Syahadat Cinta Zakia

Syahadat Cinta Zakia
bab 2


__ADS_3

"Harusnya dari sikapku ini saja kamu pasti sudah mengetahui jawabannya. Fahmi, kita itu sudah bersahabat dari lama, jadi jangan sampai rusak hanya karena salah satu dari kita menyimpan rasa suka, bagiku kamu itu sahabat ku dan sampai kapan pun akan selalu begitu. lagi pula untuk saat ini aku tidak ada niatan untuk pacar-pacaran aku masuk fokus mencari uang untuk membantu keluargaku" jelas Zakia


"Segitunya kah kamu tidak menyukai ku? Apa selama ini aku kurang baik padamu? katakan apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau menerima ku Za" ujar Fahmi dengan mencengkeram kuat tangan Zakia hingga membuat nya sedikit memerah


"Fahmi please, jangan memaksa seperti ini, kau tahu melihat mu begini membuat ku semakin yakin untuk tidak menerima mu" balas Zakia dengan menarik kasar tangan nya dari genggaman Fahmi


Fahmi melirik sekilas ke arah Zakia sebelum dirinya pergi meninggalkan nya, sungguh perasaan nya kini diselimuti dengan rasa benci pada Zakia


Pagi itu Zakia kembali menjalani harinya seperti biasa, sungguh perasaannya sudah sangat lega. Akhirnya dia terlepas dari Fahmi yang terus-menerus mengganggu hatinya, walau tidak menutup kemungkinan setelah ini persahabatan mereka akan renggang di karenakan hal itu. Namun Zakia tidak terlalu memikirkan nya sebab jika memang itu yang harus terjadi maka tidak masalah baginya


Zakia segera bergegas mencari angkutan umum untuk Ia gunakan saat hendak berangkat kerja, Zakia sangat disiplin dalam mengatur waktu nya, bahkan diantara semua teman kerjanya Zakia selalu datang tepat waktu mungkin dalam kamus Zakia tidak akan ada yang namanya terlambat pada hal apapun itu


"Selamat pagi sayang" Ucap Maira mencium pipi Zakia tiba-tiba


"Ya Tuhan, salah makan obat apa kamu tadi malam? Datang-datang main nyosor aja, aktif kali kamu jadi perempuan" Omel Zakia sembari membersihkan pipinya


"Ya ampun Za, harusnya ya kamu itu bahagia dapat morning kiss dari aku" Ujar Maira dengan pedenya

__ADS_1


"CK! bahagia? Takut rabies yang iya nya, udah yuk lanjut kerja, aku nggak mau ya potong gaji gara-gara kamu lagi, bisa rugi aku" balas Zakia seraya melanjutkan pekerjaannya


"Dasar wanita mata duitan, untung aku sayang, kalau tidak udah ku buang ke kandang buaya" lanjut Maira yang tak di gubris oleh Zakia


Zakia kini di sibukkan dengan catatan barang yang terus berdatangan tanpa henti, Ia bahkan sudah tidak bisa menghitung sudah berapa kertas yang Ia tandatangani sedari tadi. Zakia menghela nafas panjang saat melihat berapa banyak barang yang harus di susun sesuai tempatnya.


"Astaga, sepertinya aku cuti cuma seminggu deh, tapi kenapa barang yang harus aku periksa segunung begini" keluh Zakia pada dirinya


"Semangat pejuang Dolar, aku istirahat dulu ya mau mengisi amunisi" ujar Maira sengaja menggoda sahabatnya itu


"Ya ampun, kok bisa-bisanya ya aku punya sahabat seperti itu? Ah, apa aku istirahat juga? Tapi gimana dengan barang-barang ini? Ya Tuhan, kalau begini, rasanya aku mau nikah aja deh" ucap Zakia frustasi


"Memang nya bang Kevin orang jaman kapan, jaman purba? Gaya, bilangin Kia ada yang mau apa nggak, Lah Abang sendiri kenapa belum Nikah? Belum punya calon juga kan? Ya iyalah siapa juga yang mau sama laki-laki yang dingin nya seperti kutub Utara" balas Zakia dengan tawa penuh ejekan


Sore itu keadaan kota Medan sangat ramai dan juga padat, beberapa kendaraan saling berlomba-lomba untuk mendahului hingga membuat jalanan menjadi macet. sesampainya di rumah kontrakan tempat Zakia tinggal, Ia segera bersih-bersih dan bersiap untuk istirahat rasa lelah dan kantuknya membuat Zakia tenggelam dalam mimpi indahnya.


Menjelang pagi, Zakia di bangunkan dengan suara ponselnya yang tiada hentinya berdering, melihat nama yang tercantum di layar ponsel membuat Zakia bangun dari tidurnya

__ADS_1


"Hallo" Ucap Zakia dengan suara khas bangun tidurnya


"Hallo Za, ini Tante" Jawab wanita di seberang sana dengan suara yang terdengar serak


"Iya Tan, Zakia tau, ada apa Tante menelpon pagi-pagi begini?" Tanya Zakia khawatir mendengar suara tangis Tante Celina yang merupakan adik dari Ayah nya tersebut


"Zakia, pulang lah Nak, Ayah sudah tiada" ujar Tante Celina dengan tangis yang pecah


mendengar kabar itu sontak membuat Zakia terkejut bukan main, ponsel yang tadinya Ia genggam kini jatuh ke lantai tanpa diperdulikan nya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut nya. Rasanya seperti ada benda tumpul yang menepuk pundaknya tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga dan jantung nya berdetak tidak beraturan. Zakia begitu syok dan benar-benar tidak siap menerima kenyataan yang ada, Zakia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya, Ia menatap nanar ke arah jendela kamarnya melihat paginya di sambut dengan kabar yang mematahkan hatinya.


Disepanjang perjalanan menuju kampung halamannya, Zakia berharap pada dirinya bahwa semua ini hanyalah mimpi, ini semua bukan lah kenyataan, namun lagi-lagi Zakia menangis hingga membuat orang-orang yang memperhatikan nya merasa kebingungan. Setelah melalui perjalanan yang lumayan jauh Akhirnya Zakia tiba di depan rumahnya dengan perasaan campur aduk, kediamannya sudah di penuhi oleh banyak orang yang datang untuk melayat. Zakia menangis sejadi-jadinya saat melihat tubuh Ayahnya yang sudah terbaring kaku dikelilingi oleh keluarga dan juga para sepupunya.


Tante Celina menghampiri Zakia yang masih berdiri di ambang pintu dan langsung memeluk keponakan nya itu dengan sangat erat. Zakia merasa seluruh tubuhnya lemah hingga kaki jenjangnya tak lagi mampu menopang berat tubuh nya, Zakia luruh begitu saja tepat di sebelah jenazah Ayah nya.


Air matanya terus mengalir memperhatikan Ayahnya yang sudah tidak menyambutnya lagi seperti biasa, ada rasa sesal yang begitu besar di hatinya yang tak bisa menemani sang Ayah saat menghembuskan nafas terakhirnya, bahkan Ia juga seakan tidak di beri kesempatan untuk mendengar kata-kata perpisahan dari Ayah yang begitu di sayangi nya


"Ayah, Zakia sudah pulang, Zakia sudah disini di samping Ayah, bangun lah Yah, walaupun hanya sebentar setidaknya Zakia masih bisa mendengar suara Ayah untuk yang terakhir kalinya" Ucap Zakia mengiba pada tubuh Ayahnya yang sudah terasa dingin

__ADS_1


Misya memeluk Zakia yang terus menerus menangis mencoba memberikan ketenangan pada adik perempuan nya itu, sedangkan Leo yang sedari tadi memeluk sang Ibu hanya bisa menangis dalam diam, mencoba menyembunyikan kesedihannya.


__ADS_2