
Zakia duduk di tepi kolam yang berisikan ikan hias yang memiliki warna-warna yang indah, sekeliling nya juga terdapat burung merpati yang tak terhitung jumlahnya. suasana Cemara asri di sore hari memang seringkali ramai pengunjung apalagi saat hari weekend begini. sudah lebih dari satu jam Zakia menunggu, namun orang yang di nantinya tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.
Zakia yang merasa sedikit bosan memilih membeli makanan untuk ikan hias yang berada di depan nya guna melepas rasa jenuhnya.
"Hai sayang, maaf ya menunggu lama" Ucap Maira memeluk Zakia dari belakang membuat sang empunya badan sedikit tersentak
"Bisa nggak sih Mai, kamu itu kalau dandan nggak pakai lama? Aku hampir lumutan disini nungguin kamu" celetuk Zakia merasa geram pada sahabatnya yang selalu saja tidak tepat waktu
Namun seperti biasa, Maira tidak mengindahkan Omelan dari Zakia, Ia duduk di sebelahnya dan menampilkan senyum manisnya membuat Zakia tidak bisa berkata apa-apa. Maira memang sangat pandai mengambil hatinya
Zakia dan juga Maira menikmati sore dengan menyantap makanan kesukaan mereka masing-masing. Zakia menceritakan perihal mimpinya pada Maira, karena ia merasa Maira adalah orang yang tepat untuk dia ajak bercerita Maira adalah wanita yang baik agamanya dan memiliki pengetahuan yang luas menurut Zakia
"Hm..... menurut aku Za, itu adalah sebuah hidayah dari Allah. Allah menyapa hatimu dengan cara seperti itu, sungguh hanya orang-orang pilihan yang Allah beri hidayah dan salah satunya itu kamu" Ucap Maira dengan mata berkaca-kaca
Zakia terdiam sejenak mendengar perkataan Maira, apa mungkin hidayah itu di tujukan padanya? Tapi bagaimana mungkin Zakia berpaling dari Tuhan nya yang selama ini ia sembah bersama dengan keluarganya
"Tidak perlu tergesa-gesa Za, aku tahu kamu pasti masih ragu dan juga bingung, beri waktu untuk dirimu menerimanya dengan alami tanpa paksaan dari siapapun" lanjut Maira mengelus lembut punggung sahabatnya itu
Angin senja berhembus pelan, cahaya matahari yang hendak masuk ke peraduannya menebarkan suasana sendu, merah dan kuning berpadu menyala-nyala seperti Kilauan emas permata. Sebagian sinarnya membelai wajah ayu Zakia, Ia kembali menunggu Maira yang sedang melaksanakan shalat Maghrib di mushalla terdekat di area itu.
.
.
.
__ADS_1
Malam ini adalah malam ke enam Zakia menginjakkan kakinya ke Masjid yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Zakia sudah mulai terbiasa memasuki nya dan duduk di tempat biasa ia memperhatikan orang shalat dan juga membaca Alquran. Namun saat hendak keluar langkah Zakia terhenti saat seorang laki-laki berpakaian rapi dan juga memakai peci di atas kepalanya menyapanya dan berjalan ke arah ia berdiri
"Assalamualaikum" Ucapnya ramah
Zakia yang merasa bingung harus membalas nya dengan bagaimana hanya bisa mengangguk kan kepalanya
"Maaf mengganggu, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan. Apa kamu keberatan jika saya ajak duduk sebentar? lagi pula disini masih ramai ibu-ibu pengajian jadi tidak usah takut" tuturnya dengan menampilkan senyum ramahnya
Sekali lagi Zakia kembali mengangguk, menandakan bahwa ia menyetujui nya
"Sebelumnya boleh saya tahu siapa namanya?"
"Zakia" jawab Zakia pelan
"A..ku, aku bukan seorang muslim atau lebih tepatnya belum. aku sedang menuju kesana,aku sedang mempelajari nya hanya saja aku masih ingin berlama-lama memahami diriku dahulu, aku tidak ingin tergesa dalam memilih sesuatu yang dapat mempengaruhi kehidupan ku nantinya." ujar Zakia menunduk
"Apa aku tidak di perbolehkan lagi untuk datang ke sini ustadz?" Tanya Zakia dengan raut wajah yang sendu, entah mengapa hatinya mendadak sedih saat mengetahui bahwa mungkin saja setelah ini dia tidak akan di perbolehkan lagi untuk datang
laki-laki itu tersenyum mendengar dirinya di panggil ustadz oleh Zakia. "Raihan, panggil Raihan saja"
"Tapi kemarin aku melihat ustadz mengisi pengajian disini, dan ramai juga ibu-ibu disini memanggil ustadz. jadi kurang pantas rasanya jika aku panggil dengan nama saja" tolak Zakia lembut
"MasyaAllah, jadi kamu mengikuti pengajian disini juga? segerakanlah jika sudah yakin pada Agama Islam ini, tapi perlu di ingat juga tak perlu tergesa pelajarilah pelan-pelan tidak akan ada yang melarang untuk kamu datang kesini. Bahkan jika ada yang ingin kamu ketahui nantinya kamu bisa bertanya padaku" Raihan berujar tulus
.
__ADS_1
.
.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, Zakia berbenah diri ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tercintanya. Zakia memandang nanar langit-langit kamarnya, kini ia tahu bahwa hidayah itu memang telah menyentuh hatinya. Zakia sudah yakin dengan pilihannya bahkan apapun konsekuensinya nanti akan Zakia hadapi
pagi-pagi sekali Zakia sudah memakai pakaian rapi, hari ini Ia berencana pergi kerumah Fahmi untuk berkunjung sekaligus untuk meminta bantuan pada kedua orang tua Fahmi. terlepas dari kesalah pahaman yang terjadi beberapa waktu yang lalu antara dirinya dan juga Fahmi, kini mereka sepakat untuk sama-sama melupakan nya dan kembali bersahabat seperti biasa meski mungkin awalnya tidak akan mudah.
Zakia sudah memikirkan semuanya, Zakia berniat meminta bantuan pada kedua orang tua Fahmi untuk menemaninya, di sebabkan ustadz Raihan berkata harus ada yang mendampingi dan menjadi saksi nantinya. Zakia langsung teringat bahwa hanya orang tua Fahmi lah yang teramat sangat dekat dengannya di kota Medan ini
"Semoga saja tidak bertemu dengan Tante Yuli" batin Zakia di sebabkan ia tahu bahwa adik dari ibu Fatimah itu tidak pernah menyukai nya
Zakia tiba di rumah Fahmi dengan sebuah bingkisan di tangannya, ini bukan pertama kali baginya. namun Zakia merasa sedikit canggung di karenakan sudah lama tidak berkunjung setelah hubungan nya dengan Fahmi sedikit renggang
"Pagi" sapa Zakia ramah, menyapa Fahmi yang tengah sibuk membersihkan halaman rumahnya. sudah menjadi rutinitas Fahmi bersih-bersih saat hari libur begini
"Pagi juga, loh tadinya baru mau aku jemput rupanya sudah keduluan kemari, baguslah jadi tak habis minyak motorku" seloroh Fahmi yang justru mendapat pukulan keras mendarat di bahunya membuat nya meringis
"Ck, ringan tangan sekali" ujarnya seraya mengelus bahu bekas tangan Zakia
"Ibu mana?" Tanya Zakia tanpa memperdulikan Fahmi yang masih sibuk dengan kegiatannya
"Di dalam, bentar aku panggilkan" ucap Fahmi seraya mendengus kesal pada wanita yang tidak berubah sama sekali itu
Zakia duduk seraya melihat tanaman yang dulu selalu ia rawat bersama dengan Fahmi. bunga itu kini tumbuh menjadi bunga-bunga yang indah, namun tak seindah hubungannya dengan Fahmi. Zakia sedikit tertegun mengingat kenangan indah nya, namun dengan cepat ia menepis rasa sedihnya karena kini hatinya sudah baik-baik saja
__ADS_1