Syahadat Cinta Zakia

Syahadat Cinta Zakia
Bab 5


__ADS_3

"Sekarang kita bagi tugas ya, Abang dan juga Andre yang akan mendirikan tenda dan kalian para perempuan menyiapkan makanan" Ucap Rayyan memberikan instruksi bagaikan sedang menjalani kegiatan Pramuka


"Siap bosssssssss" Jawab mereka serentak


"Syukurlah kita sampai tepat waktu, jadi tenda kita bisa berada tepat di pinggir Danau" lanjut Maira bersemangat


Setelah selesai berbenah, Zakia keluar dari dalam tenda mencoba menikmati udara malam. Sejenak, Zakia melupakan rasa sedihnya setidaknya Ia masih bisa merayakan pergantian tahun bersama para sahabatnya.


"Boleh Abang duduk disini?" Tanya Andre pada Zakia yang sedang menikmati tiupan angin malam di atas bebatuan di pinggir Danau


"Duduk aja kali, sejak kapan Abang menjadi begitu sopan?" Jawab Zakia tanpa menoleh


Awalnya Andre memang hanya ingin menikmati keindahan Danau di malam hari yang di hiasi dengan lampu-lampu yang menerangi setiap sudut tempat wisatanya. Akan tetapi saat melihat wajah Zakia yang begitu serius membuat Andre ingin menjahili wanita yang memiliki senyuman manis dan juga berparas cantik itu.


Andre melempar batu yang berukuran lumayan besar tepat di depan Zakia, membuat pakaian yang Zakia kenakan sedikit basah. "Ups, sorry, Abang kirain patung tadi" Ujar Andre dengan sengaja


Zakia yang merasa di jahili pun tidak tinggal diam, Ia membalasnya dengan mendorong sedikit tubuh Andre, Namun naasnya Andre tidak dapat menyeimbangkan badannya hingga akhirnya Ia terjatuh kedalam air.


"Eh, Maaf, maaf Bang, Zakia tidak bermaksud mendorong kuat tadi" ujar Zakia tak enak hati lalu mengulurkan tangannya merasa bersalah


Namun bukannya marah, Andre malah menarik tangan Zakia. kini keduanya sama-sama basah dan sibuk bermain Air tanpa mengetahui ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka sedari tadi.

__ADS_1


Hari masih pagi, Namun Zakia sudah bersantai dengan membaca novel di temani secangkir teh hangat untuk mengurangi sedikit rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang, Zakia yang lupa membawa jaketnya terpaksa hanya menutupi tubuhnya dengan selimut tipis yang Ia bawa satu-satunya sebagai penghangat tubuh. di sela-sela rasa bahagia yang di rasakan nya saat ini, masih ada rasa nyeri, sedih dan juga kecewa yang menyeruak


Zakia teringat saat dirinya masih tinggal bersama kedua orang tuanya beberapa tahun terakhir, saat itu Zakia masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu keadaan keluarga mereka sangat sulit, mungkin itu tahun yang sangat berat untuk keluarga Zakia jalani. Penyakit yang di derita oleh Abraham yang merupakan Ayah Zakia saat itu sering sekali kambuh hingga membuat nya keluar masuk rumah sakit untuk menjalani pengobatan, hutang yang semakin menumpuk sedangkan kebutuhan semakin bertambah. Ibu Zakia merasa putus asa semua sudah di upayakan untuk meminjam kesana kemari namun hasilnya tetap nihil di karenakan hutang yang sebelumnya belum terlunasi.


"Ma, besok kan Natalan masa aku harus pakai baju yang tahun kemarin sih" Ujar Leo merengek pada sang Ibu


"Iya Ma, aku juga malu, pokonya aku tidak mau pergi Natalan kalau tidak pakai baju baru" Ucap Misya menambahi


Berbeda dengan Zakia, Ia tidak memiliki keberanian untuk meminta pada sang Ibu walau sebenarnya Zakia juga menginginkan nya, hingga pada saat malam Natal tiba terjadi keributan di rumah, Leo yang menangis dengan keras meminta untuk di belikan baju baru begitu juga dengan Misya keduanya sama-sama menangis tanpa mau mendengar bujukan dari sang Ibu


"Kau kenapa belum bersiap? nggak mau pergi juga? mau ikutan meminta di belikan baju baru juga, Hah!" sentakan keras itu membuat Zakia terkejut


"Ti...dak Ma" jawab Zakia terbata


Melihat putrinya di perlakukan tidak adil oleh sang Istri, membuat Abraham hanya bisa menitikkan air mata, berulangkali Ia menasehati untuk berlaku adil. Namun sepertinya nasehat itu tidak sampai pada hati istrinya


keesokan harinya Misya merasa sangat bahagia di karenakan keinginan nya di penuhi oleh sang Ibu, begitu juga dengan Leo keduanya lalu bersiap untuk berangkat ke acara Natal antar Gereja mengenakan baju baru yang tentunya mereka dapat dari Ibunya pagi tadi, Zakia memberanikan diri untuk bertanya perihal baju yang belum Ia dapatkan mungkin saja Ibunya lupa memberikan padanya, pikir Zakia


"Ma, baju untuk Zakia mana?" Tanya Zakia menunduk merasa takut


"Pakai saja apa yang ada, jangan lagi menambahi beban Ibu" Balas Ibu Leni dengan tatapan tidak sukanya

__ADS_1


Zakia menangis seorang diri di dalam kamarnya dengan memeluk kedua lututnya, Ia mengurungkan niatnya untuk pergi tanpa adanya bujukan dari sang Ibu seperti halnya yang di lakukan pada Misya dan juga Leo adiknya. sejak saat itu Zakia tidak pernah menuntut apapun lagi dari Ibunya, Ia hanya berharap suatu saat Ibunya juga akan sayang padanya tanpa membedakan nya.


Mengingat hal itu membuat Zakia kembali merasakan sakit, Ia menghela nafas panjang berusaha untuk menetralkan hatinya dan mencoba melupakan kejadian yang sudah berlalu. "Masih pagi sudah melow aja, mikirin apa?" Tanya Rayyan yang tiba-tiba sudah berada di samping nya


"Eh, mana ada Kia melow, sok tahu Abang" Kilah Zakia membenarkan posisi duduknya


"Jalan-jalan yuk, menghirup udara pagi mumpung yang lainnya masih tidur" ujar Rayyan melepas jaketnya dan memakainya pada Zakia


"Itu ada sepeda, sepertinya lebih seru jalan-jalannya kalau menggunakan sepeda" Jawab Zakia menunjukkan tempat menyewa sepeda bagi para pengunjung


Setelah menghitung kurang lebih satu jam Zakia dan juga Rayyan jalan-jalan mengelilingi Danau menggunakan sepeda, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali setelah merasa cukup puas menikmati keindahan alam dan juga udara yang benar-benar sejuk tanpa adanya polusi.


"Gimana cara turunnya ini, Kia takut" ucap Zakia melihat jalanan yang akan mereka lewati memiliki kemiringan dan juga sedikit curam, berbeda dengan yang sebelumnya mereka lewati


"Tidak apa-apa, nanti Abang pegangi dari belakang" ujar Rayyan memberikan ketenangan pada Zakia


Zakia memberanikan diri untuk turun secara perlahan, yang dirasakan nya sepedanya sedikit melambat luncurannya di karenakan Rayyan menahannya dari belakang. Namun Rayyan pikir Zakia sudah bisa menyeimbangkan nya hingga Rayyan pun melepas pegangannya


"Aaaaaa....!" teriak Zakia histeris saat Ia tidak bisa menguasai sepedanya yang terus meluncur ke bawah


Belum sempat Rayyan mengejar, Zakia tersungkur dengan posisi menimpa sepedanya, membuat luka goresan pada lengan dan juga lutut Zakia

__ADS_1


"Ih, Abang bilang mau megangi, tapi kenapa di lepas?" Kesal Zakia


"Ya, Abang pikir Zakia sudah bisa sendiri" Timpal Rayyan menahan senyumnya merasa sangat lucu melihat ekspresi wajah Zakia yang sedang kesal padanya.


__ADS_2