Syahadat Cinta Zakia

Syahadat Cinta Zakia
Bab 10


__ADS_3

Bukan tanpa sebab Zakia memupuskan cintanya sebelum berkembang, bagaimana mungkin Ia bisa terus mencintai jika saat itu perasaannya terus di abaikan.


Pada dasarnya, perempuan memang selalu nomor satu soal menyimpan perasaan, ada kalanya mereka tidak berhenti mencintai tapi hanya berhenti menunjukkan nya. Namun saat hatinya sudah tidak lagi berdebar seperti saat dirinya masih mencintai, justru saat itu Fahmi baru menyadari perasaannya yang pastinya sudah sangat-sangat terlambat untuk di utarakan.


"Ada tamu rupanya" ucap Ibu Fatimah membuyarkan lamunannya


"Apa kabar Ibu? maaf Zakia sudah lama tidak berkunjung" ujar Zakia memeluk Ibu Safira


"Alhamdulillah Ibu sehat, Ibu sudah kangen banget sama kamu, Ibu kirain udah nggak mau lagi datang kemari"


"Mana bisa aku tidak berkunjung kesini, rugi dong tidak bisa makan masakan terenak Ibu lagi"


"Kamu ini, selalu saja begitu padahal masakan Ibu juga biasa saja, udah ayo masuk kita sarapan sama-sama kebetulan Ibu masak sayur capcay kesukaan mu" ujar Ibu Fatimah menggandeng tangan Zakia


perlakukan lembut yang Zakia dapatkan dari Ibu Fatimah selalu saja berhasil menghangatkan hatinya, "Ah, andai saja Mama juga memperlakukanku seperti ini pasti aku bahagia sekali" batin Zakia pilu


Setelah selesai sarapan bersama, Zakia membantu Ibu Fatimah bersih-bersih. Sebenarnya Fahmi memiliki seorang kakak perempuan dan dua orang adik laki-laki. Namun di karenakan sang kakak sudah berkeluarga dan ikut bersama suami membuat Ibu Fatimah mengerjakan semua nya sendiri walaupun sesekali Fahmi membantu saat hari libur begini


Semua kini berkumpul di ruang keluarga sembari bercengkrama ria, sesekali adik-adik Fahmi menggoda Zakia di karenakan duduk di sebelah Fahmi. Zakia merasa gugup, akan tetapi bukan karena bersebelahan dengan Fahmi, melainkan karena sesuatu yang ingin di katakan nya.


"Buk, sebenarnya ada yang ingin Zakia bicarakan?" ucap Zakia menautkan kedua tangannya merasa sangat gugup


"Apa itu? kenapa kelihatan begitu gugup? apa ini masalah serius?" Tanya Ibu Fatimah melihat wajah Zakia yang terlihat sangat gugup itu


Zakia menghela nafas panjang berusaha menetralkan hatinya dari rasa gugup yang sudah memenuhi rongga dadanya


"Zakia ingin memeluk Agama Islam Buk"


Sontak, kedua orang tua Fahmi terkejut mendengar apa yang baru saja di dengar oleh telinga mereka, tak terkecuali Fahmi sendiri yang sudah menoleh ke arah Zakia meminta kejelasan mengenai apa yang baru saja di dengar nya itu


"Kamu serius? apa ada sesuatu yang memaksakan kamu untuk melakukan hal ini? agama bukan untuk main-main Nak" ujar pak Taufik yang merupakan Ayah Fahmi


"Zakia serius Pak, ini pilihan aku sendiri sebenarnya beberapa bulan belakangan ini aku sudah mempelajari sedikit tentang Agama Islam. Aku tersentuh setiap kali mendengar ayat-ayat suci Al-Qur'an yang aku sendiri pun tidak tahu artinya, aku merasa damai dan juga tenang setiap kali mendengar suara Adzan yang menggema di telinga ku, dan aku punya alasan-alasan lain yang ku kuatkan menjadi satu alasan dari semua itu aku mulai nyaman dan tertarik dengan Islam. Hidayah itu memang tidak datang secara langsung, aku pernah mencoba untuk berhenti, mengatakan pada diriku mungkin saja itu hanya rasa penasaran saja namun nyatanya tidak. Aku mencintai apapun yang berhubungan dengan Islam. Agamanya, Tuhannya, pemeluknya ya, aku mencintai semua itu." ucap Zakia dengan mata berkaca-kaca

__ADS_1


"MasyaAllah, Alhamdulillah. begitu indah hidayah itu menyapa hatimu Nak" Ujar Pak Taufik yang tak kalah haru, bahkan kini Ibu Fatimah sudah menangis terharu seraya memeluk tubuh Zakia dengan lembut


"Semoga Allah memudahkan jalan untuk mu Za" ucap Fahmi tersenyum melihat Zakia yang masih berada dalam pelukan Ibunya


.


.


.


Didalam sebuah Masjid yang bermuatan kurang lebih 60 orang itu, Zakia duduk berdampingan dengan ibu Fatimah. Zakia merasa gugup hingga permukaan tangan nya pun sudah terasa sangat dingin


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu, Alhamdulillah di pagi yang cerah ini yang InsyaAllah dimana saudari kita, saudari Zakia Kairani akan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan kita semua dan yang paling utama di hadapan Allah Subhanahu wata'ala" Ujar ustadz Khalid membuka acara


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu" jawab segenap yang hadir di ruangan itu


pagi itu, Zakia akan mengucapkan dua kalimat syahadat yang hanya akan di saksikan oleh Fahmi dan keluarganya beserta para jamaah Masjid yang turut hadir untuk menyaksikan. Zakia sengaja tidak memberi tahukan pada Maira dan juga yang lainnya ia berniat ingin memberi surprise pada para sahabatnya itu


"Tidak ustadz, ini murni keinginan saya sendiri" ujar Zakia tersenyum


"Baik, kira-kira apa yang membuat saudari Zakia memilih untuk memeluk agama Islam?"


"saya melihat kedamaian dalam agama Islam, saya merasa nyaman berada di antara para pemeluknya dan ada banyak hal yang membuat saya mencintai Islam, hingga saya ingin mempelajarinya lebih dalam lagi"


"MasyaAllah, apa saudari Zakia masih mempunyai orang tua?"


"Saya hanya mempunyai Ibu, ayah saya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu ustadz"


Ustadz Khalid mengangguk. "Baik, Perlu saudari Zakia ketahui meskipun nantinya saudari Zakia memiliki perbedaan keyakinan pada sang Ibu. saudari Zakia harus tetap menghormatinya sebagai seorang Ibu. Namun jika nanti mereka mengajak untuk kembali pada agama mereka, maka saudari Zakia bisa menolaknya secara halus."


"Dan yang terakhir, sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam agama Islam, ada kewajiban berupa ibadah seperti shalat, puasa zakat dan yang lainnya. Apa saudari Zakia siap menjalani itu semua?"


"Saya siap ustadz" jawab Zakia mantap

__ADS_1


"MasyaAllah, Alhamdulillah. kalau begitu mari ikuti saya, saya akan membimbing saudari Zakia untuk mengucapkan dua kalimat syahadat".


"Bismillahirrahmanirrahim"


"Bismillahirrahmanirrahim"


"Asyhaduanla ilahaillallah"


"Asyhaduanla ilahaillallah"


"Wa Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah"


"Wa Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah" suara Zakia bergetar menahan tangisnya


"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"


"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"


"Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah"


"Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah" lanjut Zakia dengan air mata yang sudah membasahi pipinya


"Alhamdulillah" ucap seluruh jamaah yang ikut menyaksikan momen mengharukan itu


"Sekarang Nak Zakia sudah menjadi seorang muslimah. jadilah muslimah yang taat perintah Allah, Istiqomah dalam agama Islam ini jadilah muslimah yang menjaga martabat diri jauhi larangan Allah dan dekatkan lah diri kepada-Nya. InsyaAllah semua akan dipermudah oleh-Nya"


"Terimakasih ustadz, InsyaAllah saya akan mendengar nasihat ustadz"


Air mata haru dan juga bahagia kembali lolos dari pelupuk mata Zakia, akhirnya ia berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat yang mana kini dirinya sudah menjadi bagian dari Islam yang dia damba-dambakan. Zakia mengelus dadanya yang terasa damai dan juga nyaman


"MasyaAllah, tabarakallah. selamat Nak semoga Istiqomah" ucap Ibu Fatimah memeluk dengan haru


"Terimakasih Bu" Zakia membalas pelukan itu

__ADS_1


__ADS_2