
Rayyan merasa sangat bahagia dapat melihat tawa gadis yang disukai nya secara diam-diam itu, beberapa hari ini Zakia tampak sedih meski ia terus berusaha menutupi nya, akan tetapi Rayyan dapat melihatnya karena dirinya selalu memperhatikan Zakia. Namun meski begitu, Rayyan dapat menjaga perasaan dan juga batasannya Ia hanya bisa meminta Zakia melalui doa yang selalu Rayyan Langitkan pada Tuhannya, karena Rayyan percaya berdoa itu sama halnya seperti mendayung sebuah sepeda, lambat laun akan sampai pada tujuan.
Begitu juga perihal jodoh, karena sesuatu yang sudah di takdirkan untuk menjadi miliknya, meskipun pernah melewatkannya akan tetap menjadi miliknya walaupun melalui proses yang tidak mudah.
Bunyi panggilan dari ponselnya yang tiada henti mengganggu acara tidur Zakia, padahal ia sudah berniat untuk menghabiskan waktu liburnya dengan tidur sepanjang hari, matanya masih enggan untuk di buka Ia meraba ponselnya yang terletak di atas meja tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Hallo" ucap Zakia malas-malasan
"Astaga, hei anak gadis, lihat udah jam berapa sekarang? Masih aja tidur, ya ampun gimana mau dapat jodoh kalau modelan begini" balas Maira dengan suara nyaring nya
Zakia yang tidurnya terganggu merasa sangat kesal pada sahabatnya itu, Ia tidak tahu saja bahwa badan Zakia terasa sangat remuk saat ini akibat lembur bekerja. beruntung setiap hari Minggu Zakia libur sehingga ia bisa mengistirahatkan tubuh nya
"Kalau tidak ada hal penting, aku matikan" ujar Zakia segera menutup panggilan
Di tempat lain, Maira sedang duduk berdua dengan Fahmi, sebenarnya Maira enggan bertemu setelah kejadian Fahmi berbuat kasar pada Zakia malam itu. Akan tetapi Fahmi terus saja mendesaknya sehingga tidak ada pilihan lain selain mengiyakan ajakan tersebut.
__ADS_1
"Apasih yang mau kamu katakan? Aku males keluar lama-lama, aku juga mau istirahat tau nggak" ujar Maira tanpa basa-basi
"Bagaimana kabar Zakia? Apa dia baik-baik saja sepeninggal Ayahnya?" Tanya Fahmi tanpa tahu malu
"Pastinya tidak akan ada yang baik-baik saja saat orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita, tapi bukan berarti Zakia akan terus bersedih kan? biar bagaimanapun dirinya harus terus melanjutkan kehidupan masih ada keluarga yang harus di bahagiakan nya, jadi aku minta tolong sama kamu berhenti lah berharap padanya, jangan buat Zakia terbebani, itu pun kalau kamu masih mau kita bersahabat seperti dulu lagi" ujar Maira beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Fahmi seorang diri
Fahmi merenung, ia membenarkan semua yang Maira katakan, selama ini dia terlalu memaksa Zakia untuk menerima cinta darinya tanpa memikirkan bagaimana perasaan gadis yang disukai nya itu, Fahmi memilih untuk mengubur dalam-dalam rasa sukanya pada Zakia, sungguh sekarang Fahmi baru menyadari bahwa ia tidak bisa kehilangan Zakia, mungkin menjadi sahabat seperti dulu sudah lebih dari cukup baginya.
Lobi gedung tempat Zakia bekerja sangat ramai sekali, maklum karena sebentar lagi Natal dan Tahun baru akan segera tiba, jadi masing-masing dari mereka sibuk berbelanja untuk menyambut hari kemenangan itu dengan berbagai persiapan dan juga perasaan bahagia.
"Kamu beneran nggak pulang kampung Za?" Tanya Maira di sela-sela kesibukan mereka melayani pembeli yang terus berdatangan tanpa henti, sedangkan Zakia yang merupakan staf gudang terpaksa harus ikut membantu di bagian penjualan dikarenakan semakin ramai pengunjung yang datang untuk berbelanja
Jika boleh Zakia memilih, sejujurnya Ia sangat ingin pulang merayakan Natal dan tahun baru bersama keluarga nya, akan tetapi Ibu Leni melarang Zakia pulang dengan alasan akan membuang-buang tenaga dan juga uang, di karenakan waktu libur yang diberi hanya empat hari saja. Hal itu membuat Zakia mengurungkan niatnya untuk pulang meski semua sudah dipersiapkan oleh nya, bahkan Zakia sudah membeli beberapa jenis kue kering untuk Ia bawa, dengan perasaan sedih Zakia menurut dengan perkataan Ibunya, berharap suatu saat sang Mama dapat menyayangi dirinya seperti saudaranya yang lain.
Malam Minggu yang cerah, di malam Natal pertama bagi Zakia merayakan Natal di kota orang lain seorang diri, Zakia terus menampilkan senyum manis nya bagi orang yang menyapanya, dikala tiba waktunya berdoa Zakia berlutut menautkan kedua tangannya dan berdoa dengan sungguh-sungguh hingga tanpa sadar sebutir bening lolos dari mata indahnya. Sungguh Zakia sudah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya Zakia menangis seorang diri tanpa ada bahu tempat ia untuk bersandar dan mencurahkan isi hatinya. Zakia hanya mampu berbicara melalui doa dengan Tuhannya berharap di beri bahu yang kuat untuk memikul segala lika-liku kehidupan nya.
__ADS_1
"Selamat Natal Ayah, ini Tahun pertama Zakia merayakan Natal tanpa Ayah" lirih Zakia mengelus lembut foto sang Ayah di layar ponselnya
Seusai acara, Zakia bergegas pulang, Zakia melewati malamnya dengan sunyi. Bahkan sudah biasa baginya dulu tidak mendapatkan ucapan selamat Natal dari Ibunya, namun mengapa sekarang rasanya sangat menyesakkan dada, Zakia menatap langit yang di penuhi oleh bintang yang berkilauan. Zakia berharap dari salah satu bintang tersebut Ayahnya berada di sana dan tersenyum manis padanya.
Zakia sungguh tidak mengharapkan sesuatu yang muluk, pertanyaan yang sederhana saja sudah cukup untuk nya, atau seperti malam ini, cukup baginya dengan sang Ibu mengucapkan selamat Natal padanya. Namun sepertinya untuk mewujudkan itu sangat sulit bagi Zakia. Dengan hati yang sedikit kecewa Zakia merebahkan tubuhnya seraya mencoba untuk tertidur berharap esok hari paginya di sambut dengan kabar bahagia.
"Mau ngapain pagi-pagi sekali sudah datang ke sini?" Tanya Zakia pada Maira yang sudah berada di depan pintu kostnya di pagi buta
"Jalan-jalan yuk, Bang Rayyan, Andre dan yang lainnya sudah menunggu di depan, mereka sarapan bentar jadi kamu punya waktu untuk bersiap-siap" jawab Maira antusias
"Mau kemana emang nya?" lanjut Zakia bertanya
"Udah siap-siap aja deh, ribet banget pakai nanya-nanya lagi" ujar Maira seraya mendorong tubuh Zakia untuk segera bersiap
Zakia, Maira dan juga yang lainnya bersiap untuk berangkat menggunakan mobil pribadi milik Rayyan, meskipun dalam hal bekerja Rayyan sebagai atasan, namun saat di luar Rayyan lebih suka di anggap sebagai teman agar tidak ada perbedaan di antara mereka.
__ADS_1
"Welcome paropo" Ucap Zakia, Maira, Kania dan juga Fira antusias saat melihat gapura wisata yang akan mereka kunjungi, sedangkan Rayyan dan juga Andre hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah para wanita yang mereka bawa itu seperti baru keluar dari Goa
Paropo merupakan salah satu wisata yang sedang banyak di kunjungi oleh beberapa wisatawan baru-baru ini, tempat wisata ini berlokasi di Desa Silalahi kabupaten Dairi Sumatera Utara, keindahan Tao Silalahi ini sudah tidak di ragukan lagi bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. kawasan pantainya (Pinggir Danau) sering dijadikan wisatawan untuk bermalam dengan cara berkemah dan juga melakukan kegiatan lainnya.