
Matahari pagi menyambut Zakia mengembalikan nya ke dunia nyata dimana ia di sambut dengan cerahnya hari. Ia memandang sekeliling nya masih di tempat biasa, keadaannya sungguh tidak baik-baik saja bahkan kini tubuhnya sudah kehabisan tenaga untuk berdiri bahkan bangun pun rasanya ia sudah tidak mampu lagi.
Dari luar sayup-sayup Zakia mendengar suara pintu di buka ia seakan sudah pasrah pada hidupnya apapun yang akan di lakukan oleh Ibu ataupun Abang nya kali ini ia akan memasrahkan diri. Zakia sudah lelah ia sungguh sudah sangat lelah terhitung sudah berapa bulan ia menghabiskan waktunya dengan hidup di dalam gudang yang hanya di terangi matahari di siang hari ketika malam menyambut ia hanya kegelapan lah yang menemani
"Zakia, Zakia bangun Nak ini Tante" ucap Celina menepuk-nepuk pipi keponakannya yang sudah sangat memprihatikan itu
Zakia mengerjapkan mata samar-samar ia melihat wajah Ayahnya dengan tatapan penuh kasih sayang yang sudah sangat dirindukannya, Zakia menampilkan senyum manisnya menyambut sang Ayah yang mengulurkan tangannya seakan ingin memeluk putri terkasihnya itu
"Ayah" ucap Zakia lirih seraya berusaha untuk bangkit dari tidurnya, sesaat kemudian segalanya terasa seperti berputar dalam pandangannya detik itu juga Zakia pingsan. Beruntung Leo segera menangkap tubuh Zakia yang hampir saja ambruk ke lantai
"Kak Zakia, Zakia" Teriak mereka bersamaan merasa panik melihat Zakia yang sudah tidak sadarkan diri
Beruntung saja keluarga Zakia sedang pergi berkunjung kerumah mertua Misya hingga membuat Leo dan juga Celina leluasa untuk merawat dan juga memberi makanan yang layak untuk Zakia konsumsi
"Gimana Nak? udah merasa baikan?" tanya Celina mengelus lembut rambut Zakia ia merasa iba melihat kehidupan Zakia yang sekarang ini. Celina adalah salah satu orang yang menyaksikan bagaimana tidak adilnya sang kakak ipar dalam menyayangi anak-anaknya
"Tan, bolehkah Zakia meminta bantuan untuk kali ini saja? Zakia janji ini akan menjadi permintaan tolong Zakia yang terakhir" ucap Zakia masih dengan suara lemasnya
"Apa itu Za?"
__ADS_1
"Bantu Zakia keluar dari sini, Zakia mau kembali Tante. Zakia sudah tidak sanggup lagi hidup disini" pinta Zakia memegang kedua tangan Tante Celina dengan tatapan penuh harap
Celina melihat kearah Leo seakan meminta pendapat, sebenarnya ia juga sangat tidak tega melihat Zakia di kurung dan juga di perlakukan secara kasar oleh Ibunya sendiri akan tetapi Celina juga takut masalah akan semakin bertambah runyam saat dirinya ikut membantu Zakia
Leo mendekat dan memeluk Zakia dengan perasaan bersalah, ia merasa sangat tidak berguna sebagai seorang adik karena tidak bisa melakukan apa-apa saat melihat sang kakak yang selama ini banyak membantu dirinya di perlakukan sebegitu nya
"Aku akan membawa Kakak keluar dari sini maaf kak, maaf aku tidak bisa melakukan apa-apa saat Mama berlaku kasar pada kakak saat itu" ucap Leo masih dengan memeluk Zakia
Ceklek
Suara pintu terdengar menampilkan wajah Leni dan juga Edi yang menatap sinis ke arah Zakia. Leni melangkah menarik Leo dengan kasar yang masih memeluk Zakia seakan tidak mau jauh-jauh dari kakak yang selama ini sudah berkorban banyak untuknya itu.
"Jangan pernah sekali-kali mempengaruhi Leo untuk bisa membawa mu keluar dari sini sebab itu tidak akan pernah terjadi. Hiduplah selamanya disini sampai kematian itu mendatangi mu" ucap Leni yang seketika itu membuat Zakia kembali menatap sendu ke arah Ibunya
"Tidak usah ikut campur Celina, aku tahu apa yang harus aku perbuat pada anak pembawa sial ini. Aku menyesal pernah melahirkan nya bahkan aku sangat-sangat berharap dia tidak ada dalam keluarga ku, jadi mulai detik itu tidak ada satupun dari kalian yang boleh membelanya"
Zakia berusaha berdiri mencoba mendekati Ibunya namun lagi-lagi ia tidak memiliki tenaga dan hanya mampu meraih tangan Leni dan mencium nya dengan sangat lembut namun sedetik kemudian Leni menepisnya dengan kasar dan mencengkeram kuat pipi Zakia hingga kuku-kuku tangannya menancap di kulit Zakia meninggalkan bekas merah disana
"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan menjijikkan mu itu" ucapnya menghempaskan tubuh Zakia hingga tersungkur ke lantai
__ADS_1
Leo segera menghampiri Zakia dan membantu nya untuk kembali duduk wajah pucat Zakia membuat Leo semakin khawatir pada kondisi sang kakak namun meski begitu Zakia masih tetap bisa menampilkan senyumnya yang seketika membuat hati Leo kembali terasa sesak merasa sangat bersalah
"Cukup! Cukup Ma, kalau Mama tidak bisa berlaku adil pada Anak-anak Mama lebih baik biarkan kak Zakia hidup dengan pilihannya sendiri. Sudah cukup penderitaan yang kak Zakia Alami selama ini Dia hidup tanpa kasih sayang Mama, namun apa pernah Mama mendengar kak Zakia mengeluh tentang itu? Apa pernah kak Zakia melepas tanggung jawabnya? padahal seharusnya itu bukan kewajibannya lantas kenapa kalian semua dengan tidak tahu malunya memperlakukan kak Zakia seperti ini?" Teriak Leo menumpahkan segala isi hati dan juga kekecewaan nya
"Sudah berani kamu meneriaki Mama Hah? Mau jadi anak durhaka kamu?" Ucap Leni seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar itu
Leo tersenyum getir mendengar ucapan Mamanya itu, kalau anak di sebut dengan anak durhaka lalu bagaimana dengan orang tua?
"Aku-" Ucapannya terpotong saat Zakia menahan tangannya dan memintanya untuk tidak meninggikan suara saat berbicara dengan sang Ibu Leo menatap Zakia dengan sendu. Bahkan sudah seperti ini pun Zakia masih bisa berkata demikian, terbuat dari apa hati kakaknya itu monolog Leo dalam hatinya
"Kau mau keluarkan dari sini?" Edi mendelik tajam ke arah Zakia
Zakia mengangguk dengan semangat seketika senyum terbit di bibirnya,
"Pergilah, dan jangan pernah kembali lagi kesini. Selangkah saja kau melangkah maka bagi kami saat itu juga kau sudah kami anggap MATI" ucapnya tajam membuat senyum di wajah Zakia luntur dalam sekejap
"PERGI KAMU DARI SINI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI, ANAK SIALAN. BAHKAN KALAUPUN KAU MATI DI LUARAN SANA AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN PERNAH MERASA MENYESAL ATAUPUN MENANGISI KEMATIAN MU" ucap Leni menyeret tubuh Zakia hingga keluar tersungkur ke tanah
Zakia sungguh tidak bertenaga, bahkan sekedar untuk bernafas saja sudah sangat menyesakkan dadanya. Dengan gerakan lambat ia berusaha memeluk kaki Ibunya memohon ampun Zakia sungguh tidak bisa pergi dengan cara seperti ini
__ADS_1
"Lepaskan! Pergi dari hadapanku sebelum aku menendangmu jauh, bukannya sudah kubilang jangan menyentuhku dengan tangan kotormu? PERGI" teriaknya menarik kakinya membuat Zakia kembali terhuyung
"Jika dengan menyakiti dan juga tidak ingin aku hadir di kehidupan Mama membuat Mama bahagia maka aku pergi Ma, karena Mama adalah segalanya bagiku"