
Malam itu setelah selesai belajar bersama Umi Yasmin dan anak-anak yang lain. Zakia kembali ke kamarnya untuk beristirahat sedangkan Fatria dan juga Farida entah pergi kemana sampai saat ini belum kembali juga, membuat Umi Yasmin sedikit khawatir dengan kedua anak perempuannya itu
Zakia membaringkan tubuhnya berniat untuk segera tidur di sebabkan esok hari ia akan banyak kesibukan, apa lagi menjelang puasa ini akan banyak sekali barang-barang baru yang harus di restock dan juga di periksa. Namun saat matanya sudah mulai meredup Zakia mendengar bunyi panggilan di ponselnya, dengan sedikit malas ia mengambilnya di meja dekat tempat tidurnya
"Hallo" ucap Zakia malas-malasan di sebabkan siapa yang menelepon nya jam tidur seperti ini
"Hallo, Zakia , kemana saja sih? dari tadi aku sudah kirim pesan tapi tidak ada balasan sama sekali" ujar seorang wanita di seberang sana dengan nada yang sedikit kesal
Zakia melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan seketika sebuah senyuman terbit di bibir manisnya
"Maaf, maaf kak, Zakia lagi belajar tadi" Ujar Zakia tanpa sadar
"Belajar? kamu belajar apa?" Tanya Misya tak mengerti
seketika Zakia tersadar dengan keceplosan nya. "Ah, itu Zakia lagi belajar untuk kerjaan besok" jawab Zakia terbata
"Ini Mama mau bicara sama kamu"
"Hallo" Suara itu terdengar di telinga Zakia dengan sangat merdu, sungguh Ia sangat merindukan Ibunya
"Hallo Ma, apa kabar? Mama sehat?" Tanya Zakia lembut
"Sehat, Mama cuma mau bilang Minggu depan Misya akan melangsungkan pernikahan. jadi kalau kamu bisa pulang ya pulang kalau tidak juga nggak apa-apa. Cuma Mama minta kirimkan uang untuk membantu pesta pernikahan kakak kamu, soalnya Mama mau membeli baju seragaman disini" ujar Leni menjelaskan
Zakia terdiam sejenak, hal-hal yang begitu penting nya selalu saja di ketahuinya saat-saat seperti ini. bahkan saat pertunangan Misya kemarin juga ia ketahui dari Celina Tantenya. apa sebegitu tidak pentingnya kehadirannya bagi sang Ibu? mengapa hanya saat di butuhkan saja ia baru di cari? Zakia bukan ingin di spesial kan karena dapat menolong Ibunya, hanya saja ia juga butuh sedikit saja kasih sayang di tujukan padanya
Zakia menghela nafas panjang sebelum kembali berbicara dengan Ibunya. " Iya Ma, nanti akan Zakia transfer dan nanti Zakia akan minta ijin libur beberapa hari untuk melihat pernikahan kak Misya" ujar Zakia dengan mata berkaca-kaca
"Ya sudah kalau begitu" ujar Leni mematikan sepihak panggilan yang berlangsung tanpa berterima kasih ataupun bertanya keadaan Zakia
__ADS_1
Zakia tersenyum miris menertawakan dirinya sendiri, ia sudah terlanjur bahagia mengira jika Ibunya menelpon karena mengkhawatirkan dirinya yang sudah lama tidak bertukar kabar. sepertinya Zakia terlalu percaya diri hingga membuatnya jatuh ke jurang yang paling dalam
Zakia melihat tanggal pernikahan Misya yang bertepatan dengan puasa pertama, seketika kekhawatiran muncul di hatinya. Zakia belum siap untuk berkata jujur pada keluarganya, ia masih sangat takut dengan penolakan keluarganya terlebih-lebih Ibunya. Apa jadinya jika nanti dirinya ketahuan, akankah dirinya di usir? atau bahkan lebih parah dari itu. setelah beberapa saat berkecamuk dengan diri sendiri, akhirnya Zakia tertidur dengan membawa luka dan juga kekhawatiran dalam hatinya
.
.
.
"Kenapa tuh muka pagi-pagi begini sudah di tekuk begitu?" Tanya Maira melihat wajah kusut sahabatnya
"Aku lagi Galau Mai, semalam Mama aku memberi kabar bahwasanya Minggu depan kakak aku akan menikah, dan apa kamu tahu? itu bertepatan dengan puasa pertama kita" Jawab Zakia dengan suara rendah kehilangan semangat kerja
Maira mengerti kekhawatiran yang di alami oleh Zakia, andaikan ia berada di posisi Zakia sekarang ini pasti dia juga akan mengalami hal sama
"Mungkin sudah saatnya kamu menceritakan semuanya kepada keluarga kamu Za, jelaskan pelan-pelan. Aku yakin keluarga kamu pasti akan menerimanya jika kamu berkata jujur dan memberi tahukan alasannya. Tidak ada seorang Ibu yang tega menyakiti Anaknya meskipun untuk saat itu Ibu kamu mungkin akan kecewa, tapi lambat laun mereka juga pasti akan mengerti kok" ujar Maira menenangkan
Zakia tidak menceritakan perihal keluarganya kepada siapapun, meskipun itu Maira sendiri. Zakia tidak ingin orang-orang mengetahui kehidupan pribadi keluarganya.
Sepulang bekerja Zakia menyempatkan diri jalan-jalan sebentar mencari angin untuk menjernihkan pikirannya. Hari ini wajahnya terlihat sangat letih begitu juga dengan pikirannya. Zakia duduk di sebuah taman yang menjadi salah satu tempat favoritnya saat sedang ingin menyendiri itu
"Boleh saya duduk disini?" suara laki-laki itu mengagetkan Zakia yang sedang menikmati Ice Cream pesanannya
uhuk uhuk uhuk
Zakia terbatuk di sebabkan tersedak oleh Ice Cream yang di makannya, ia menoleh pada sumber suara dengan wajah yang kesal
"Maaf, maaf. saya mengagetkan ya" Tanya laki-laki itu dengan senyum merasa bersalah
__ADS_1
Raut wajah Zakia yang semulanya terlihat kesal kini berubah saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya itu. tadinya ia ingin marah namun saat melihat siapa orang nya membuat Zakia mengurungkan niatnya
"Eh, ustadz Rayhan. iya nggak apa-apa" ucapnya sedikit berbohong padahal sebenarnya tenggorokannya sedikit perih
"Ini minum dulu, maaf ya saya mengagetkan kamu" ujar Rayhan menyodorkan botol minun seraya kembali meminta maaf
"Terimakasih, silahkan duduk ustad" ucap Zakia mempersilahkan Rayhan duduk di bangku yang berada di depan mejanya
"Rayhan, panggil Rayhan saja, tidak usah terlalu formal gitu kalau lagi di luar begini" Ujar Rayhan tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya
Zakia merasa sedikit canggung berhadapan dengan Rayhan meskipun saat itu posisi mereka tidak hanya berduaan di sebabkan meja-meja yang lain terisi penuh oleh pengunjung
"Sudah lama tidak bertemu, terakhir kalinya ketemu saat kamu bilang akan segera memeluk Agama Islam dan sekarang Alhamdulillah, sepertinya kamu sudah melakukan nya" ucap Rayhan memulai percakapan
"Iya us, eh maksudnya Bang Rayhan"Ujar Zakia sedikit gugup
"Masih tinggal di tempat yang lama? soalnya setelah hari itu banyak ibu-ibu jama'ah yang bertanya-tanya tentang kamu yang sudah tidak pernah datang lagi"
"Tidak Bang, Zakia sudah pindah. saat ini Zakia tinggal di rumah pemilik yayasan mualaf kalau Abang kenal namanya Ustadz Burhan Siagian" jelas Zakia sudah mulai terbiasa
"MasyaAllah, iya saya kenal ustadz Burhan. beliau salah satu dosen saya di kampus"
"Kamu beruntung tinggal bersama ustadz Burhan, meskipun beliau seorang mualaf namun ilmunya sudah menyamai seorang ustad yang memang sedari kecil sudah beragama Islam, ustadz Burhan tidak pernah berhenti belajar bahkan sampai saat ini beliau semakin memperdalam pengetahuan nya tentang Islam" jelas Rayhan pada Zakia
Zakia bertanya banyak hal pada Rayhan tentang ustadz Burhan yang tidak di ketahui olehnya, hingga tanpa terasa satu jam sudah berlalu membuat Zakia pamit untuk pulang pada Rayhan
"Oh ya, apa kamu kerja disini?" tanya Rayhan pada Zakia yang sudah bersiap untuk pergi
"Iya Bang, Zakia bekerja di salah satu toko disini, kalau begitu Zakia pamit pulang. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"