanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya. memang benar apa yang di katakan oleh kebanyakan orang, bahwa urusan perasaan itu sangat merepotkan. "Untung saja aku masih jomblo" gumam Zakia pelan


"Bagaimana kabar Ayah kamu Za? sudah sehat?" Tanya Fahmi memulai percakapan setelah beberapa saat terdiam dengan pikiran masing-masing


"Puji Tuhan, Ayahku sudah mulai membaik" balas Zakia dengan menikmati makanan yang di pesannya

__ADS_1


"Za, apa memang kita tidak bisa berhubungan lebih dari seorang sahabat? kamu tau tidak sudah berapa banyak kamu menolak ku? tidak bisakah kali ini aja kamu menerima ku?" Pinta Fahmi dengan mengelus lembut punggung tangan Zakia


Zakia menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Fahmi, sungguh dia merasa sangat muak membahas hal yang sama dengan orang yang sama pula. Apa sikapnya selama ini tidak di mengerti oleh Fahmi? atau justru sudah mengerti tapi menyangkalnya. padahal jelas sudah Zakia memberi jarak padanya, apa hal itu juga tidak membuatnya sadar? batin Zakia***


__ADS_2