Syahadat Cinta Zakia

Syahadat Cinta Zakia
Bab 11


__ADS_3

Sore itu Zakia sibuk membaca buku panduan shalat yang di berikan oleh ibu-ibu jama'ah yang ikut menyaksikan dirinya bersyahadat pagi tadi, banyak bingkisan yang di terima oleh Zakia baik itu berupa perlengkapan shalat, jilbab, gamis dan juga beberapa bingkisan lainnya.


sebenarnya jauh-jauh hari Zakia sudah menyiapkan segalanya, bahkan dengan cepat ia sudah menghafal beberapa bacaan untuk shalat meski hanya ayat-ayat pendek saja itupun melalui bacaan latinnya


Menjelang shalat Maghrib, Zakia sangat antusias berangkat ke Masjid bersama dengan Ibu Fatimah. Zakia dibimbing oleh Ibu Fatimah berwudhu dengan cara yang benar di karenakan syarat sahnya shalat adalah dengan cara berwudhu yang benar dan sempurna


"Untuk sementara waktu bagaimana kalau Zakia tinggal di rumah Ibu dulu? Zakia kan perlu belajar membaca Alquran, jadi Ibu bisa dengan leluasa untuk mengajarinya saat Zakia pulang bekerja nanti" Ujar Ibu Fatimah memberi saran


"Mana bisa begitu Mbak, apa kata orang-orang nanti kalau dia tinggal disini?kalau mau belajar ya seharusnya dia cari sendiri lah guru mengaji" sela Yuli yang tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu


"Ah, iya Bu. Zakia cari guru ngaji sendiri saja nanti. tidak enak rasanya Zakia tinggal disini Zakia sudah cukup banyak merepotkan" ucap Zakia sungkan seraya melirik ke arah Yuli yang sudah menunjukkan wajah sinisnya


Yuli tersenyum manis mendengar penolakan Zakia, bagaimana pun dia tidak akan mengijinkan Zakia dekat-dekat dengan Fahmi keponakan tersayang nya. meski sebenarnya ada maksud lain dari niatnya tersebut


"Tidak bisa begitu Nak, mencari guru mengaji yang bacaan memang benar-benar bagus itu bukan perkara yang mudah. begini saja, kalau Zakia merasa sungkan tinggal disini tidak apa-apa, tapi tetap setelah pulang bekerja singgah dulu kesini untuk belajar setelah itu Fahmi akan mengantarkan Zakia pulang" Ucap Ibu Fatimah dengan nada yang tidak ingin di bantah


"Baik Bu" jawab Zakia pasrah, biarlah untuk sementara waktu sebelum dirinya mendapatkan guru mengaji sendiri


"Apa-apaan sih Mbak Fatimah ini, pokoknya aku harus mencari cara supaya gadis kampung itu tidak betah di rumah ini" gerutu Yuli dalam hatinya


.


.


.


Pagi-pagi sekali Zakia sudah rapi dengan memakai gamis berwarna navy berpadu dengan jilbab yang senada, setelah lebih dari setengah jam Zakia berusaha mengenakan jilbab untuk pertama kalinya yang membuat dirinya sedikit mengalami kesulitan.


"Hu.... akhirnya selesai juga, tak apalah untuk pemula seperti ini dulu" ucap Zakia menatap dirinya di depan cermin


saat hendak berjalan keluar dari kamarnya, Zakia menghela nafas panjang mencoba menghilangkan kegugupannya. ia sangat yakin orang-orang yang melihat dirinya mungkin akan bertanya-tanya tentang perubahan yang di alaminya

__ADS_1


"Zakia? Zakia itu kamu" Ucap Martha anak pemilik rumah kost tempat Ia tinggal


"Iya" Ucap Zakia singkat


"Apa yang terjadi dengan penampilan mu? kenapa kau memakai jilbab? apa ini tuntutan dari pekerjaan mu?" Deretan pertanyaan yang di lontarkan Martha


"Tidak juga, aku sendiri yang ingin memakainya"


"Maksudnya" Martha semakin penasaran


"Nanti saja aku ceritakan ya, aku sudah telat soalnya" ucap Zakia buru-buru pergi melihat jam di pergelangan tangan nya sudah menunjukkan pukul delapan pagi


"Apa yang terjadi dengan anak itu? atau jangan-jangan dia sudah..Ah, tidak mungkin" Martha bermonolog sendiri


Sesampainya di tempat kerjanya, Zakia kembali merasa gugup melihat teman-temannya yang sudah berdatangan ia tidak tahu bagaimana reaksi mereka saat melihat dirinya nanti


"Selamat pagi" ucap Zakia kikuk


"Pagi" Jawab Maira tanpa menoleh, sedangkan Fira dan juga Kania mematung melihat kearah Zakia


"Assalamualaikum" Zakia berucap dengan senyum manisnya, namun sesaat kemudian senyuman itu berlalu begitu saja melihat ekspresi datar dari Maira


"Apa kalian tidak ada yang berniat menjawab salam dariku?" Tanya Zakia menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Waalaikumsalam" jawab Fira segera mendekat ke arah Zakia dan memeluknya tak berapa lama akhirnya Kania dan juga Maira ikut memeluk Zakia dengan perasaan haru


"Kenapa tidak memberitahuku? padahal aku ingin sekali melihatnya" ucap Maira sedikit merasa kecewa


"Maaf ya aku tidak memberitahu kalian dulu, soalnya aku mau ngasih kejutan, gimana aku cantik nggak? doakan aku Istiqomah ya" ucap Zakia menggenggam tangan sahabatnya itu


"Kamu sudah cantik dari dulu Za, sekarang malah makin bertambah cantiknya. ternyata selama ini kamu sedang mempelajari Islam secara diam-diam aku salut sama kamu" Kania berucap tulus

__ADS_1


Rayyan baru saja tiba bersamaan dengan Andre, mereka berdua sama-sama terdiam melihat penampilan Zakia yang berbeda seperti biasanya, bahkan Zakia terlihat lebih cantik dengan sebuah hijab yang menutupi rambut hitam nya


"Ini beneran kamu Zakia? MasyaAllah cantik sekali" ucap Andre tanpa berkedip melihat Zakia


"Jaga pandangannya ya Akhi" suara Kania membuat sang empunya menoleh kearah nya dengan, senyuman jahil sudah terpatri di bibir Andre


"Kamu cemburu? Tenang saja baby hatiku ini hanya milikmu seorang"


"Huek, mau muntah aku mendengarnya"


"MasyaAllah, tabarakallah. selamat Zakia beruntung lah kamu mendapatkan hidayah itu. Karena barang siapa yang di berikan petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapatkan ke baikan di dunia dan di akhirat, hidayah tidak bisa di beli tapi ini adalah nikmat Allah yang hanya di berikan kepada hamba yang di kehendaki-Nya" Ujar Rayyan dengan senyum khasnya


Zakia memejamkan matanya, hatinya bergetar kembali mendengar penuturan Rayyan, ia bersyukur di kelilingi oleh para sahabatnya yang selalu mendukung dan mensupport dirinya


"Maha suci Allah yang memberikan hidayah itu padamu Zakia, aku bahagia bahkan sangat bahagia setidaknya tembok penghalang itu perlahan runtuh dengan sendirinya. semoga segera Allah ijabah doaku yang meminta hatimu" batin Rayyan dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya kebahagiaan sedang membuncah di hatinya


.


.


.


Zakia menunggu didepan pintu masuk Masjid tempat terlaksananya pengajian bulanan yang akan di hadiri oleh penceramah kondang yang terkenal di kota Medan itu. menurut cerita yang ia dengar dari Maira Ustadz yang akan mengisi acara nanti adalah seorang mualaf juga seperti dirinya, hal itu yang membuat Zakia antusias ingin mengikuti kajian pertama nya itu


"Hmmm.... Maira ini kebiasaan deh, dia yang berjanji datang lebih awal malah dia juga yang telat, pasti sibuk berdandan dia tuh" gerutu Zakia pada sahabatnya yang selalu saja ingkar janji itu


"Assalamualaikum ya ukhti"


"Waalaikumsalam, udah mau selesai acaranya" ucap Zakia membulatkan matanya merasa sedikit kesal


"Jangan marah-marah dong sayang, nanti cantiknya hilang loh" goda Maira yang selalu saja berhasil membuat Zakia luluh

__ADS_1


"Udah yuk masuk, keburu di mulai acaranya" ucap Zakia tersenyum sembari menggandeng tangan Maira


Ruangan Masjid yang begitu besar sudah terisi penuh, maklum, acaranya sebentar lagi akan di mulai jadi masing-masing dari mereka mengambil posisi duduknya. beruntung Zakia dan juga Maira mengambil posisi duduk tidak jauh dari pentas hingga bisa leluasa melihat dan mendengar sang ustadz berceramah


__ADS_2