
Terhitung sudah tiga hari Zakia di rawat di Rumah sakit, kini ia diperbolehkan untuk pulang di karenakan kondisinya sudah membaik seperti semula. Rayyan dan juga Maira selalu setia di sampingnya meskipun berulang kali Zakia menolak untuk di antar pulang ke kost tempat Ia tinggal
"Sudah sampai, sekarang Zakia istirahat, besok jika masih lemas jangan kerja dulu" Ujar Rayyan dengan senyum manisnya
"Iya bang, makasih ya sudah repot-repot nganterin Zakia. Bye bang Rayyan, Maira besok ketemu di tempat kerja ya" ucap Zakia melambaikan tangan
.
.
.
Pagi ini Zakia bangun lebih awal dari biasanya, Ia melirik jam di nakas yang masih menunjukkan pukul lima subuh, sudah berulangkali Ia mencoba untuk memejamkan matanya kembali namun sepertinya pagi ini matanya sedang tidak bisa untuk di ajak berkompromi. Zakia kembali mendengar suara itu, suara ayat-ayat Al Qur'an yang di lantunkan di keheningan subuh dengan suara merdu
Entah mengapa Zakia begitu penasaran, suara itu masih menggema di Masjid dekat dengan tempat tinggalnya. Zakia keluar dari kamarnya, pelan-pelan ia turun ke lantai satu lalu menuruni tangga kebawah dekat dengan pintu keluar. jalanan itu masih sunyi, rumah-rumah di sekitarnya pun masih tertutup rapat. Namun Masjid itu tampak terang, Zakia tidak memiliki keberanian untuk melihat lebih dekat ia duduk dan mendengarkan ayat Al Qur'an yang terdengar lebih jelas di telinga nya
Siang itu matahari bersinar terang, musim panas benar-benar terasa. Zakia yang masih duduk di kantin merasa enggan untuk melangkahkan kakinya, ia terus menyeruput teh manis dingin kesukaannya itu hingga tandas tak tersisa, hawa panas itu benar-benar membuat Zakia sangat kehausan bagaikan sedang berada di gurun pasir. waktu istirahatnya pun telah usai, mau tidak mau dia harus beranjak dari tempat duduknya untuk melanjutkan kembali pekerjaan nya.
"Za, nanti sebelum pulang, Abang minta salinan catatan barang masuk yang kemarin ya, soalnya yang punya Abang entah tercecer dimana" pinta Rayyan pada Zakia yang sedang bersiap-siap untuk menutup laptopnya
"Oh, iya nanti Zakia antarkan ke ruangan Abang"
"Tidak usah, letakkan saja disini nanti biar Abang aja yang ambil"
"Oke Bos!" ujar Zakia dengan senyuman yang selalu membuat jantung Rayyan berdetak tak karuan
__ADS_1
.
.
.
Di perjalanan menuju pulang, seperti biasa Zakia menaiki Angkutan umum yang berhenti tepat di depan kost tempat Ia tinggal. Saat kembali melewati Masjid Raya dengan tiba-tiba Zakia meminta turun pada sang supir angkot yang di tumpangi nya, entah apa yang mendorong Zakia untuk melangkahkan kakinya kembali ke Masjid bernuansa islami itu.
"Ini kawasan berbusana muslim ya Kak" Ucap gadis berjilbab coklat itu memberi sebuah selendang berwana hitam kepada Zakia untuk menutupi rambut Zakia
Zakia mengenakannya dan berjalan menuju kedalam Masjid, keindahan Masjid itu kian bertambah di baluti cahaya matahari yang mulai terbenam berwarna jingga kemerahan. orang-orang yang tadinya menikmati suasana sore di halaman Masjid yang luas itu satu persatu memasuki ruangan untuk menunaikan ibadah mereka. Suara adzan yang berkumandang menggema di telinga Zakia, hatinya kembali berdesir, jantungnya berdegup kencang dan darahnya mengalir dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya
Zakia memberanikan diri masuk keruangan dimana para wanita melaksanakan shalatnya, ini pertama kalinya Zakia menyaksikan orang shalat di depan matanya. Tanpa terasa sebutir bening jatuh membasahi pipinya. Zakia merasa terharu dan juga bingung dengan dirinya
"Astaga, apa yang aku lakukan? kenapa aku seperti ini?" Zakia bermonolog seraya berjalan keluar
"Zakia... kamu ngapain disini?" Tanya Rayyan yang baru saja selesai mengerjakan kewajiban nya
Zakia menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat Rayyan sudah berada di dekatnya "A..ku, aku hanya berteduh aja Bang, tadi habis jalan-jalan dekat sini" jawab Zakia gugup
Rayyan melihat selendang hitam yang masih menutupi rambut Zakia bahkan dari awal Rayyan sudah mengetahui bahwa Zakia sudah berada disini sejak sore tadi
"Benarkah, lalu untuk apa kamu memakai ini?" tunjuk Rayyan pada penutup kepala yang di kenakan Zakia
Zakia meraba kepalanya dan segera berniat melepas selendang hitam yang masih digunakan nya itu, namun Rayyan mencekal lengan nya
__ADS_1
"Pakai saja, Cantik" ujar Rayyan membuat pipi Zakia merona mendapatkan pujian dari Rayyan laki-laki yang juga membuat hatinya berdebar-debar
"Kita tunggu hujan nya reda ya, Abang antarkan saja nanti biar lebih cepat sampainya" ujar Rayyan tanpa bertanya lebih jauh pada Zakia mengenai kenapa ia bisa berada disini, biarlah Zakia sendiri yang bercerita padanya nanti jika ia rasa waktunya sudah tepat
.
.
.
Akhirnya Zakia tiba dirumah dengan pakaian yang sedikit basah, Rayyan segera bergegas pulang setelah ia mengantarkan Zakia. di perjalanan menuju pulang Rayyan tak hentinya berdoa berharap wanita yang sedari lama di cintai nya itu mendapatkan hidayah hingga akhirnya memeluk Agama yang sama dengan nya. Agama Islam
Zakia merebahkan tubuhnya, ia memandang langit-langit kamar nya dengan nanar, ia menghela nafas panjang untuk hari yang melelahkan hingga tanpa sadar matanya perlahan tertutup kala kantuk menghampiri nya
Zakia berada di gedung putih yang sangat mewah, dindingnya di kelilingi oleh hiasan kaligrafi yang sangat indah, beberapa orang ramai memakai pakaian yang serba berwarna putih memandangi dirinya. "Apakah aku sudah mati? Apa sekarang aku berada di surga?" pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Zakia seraya memandang sekeliling nya
Seorang wanita paruh baya mendekati Zakia, wajah itu bersih, kedua matanya tajam dan cemerlang, suaranya jernih dan begitu fasih melantunkan ayat yang terdengar tidak asing di telinga Zakia. Wanita itu menggenggam tangan Zakia dan membawanya ketempat yang di kelilingi oleh wanita-wanita yang serupa dengannya
Wajah itu sedemikian anggun dan mempesona, wajah yang segar dan menebar kan kebahagiaan bagi yang melihatnya. Zakia duduk di tengah-tengah mereka yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara menggema, sebagian dari mereka memeluk Zakia dengan haru serta mengucapkan rasa syukur yang tiada henti. "Alhamdulillah" terdengar jelas di telinga Zakia
.
.
.
__ADS_1
Alarm di ponsel Zakia terus berdecit-decit, Ia masih berada diantara sadar dan tidak, setelah beberapa menit Zakia bangun dengan peluh keringat membasahi tubuhnya wajahnya sembab ia menyeka air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya. "Ya Tuhan, apa arti dari mimpiku ini?" Gumam Zakia
Zakia mengambil ponsel yang terletak di bawah bantalnya, ia melihat beberapa panggilan terlewati dari Maira. Zakia menyandarkan punggungnya pikiran nya masih di penuhi dengan pertanyaan mengenai arti dari mimpinya tersebut.