
Dalam ruangan Gereja telah terisi penuh jemaat yang ikut mengantarkan Ayah Zakia ketempat peristirahatan terakhirnya, Ayah Zakia merupakan seorang Lektor/Pendeta yang ramah dan juga mudah berbaur pada siapa saja hingga tidak sedikit yang merasa kehilangan
Zakia duduk tepat di sebelah peti Ayahnya, ia terus memandangi wajah sang Ayah yang merupakan Cinta pertama dalam hidupnya dengan sekali-kali menyeka air matanya, perih hatinya semakin bertambah melihat Ibunya terus menggenggam tangan Ayahnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Zakia masih setia duduk di makam Ayahnya bersama dengan Leo adiknya, untuk sesaat mereka terdiam dengan pikiran masing-masing
"Kak, kemarin Ayah berjanji padaku bahwa kali ini Ayah akan menemani ku mendaftar di sekolah Negeri sebagai hadiah untukku, dan hasil ujian ku juga semuanya bagus bahkan aku membuktikan pada Ayah bahwa aku bisa masuk ke sekolah yang selama ini aku impikan, tapi kenapa Ayah tidak menepati janjinya padaku" Ucap Leo dengan tangis yang sedari tadi dia tahan
Zakia memeluk Adiknya, sungguh Ia pun tidak bisa memberikan ketenangan melihat dirinya yang juga sama rapuhnya
"Setidaknya Ayah sudah bahagia dengan prestasi Leo, Ayah bukan tidak ingin menepati janjinya, selama ini Ayah sudah berusaha untuk selalu ada bersama kita hanya saja, rasa sayang kita tidak setara dengan sayang nya Tuhan pada Ayah". ujar Zakia melihat pusara Ayahnya dengan tatapan sendu
keesokan harinya Zakia bangun lebih awal, ia membereskan semua barang bawaannya, karena sore nanti Zakia harus kembali meninggalkan kampung halamannya dan kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. sebenarnya Zakia masih ingin berlama-lama hanya saja Zakia juga punya tanggung jawab pada pekerjaan nya, beberapa bulan terakhir dirinya sering sekali cuti di karenakan sang Ayah yang harus dia nomor satukan.
"Ma, nanti sebelum berangkat Zakia kemakam Ayah dulu ya sebentar" pinta Zakia pada Ibunya
"Terserah padamu saja, dari dulu kamu memang tidak pernah mau mendengar ucapan Mama, apa salahnya tinggal disini saja kakakmu? Ingat Zakia kamu itu perempuan, lebih sulit menjaga diri diluaran sana dan lagi telinga Mama ini sudah panas mendengar omongan para tetangga tentangmu, tidak bisakah sekali ini saja kamu mendengar omongan Mama?" ucap Mama Leni yang merupakan Ibu Zakia dengan wajah datarnya
"Maaf Ma, tapi Zakia sudah nyaman bekerja di sana, lagi pula Zakia harus mencari uang untuk membantu meringankan beban Mama, maafkan Zakia Ma" ujar Zakia menunduk
"Dari sejak lahir, kamu memang tidak pernah menyenangkan hatiku" Ucap Ibu Leni dengan menatap tajam kearah Zakia
__ADS_1
Kini Zakia berada di makam sang Ayah dengan membawa bunga dan menaburinya diatas makam Ayahnya, Zakia berusaha untuk tidak menangis tapi mengingat kembali kata-kata yang di lontarkan sang Ibu padanya membuat hati nya sakit, sebenarnya Zakia sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh Ibunya sedari kecil Zakia selalu dibedakan bahkan di tuntut untuk dewasa sebelum waktunya, Zakia selalu mengalah kepada kakak dan juga adiknya jika tidak mau dirinya di marahi oleh sang Ibu, jika dulu Ia punya tempat untuk mengadu dan bersandar saat dirinya menangis tapi sekarang Zakia sudah kehilangan itu
Cinta pertama dalam hidupnya telah kembali kepangkuan Ilahi tanpa memberikan pelukan terakhir kepadanya. "Bahagia disana ya Yah, doakan Zakia disini bisa membahagiakan Mama" kata Zakia lirih seraya melangkahkan kakinya meninggalkan makam sang Ayah
Wajah Zakia tampak begitu lelah, baru saja Ia ingin merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya, namun saat melihat jam di nakas yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi membuat Zakia mengurungkan niatnya. Zakia bergegas membersihkan diri dan menyantap makanan yang di bekali Tante Celina padanya kemarin sebelum dirinya berangkat, begitu lah selalu kehidupan Zakia meskipun ia tidak pernah di perhatikan oleh Ibunya namun Tante Celina sudah Ia anggap seperti Ibunya juga, yang memberikan kasih sayang yang tidak pernah Zakia dapatkan dari Ibu kandungnya sendiri.
"Zakia...!" teriak Maira dari arah belakang membuat gendang telinga siapapun yang mendengarnya serasa mau pecah
"Bisa nggak sih Mai kebiasaan burukmu itu di ubah? kita di kota ini loh bukan di hutan" ujar Zakia dengan wajah datarnya
"Sorry, sorry" balas Maira cengengesan seraya mengapit lengan sahabatnya itu
"Terimakasih Bg Ray" ucap Zakia tulus saat Rayyan memberikan sebuket bunga padanya
"Sama-sama, jangan terlalu larut dalam kesedihannya ya Dek, semua sudah menjadi takdirnya" ujar Rayyan yang di balas dengan anggukan kepala oleh Zakia
"Sebenarnya yang membuat aku lebih terharu itu, melihat kalian semua sudah tiba di toko lebih dulu mendahului aku, ini momen yang langka sih dan harus di abadikan" ucap Zakia dengan candaan mencoba mencairkan suasana hatinya yang tiba-tiba di liputi rasa sedih
"Ck! Dasar ini anak, mentang kita sering datang terlambat jadi terkejut batin lah ya? Itu sih karena kamu datang setelah shalat subuh makanya nggak pernah telat" timpal Kania dengan mengundang tawa semua yang ada di sana
__ADS_1
Angin malam menembus kulit Zakia, Ia melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam hari ini Ia lembur bekerja, Zakia berdiri di bahu jalan menunggu ojek online yang Ia pesan tak kunjung tiba padahal dirinya sudah memesan lima belas menit yang lalu, Zakia merasa khawatir karena jalanan mulai sunyi dan langit pun tampak hitam pekat menandakan mungkin sebentar lagi hujan deras akan mengguyur kota kembali
"Loh, belum pulang dek?" sapa Rayyan yang tiba-tiba berhenti di depan Zakia dengan mengendarai sepeda motor kesayangan nya
"Belum Bg, Kia lagi nunggu gojek pesanan Kia datang" balas Zakia
"Ya sudah ayo Abang antarkan saja, bentar lagi hujan dan juga bahaya Zakia menunggu sendirian disini" ujar Rayyan menawari
"Tidak usah Bang, Kia nggak apa-apa kok, masa atasan nganter bawahan sih? apa kata orang nanti" tolak Zakia tak enak hati
"Abang nggak suka ya mendengar kata-kata barusan, udah ayo naik sebelum Abang paksa"
Zakia mengangguk dan segera naik ke atas motor milik Rayyan, mau berdebat bagaimanapun dirinya tidak akan pernah menang jika berhadapan dengan Rayyan Ardiansyah. namun baru saja berjalan hujan deras sudah mengguyur membuat pakaian yang di kenakan Zakia dan juga Rayyan basah dalam sekejap.
"Mau berteduh dulu?"
"Tidak usah Bang, udah keburu basah juga lagi pula kita kan belum ada yang mandi, jadi wajar aja hujan" ujar Zakia disertai dengan tawa
"Oh, iya ya, pantesan saja hujan orang Zakia belum mandi" balas Rayyan sengaja menggoda Zakia.
__ADS_1
"Ck! yang bilang juga sama kali" ujar Zakia memukul pelan bahu Rayyan