
Hari ini cuacanya sangat cerah, pagi-pagi sekali Zakia sudah berada di rumah Fahmi di karenakan Ibu Fatimah akan mengadakan syukuran dengan berbagi dengan anak-anak yatim dan juga pada orang-orang yang kurang mampu. Keluarga Fahmi merupakan salah satu orang kaya yang di kenal dengan kedermawanan nya dalam berbagai dan juga menolong bagi sesama
Zakia tidak pernah bosan untuk datang ke rumah ibu Fatimah. sosok wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya itu sendiri. wanita paruh baya yang selalu menebar kebaikan dan juga tulus sayang padanya
Seandainya, Mamanya juga sesayang itu padanya, sudah dapat dipastikan bahwa hidup Zakia tidak akan terlihat seperti sekarang ini.
"Kalau capek istirahat dulu Za, sini sarapan bentar ini ibu buatkan teh sama kue dadar kesukaan kamu sama Bapak" ujar ibu Fatimah menyodorkan sebuah nampan berisi teh dan juga kue pada Zakia yang masih sibuk bersih-bersih
Zakia selalu senang melihat kepedulian dan juga perhatian yang di berikan ibu Fatimah padanya, setidaknya Tuhan masih memberi kesempatan padanya untuk merasakan kasih sayang seorang ibu meskipun tidak dari Leni Mamanya
Fatimah juga senang jika Zakia selalu menyukai masakannya. karena selama ini ketiga anak laki-laki nya itu tidak ada satupun dari mereka yang menyukai kue dadar buatannya dengan dalih terlalu manis atau dengan alasan lainnya. sangat berbeda dengan Zakia yang selalu antusias menerimanya
Dari arah tangga terlihat Taufik yang baru saja selesai mandi setelah selesai bersih-bersih halaman belakang.
"Loh, ada Zakia, kok Bapak nggak lihat tadi pas kamu datang? kamu lewat jalur mana" Ucap Pak Taufik dengan candaan
"Iya tadi Zakia begitu mendarat langsung ke dapur Pak, biasa membantu nyonya" jawab Zakia dengan memeluk Fatimah dengan manja
Bagi Zakia sudah biasa memanggil orang tua Fahmi dengan sebutan Bapak, Ibu seperti Fahmi dan juga adik-adik nya memanggil kedua orang tua mereka. di sebabkan itu adalah perintah langsung dari kedua orang tua tersebut
__ADS_1
kedua orang tua Fahmi tidak keberatan dengan hal itu, justru mereka senang karena anggota keluarga mereka bertambah apa lagi saat Kakak perempuan Fahmi menikah dan sangat jarang sekali berkumpul di karenakan berbeda kota, setidaknya mereka masih memiliki satu anak perempuan lagi
"Sepertinya setelah Zakia hadir, Ibu lupa kalau masih memiliki anak laki-laki. Fahmi juga mau makan Bu, masa makanannya untuk Zakia semua" ucap Fahmi menggeleng melihat tingkah Ibunya yang seperti melupakan dirinya.
"Ya tinggal ambil sendiri loh Bang, kan punya tangan" ucap Fatimah sengaja menggoda anak laki-laki nya itu
"Jadi Zakia tidak punya tangan, makanya ibu layani gitu?" ucap Fahmi seraya melihat ke arah Zakia yang sedang memasang ekspresi mengejek padanya
"Sudah makan, jangan banyak bicara" Ucap Taufik dengan menyendok kan nasi ke atas piring Fahmi namun tidak dengan lauknya
"Haish, sepertinya disini aku yang anak angkat" ujar Fahmi mengundang tawa seluruh yang ada di ruangan itu
Kehangatan keluarga Fahmi yang membuat Zakia merasa nyaman ada di antara mereka. Ah, andai saja keluarga nya juga seperti itu namun kenyataannya sangat bertolak belakang
Di tengah kesibukan nya, Zakia tidak menyadari kehadiran Yuli yang selalu memasang wajah tidak sukanya. "Apa kau memang tidak punya malu selalu datang ke rumah ini? Ah, apa kau sengaja ingin mengambil hati kakakku agar kau bisa terus mendekati Fahmi? Dasar benalu" ucap Yuli sinis
Zakia mencoba untuk tidak terpancing dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Yuli padanya. meski tidak menutup kemungkinan hatinya sakit mendengar ucapan itu
"Apa kau pikir aku akan membiarkan mu merajalela disini? Tentu tidak! Aku sangat yakin bahwa alasanmu masuk Islam hanyalah supaya kau di terima dengan baik dirumah ini setelahnya kau akan mencari cara agar bisa menikah dengan Fahmi dan menguasai segala miliknya, wanita kampung yang tidak jelas bebet, bobotnya seperti kau ini memang pantas untuk di awasi"
__ADS_1
"Permisi Tante, Zakia masih banyak kerjaan" Ucap Zakia hendak menghindar namun Yuli mencekal lengan nya hingga membuat Zakia menghentikan langkahnya
"Apa kau tidak di ajarkan sopan santun oleh kedua orang tuamu? Dengar perempuan kampung, wanita murahan seperti mu tidak pantas ada di tengah-tengah keluarga kami, lebih baik sekarang kau pergi dan jangan pernah kembali lagi kesini"
"Cukup! sudah cukup Tante menghina aku selama ini. aku sudah cukup diam namun sepertinya diamku tak membuat Tante Yuli berhenti untuk selalu menggangguku. asal Tante tahu aja, selama ini Fahmi yang selalu mencoba mencari cara untuk mendekati ku dia yang selalu ingin bisa dekat-dekat denganku kalau Tante tidak percaya silahkan bertanya langsung padanya" ucap Zakia bergetar menahan tangisnya
"Mungkin saja kau menjual diri padanya"
"Astaghfirullah, jaga bicaramu Yuli" ucap Fatimah dengan napas memburu menahan amarahnya, sungguh Ia tidak menyangka bahwa adiknya itu mampu mengeluarkan kata-kata yang sangat menjijikkan itu
"Mbak mendengar semuanya, jadi begini sikap kamu pada Zakia selama ini? Apa yang membuat kamu begitu membencinya? Istighfar Yuli, ingat kamu juga memiliki anak perempuan, apa kamu akan terima jika anak perempuan mu di tuduhkan seperti itu?"
"Mbak tidak tahu aja perempuan kampung ini bagaimana aslinya, dia ini sengaja mencari cara untuk mendekati Fahmi supaya dia bisa diterima sebagai menantu dirumah ini. dia ini wanita tidak benar Mbak, Fahmi sendiri yang mengatakan padaku bahwa dia sangat mudah bergaul pada laki-laki yang baru ia kenal" ujar Yuli menggebu menceritakan semua tentang Zakia yang ia dapatkan dari Fahmi yang saat itu sedang marah di bakar api cemburu saat melihat Zakia begitu ramah pada laki-laki yang baru ia lihat yang tak lain adalah Rayyan sang pemilik toko tempat Zakia bekerja
Zakia terkejut mendengar ucapan Yuli, bersamaan dengan Fahmi yang juga datang menghampiri mereka setelah mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya. Zakia menatap kearah Fahmi dengan tatapan penuh kecewa, air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya lolos juga dari mata indahnya
"Apa itu benar Fahmi? apa benar kau berbicara seperti itu pada Tante Yuli?" sarkas Fatimah
Fahmi terdiam, ia bisa melihat raut kekecewaan di mata Ibunya dan juga Zakia di waktu yang bersamaan. ia sangat menyesal sudah mengucapkan kata-kata buruk mengenai Zakia saat itu pada Yuli Tantenya
__ADS_1
"Maaf Bu, Zakia. saat itu aku sedang di kuasai amarah jadi tidak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulut ku" jawab Fahmi menunduk tidak berani menatap mata Zakia
Zakia tersenyum miring mendengar penuturan Fahmi, "Apa setiap kamu marah, kamu bisa seenaknya bercerita buruk tentang orang lain? Aku tidak percaya kamu sanggup berkata demikian tentangku, makasih Fahmi makasih tuduhan nya" Ujar Zakia melangkah pergi meninggalkan rumah Fahmi namun tetap berpamitan pada Fatimah yang setidaknya sudah menerimanya dengan baik selama ini