
Maira dan juga Fira sedang menyiapkan makanan untuk mereka santap bersama, sedangkan Andre sibuk memancing di temani oleh Kania, keduanya memiliki hobi yang sama tak jarang terdengar perdebatan antara mereka di sebabkan Andre yang tidak sabaran.
"Kamu sih nggak sabaran, jadi lari kan tu ikan" geram Kania memukul bahu Andre
"Loh, kok malah nyalahin aku, Ikannya aja itu yang sok jual mahal, sama seperti yang di sebelah" Timpal Andre sengaja ingin menggoda wanita yang di sebelah nya itu
"Dasar nggak jelas" Kania meninggalkan Andre dan bergabung dengan yang lainnya
Menjelang sore hari, mereka mengemas seluruh barang bawaannya masing-masing dan tidak lupa membersihkan tempat yang mereka gunakan untuk berkemah selama dua hari itu, masa liburan telah usai, esok sudah harus bekerja seperti biasa. walaupun begitu sudah cukup membahagiakan bagi mereka dapat menghabiskan waktu bersama menikmati pergantian tahun di tempat yang tak kalah indah juga.
"Yah, padahal aku belum sempat foto-foto di atas gunung itu" ujar Fira memelas
"Apanya yang foto-foto, kamunya aja tidur udah seperti kebo, mau liburan atau mau nganter tidur kemari? Dasar *****" celetuk Maira
"Padahal, suasana disini sangat cocok untuk di nikmati saat liburan loh Ra, sayang sekali kamu menikmati nya hanya dalam mimpi" ujar Zakia sengaja menggoda
"Bang, sepertinya disini kurang petugas kebersihan nya, gimana kalau kedua wanita ini tinggal disini? Sepertinya mereka cocok tinggal di tempat wisata seperti ini" ucap Fira seraya menatap tajam ke arah kedua gadis yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya
"Oh, tidak bisa, bisa bangkrut usaha Bang Rayyan jika kami berdua tidak ada" jawab Maira dengan pedenya, yang justru membuat Fira geli mendengar nya
.
.
.
.
Matahari redup di petala langit. Awan abu-abu kehitaman menggelayut menandakan sebentar lagi hujan deras akan kembali mengguyur penjuru kota. "Hujan pertama di tahun yang baru" gumam Zakia saat melihat rintik hujan turun dengan perlahan
__ADS_1
Zakia kembali bekerja membereskan semua pekerjaannya sebelum jam makan siang tiba Zakia merasa terbantu dengan Andre yang memberi pekerjaan tidak terlalu berat padanya. Walaupun mereka sama-sama bekerja sebagai staf gudang yang mana harus menghandle semua stock barang yang jumlahnya saja bisa di bayangkan melihat besarnya toko tempat mereka bekerja.
Saat jam makan siang tiba, Zakia buru-buru membeli makanan untuk dirinya yang sudah sangat kelaparan, tanpa menghiraukan Maira yang memanggil dirinya
"Ya Allah Za, kamu itu sedang ngejar apasih? aku panggil berulangkali sampai nggak di gubris sama kamu" celetuk Maira
"Aduh maaf Mai, aku sudah sangat kelaparan jadi nggak sanggup lagi menyahut" jawab Zakia dengan terus melahap makanan nya
"Hari ini kan acara syukuran tempat orang tuanya Bang Rayyan? kita perginya barengan aja ya"
"Oke, oke" jawab Zakia cepat
"Astaga, kamu sudah seperti tidak makan selama berhari-hari tau nggak" ucap Maira memukul bahu Zakia pelan
.
.
.
"kita singgah sebentar ke Masjid nggak apa-apa kan? aku mau shalat Maghrib dulu takutnya nggak keburu kalau menunggu sampai ke rumah Ibu Safira" pinta Maira
"Oh ya sudah, aku menunggu di luar aja nanti"
Zakia menunggu di perkarangan Masjid seraya memainkan ponselnya, ini pertama kali baginya menginjakkan kakinya ke Masjid terlebih keindahan Masjid Raya yang merupakan Masjid bersejarah di kota Medan itu membuatnya terpana.
Masjid Raya itu menyatu dengan kompleks Istana, gaya arsitektur nya khas Timur tengah, India dan juga Spanyol. Masjid Raya ini merupakan saksi peradaban Melayu Deli yang memiliki keterkaitan nya dengan kesultanan Deli
Zakia duduk dan menikmati lantunan ayat yang di bacakan oleh seseorang di dalam Masjid, entah mengapa itu membuat hatinya merasa sangat damai. Sejenak, Ia melupakan rasa lelahnya walaupun Zakia tidak mengerti dengan arti ayat tersebut, Namun Zakia seperti terhipnotis dengan apa yang baru saja di dengar nya itu.
__ADS_1
sepuluh menit berlalu, akhirnya orang yang ia tunggu telah selesai mengerjakan kewajiban nya, Zakia melihat wajah Maira yang begitu teduh usai melaksanakan shalatnya
"Nggak lama kan?" Tanya Maira seraya memakai helm nya kembali
"Nggak kok, Oh ya Mai, apa setiap shalat bacaan yang di bacakan oleh imam shalat nya semerdu itu selalu?" Tanya Zakia penasaran
"Sebenarnya masing-masing Imam memiliki ciri khas nya tersendiri sih, kamu tahu nggak siapa yang jadi imamnya tadi?"
"Manalah aku tahu, emangnya aku ikut shalat juga tadi?" jawab Zakia polos membuat Maira tertawa dengan kebodohan nya
"Tadi itu Bang Rayyan tau yang jadi imamnya, aku aja baru tahu" ujar Maira yang juga baru tahu jika Rayyan memiliki suara seindah itu
"Serius?" Tanya Zakia tak percaya
"Iya"
Zakia dan juga Maira akhirnya tiba di rumah ibu Safira, para tamu sudah berdatangan memenuhi ruangan. Acara di mulai dengan pembukaan tuan rumah yang merupakan suami dari Ibu Safira sendiri yang tak lain juga Ayah Rayyan. Anak-anak yatim yang sengaja di undang pun silih berganti membacakan ayat-ayat dalam kitab mereka di bantu dengan suara indah yang di dengar Zakia saat di Masjid tadi.
Merasa belum percaya, Zakia membuka sedikit tirai yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan dapur tersebut. Zakia tercengang saat melihat Rayyan sedang fokus membacakan ayat dengan suara indah yang di milikinya, itu berarti Maira tidak berbohong dengan apa yang di ucapkan nya tadi.
Jantung Zakia kembali berdesir mendengar suara indah tersebut, Ia merasa aneh pada dirinya, namun Zakia juga tidak mengetahui keanehan apa yang di rasakan nya itu, yang pasti kenyamanan dan juga kedamaian kembali dirasakan oleh nya saat mendengar lantunan ayat yang Ia sendiri pun tidak tahu artinya.
.
.
.
Hujan rintik-rintik kembali membasahi bumi Zakia berjalan tergesa menyebrangi jalanan berniat untuk pulang setelah selesai mengerjakan ibadah Minggu nya. sebenarnya beberapa hari ini Zakia kurang sehat terlihat dari wajahnya yang tampak sedikit pucat, tangan Zakia bergetar saat darah segar mengalir dari hidungnya, ia mengambil tisu yang ada dalam tasnya dan berusaha menutupi hidungnya agar darah tidak terus mengalir. Matanya memang hanya mampu mengeluarkan air mata, tetapi hatinya sedih dikala mengingat dirinya sendiri disaat sedang sakit begini.
__ADS_1
Ada rasa rindu yang selalu Ia simpan sendiri hingga rindu itu pun berlalu dengan sendirinya tanpa tersampaikan pada orang yang dirindukan. Zakia termenung untuk sesaat sebelum kembali melangkah kan kaki nya menelusuri lorong rumah untuk menuju kamarnya