Syahadat Cinta Zakia

Syahadat Cinta Zakia
Bab 18


__ADS_3

Acara yang di nanti-nanti pun akhirnya tiba, Zakia menyusul keluarga nya untuk melaksanakan acara pemberkatan pernikahan sang kakak yang di adakan di sebuah gereja Katolik yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Zakia mengenakan baju berwarna pink yang telah di sediakan oleh Ibunya dengan riasan seadanya namun tetap menampilkan Zakia yang selalu cantik dengan kesederhanaan nya.


Zakia sangat terharu melihat kakak perempuannya berjalan menuju altar di temani dengan Ibunya dan juga Edi yang menggantikan posisi sang Ayah yang telah tiada. Misya begitu cantik dengan balutan kebaya berwarna putih dan senyuman yang tidak pernah pudar di bibirnya saat melihat kearah mempelai pria yang sedang menunggunya dengan tatapan terpana


Acara yang begitu sakral terlaksana dengan begitu khidmat di iringi dengan tangis bahagia. Zakia berjalan menghampiri Misya dan memeluk nya dengan begitu erat di ikuti oleh beberapa kerabat dan juga teman-teman Misya yang turut hadir disana


"Selamat berbahagia kak, semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga Kakak nantinya, dan semoga cepat dapat momongan" Ucap Zakia tulus seraya kembali memeluk Misya dengan mata yang berkaca-kaca


"Amin! semoga tahun depan kamu juga nyusul ya" balas Misya, yang hanya di jawab dengan sebuah senyuman oleh Zakia


Acara berlangsung hingga sore hari membuat Zakia sedikit kelelahan karena ia juga ikut membantu melayani tamu-tamu yang berdatangan. sehingga membuat puasa pertamanya menjadi begitu terasa, Zakia sudah sangat lemas dan tenggorokan nya juga sudah sangat kering meminta untuk segera di basahi. Namun lagi-lagi Zakia berusaha sekuat tenaga untuk terus melanjutkan puasanya di sebabkan satu jam lagi waktu adzan Maghrib akan tiba


Zakia sangat bersyukur tidak ada satu orangpun yang curiga pada dirinya, saat Tante Celina menawarkan dirinya untuk makan siang bersama Zakia menolak dengan alasan sudah makan lebih dulu. Zakia juga sangat bersyukur dapat mengerjakan shalatnya tanpa harus merasa khawatir karena semua anggota keluarganya sedang sibuk dan pastinya tidak akan ada yang memperhatikan nya


Sedangkan di tempat lain, Umi Yasmin sedang mencemaskan Zakia yang tidak memberi kabar sama sekali, bahkan terlihat saat ini wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tidak menyentuh makanannya, meskipun sudah berulangkali sang suami memintanya untuk tidak terlalu berfikiran negatif tentang keadaan Zakia


"Zakia akan baik-baik saja Umi. Umi lupa bahwa Zakia pernah bilang kalau koneksi jaringan di kampung nya itu sangat buruk jadi mungkin itu sebabnya dia belum juga memberi kabar pada kita" ucap Ustadz Burhan mencoba memberi pengertian pada istrinya

__ADS_1


"Iya, tapi tetap saja Bi, umi khawatir bagaimana kalau Zakia mendapatkan perlakuan seperti Abi dulu? umi takut dia tidak sekuat dan seteguh Abi. apalagi Zakia masih baru belajar" Ujar Yasmin terlihat begitu khawatir


"Berhusnudzon saja sama Allah, kalaupun hal itu terjadi pada Zakia, itu berarti Allah sedang menguji keimanan Zakia"


.


.


.


Zakia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu shalat Maghrib. Zakia segera menuju kamar tidurnya dan menguncinya dari dalam, Ia mengambil sebuah roti dan juga minuman yang ia simpan didalam koper bawaannya.


"Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang"


Zakia melafazkan doa sebelum dirinya berbuka puasa pertama seorang diri. tidak menunggu waktu lama ia segera mengerjakan shalatnya sebelum keluarganya mencari dirinya


Pagi harinya Zakia dan juga seluruh keluarganya pergi berziarah ka makam sang Ayah untuk memperkenalkan anggota keluarga baru mereka yang tak lain adalah suami dari Misya. Dulu saat masih perencanaan pertunangan Abraham masih ada di antara mereka, hanya saja takdir tidak mengijinkan Abraham untuk melihat anak perempuan nya itu menikah

__ADS_1


Langkah kaki Zakia begitu berat sekaligus perasaan haru memasuki lahan sunyi yang hanya di tempati oleh satu makam saja. Tidak terasa sudah setahun berjalan Ayah tercintanya pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya disini. Zakia memandang gundukan tanah itu tanpa bisa menahan air matanya, hatinya begitu merindukan kasih sayang yang tulus dari ayahnya.


Zakia, Misya dan juga Leo menaburi bunga di atas makam Abraham, Ayah mereka dengan perasaan sedih seketika mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Leo mengelus lembut salib yang sudah tidak lagi memperlihatkan nama sang Ayah dengan sendu. Ia tidak jauh berbeda dengan kedua kakaknya yang juga merasakan rindu yang teramat sangat


"Ayah, Zakia minta maaf jika saat ini masih belum mampu untuk jujur pada Mama dan juga yang lainnya. Namun Zakia janji, besok sebelum Zakia pulang Zakia akan mengatakan yang sejujurnya sama Mama terlebih dahulu, maaf juga yah jika mungkin pilihan Zakia ini membuat Ayah kecewa ataupun merasa terkhianati tapi ini sudah menjadi pilihan Zakia yah, semoga Ayah mengerti." gumam Zakia dalam hatinya dengan terus memandangi makam Ayahnya


Zakia mengusap air matanya, menarik napasnya perlahan kemudian membenahi kembali hatinya yang masih di rundung rasa sedih. Dari awal niat dirinya datang kesini adalah untuk memberikan kabar tentang kebahagiaan yang sedang menyelimuti keluarga mereka meskipun tanpa kehadiran sang Ayah. Namun tidak bisa di pungkiri jika tempat ini selalu saja sukses membuat air mata Zakia kembali turun membasahi pipinya


"Zakia, sini makan rame-rame, kebetulan tadi Tante sudah menyiapkan semuanya jadi kita bisa makan sama-sama disini. jangan terlalu larut dalam kesedihan, Ayah pasti juga tidak suka melihatnya" ujar Celina seakan mengerti kesedihan yang masih Zakia rasakan hingga saat ini


"Duluan saja Tan, Zakia masih mau berkeliling dulu, sudah lama Zakia tidak memakan hasil kebun sendiri, salak misalnya" jawab Zakia berusaha untuk tidak membuat Celina dan juga yang lainnya merasa curiga


"Oh ya sudah, nanti Tante sisakan untuk kamu ya" lanjut Celina sembari melanjutkan kegiatan makannya


Zakia kembali menghela napas panjang nya entah sampai kapan ia bisa menyembunyikan kebenarannya pada keluarganya. namun yang pasti hari ini bukan lah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya apalagi saat ini keluarga nya masih dalam suasana bahagia atas pernikahan Misya kakaknya


Zakia dapat melihat aura bahagia dari wajah Ibunya yang tiada hentinya tersenyum, Zakia ikut bahagia saat melihat wanita yang paling di sayangi nya itu bahagia. walaupun tidak menutup kemungkinan di hati kecilnya ada rasa sedih yang menyeruak di sebabkan dari saat ia tiba hingga sekarang ini ibunya seakan melupakan kehadirannya, namun Zakia tetap berusaha untuk tidak mempermasalahkan nya

__ADS_1


"Terlepas dari apapun yang membuat Mama seakan lupa dengan hadirku disini bahkan mungkin saja Mama memang tidak pernah mau perduli. akan tetapi Zakia tetap sayang Ma, sampai kapan pun itu Zakia akan selalu menunggu Mama untuk bisa menyayangi aku" gumam Zakia tanpa mengalihkan pandangannya pada Leni Ibunya


__ADS_2