
Matahari sudah kembali ke peraduannya seluruh keluarga juga sudah kembali pulang di karenakan hari semakin gelap terkecuali Zakia. Zakia masih ingin berlama-lama bersama dengan Ayahnya sebab esok hari ia sudah harus kembali meninggalkan keluarganya, Zakia ingin melepas rindu sebelum rindu itu kembali memenuhi hatinya
Zakia memasuki rumah dengan begitu santainya ia berjalan tanpa menghiraukan keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tamu. Zakia tidak sadar karena pikirannya sudah di penuhi dengan sholat nya yang hampir tertinggal bahkan ia juga belum berbuka puasa
"Berhenti di situ"
Suara datar dan juga dingin itu sudah tidak familiar lagi di telinganya. Zakia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara laki-laki yang memandang dirinya dengan tatapan tajam, Zakia bisa melihat ada aura kemarahan di mata Edi Abang pertamanya yang ia sendiri pun tidak tahu penyebabnya
"Bisa jelaskan apa ini?" Tanya nya dengan melemparkan sebuah benda yang membuat Zakia seketika terdiam, tubuhnya membeku bahkan tatapan matanya mulai di selimuti ketakutan
"Aku tanya apa itu? Tidak ada mulut mu untuk menjawabnya. Hah!" suara itu kian meninggi membuat Zakia semakin kaku hingga kesulitan untuk bersuara
"I...tu, itu. Zakia bisa jela-" Plak ucapan nya terpotong saat sebuah tamparan keras mengenai pipinya
"Dasar anak tidak tahu di untung, aku menyesal pernah melahirkan kau di dunia ini kenapa kau tidak Mati saat itu juga Sialan! Cuiih " Ucap Leni Ibunya meludahi tepat di wajah Zakia
Zakia mendongak menatap Ibunya dengan perasaan terluka, setelah hidup selama 24 tahun ini. Zakia baru benar-benar merasa sangat terluka dengan kata-kata yang di lontarkan oleh wanita yang telah melahirkannya di dunia ini
"Terimakasih Ma, terimakasih untuk tamparannya Zakia sudah lama tidak merasakannya" Ucap Zakia dengan tetap tersenyum seraya menyeka ludah di wajahnya
__ADS_1
Zakia berjongkok dan mengumpulkan semua peralatan shalatnya yang berserakan di lantai semua sudah terjadi, ketakutannya selama ini akhirnya terjadi hari ini.
Dengan gerakan cepat Edi menarik rambut panjang Zakia dengan sangat keras hingga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Matanya menatap Zakia dengan tatapan penuh kemarahan dan juga di selimuti kebencian Edi melayangkan tamparan bertubi-tubi di wajah mulus Zakia seketika membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah
Orang-orang yang ikut menyaksikan nya hanya terdiam tanpa melerai Edi yang saat itu sudah di kuasai amarah yang menggebu-gebu, mereka juga seakan kecewa dengan Zakia yang mengkhianati kepercayaan turun-temurun keluarga mereka
"Berani sekali kau mengkhianati kepercayaan keluarga kita, apa kau tidak merasa malu sedikit pun. Hah! Mau di taruh dimana muka kami di depan para jemaat yang mengetahui kau sudah memeluk keyakinan Agama lain Sialan" Bentak Edi pada Zakia yang masih menampilkan senyuman nya meski rasa sakit di pipinya juga membuatnya sesekali meringis
"Ini pilihan ku, aku berhak memilih apapun itu untuk kehidupanku dan untuk apa aku merasa malu? Apa aku membuat kesalahan? Tidak bukan, apa selama ini kalian pernah peduli padaku? Apa aku pernah kalian anggap sebagai Anak ataupun adik? Lantas, kenapa setelah aku memilih jalan untuk hidupku sendiri membuat kalian marah?" Ucap Zakia menatap seluruh keluarganya dengan tatapan penuh sakit dan kekecewaan
Plak
"Singkirkan semua itu dan kembali sebelum aku benar-benar menganggap mu sudah Mati" Ucap Leni membuat Zakia tersenyum tipis mendengar kata-kata Ibunya
"Bukannya selama ini aku bagaikan sudah Mati di mata Mama? Lalu untuk apa lagi aku kembali? Apa setelah aku menyingkirkan semua ini dan kembali akan membuat Mama menyayangi aku dan menganggap aku ada? Tidak kan? Jadi jangan merasa seakan-akan terkhianati Ma, jangan merasa tersakiti atau pun kecewa karena pilihanku. Karena disini aku yang lebih dulu merasakan itu Ma, Aku yang lebih dulu merasakan sakitnya tidak di pedulikan" Ucap Zakia dengan air mata yang sudah tidak bisa di bendung nya lagi
"Jadi kau tidak mau meninggalkan Agama baru mu itu HM? Baiklah lihat saja apa yang akan aku lakukan, aku mau melihat sejauh mana kau mampu mempertahankan pilihan sialan mu itu" Ucap Edi berjalan menuju kamar milik Zakia mengeluarkan segala barang-barang miliknya dan membakar nya tanpa tersisa
Zakia terus memberontak ingin menyelamatkan barang-barang miliknya termasuk peralatan shalatnya, Zakia tidak mempermasalahkan baju-bajunya tapi ia tidak bisa membiarkan peralatan shalatnya ikut di bakar, karena itu adalah barang satu-satunya yang ia miliki untuk menunaikan kewajiban nya
__ADS_1
"Jangan! jangan, aku mohon yang itu jangan di bakar Dek. Kakak mohon dengar kan kakak untuk yang terakhir kali ini saja, tolong jangan di bakar yang itu plis kakak mohon" Pinta Zakia memohon membuat Leo sang adik tidak tega akan tetapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa, Leo tidak memiliki keberanian untuk membantah pada perintah Edi dan juga Sang Ibu
"Lepas, lepaskan aku" Zakia terus memberontak hingga akhirnya Edi melepas cekalan tangannya saat sudah merasa puas melihat seluruh barang-barang milik Zakia hangus terbakar tanpa tersisa
"Sudah puas! kalian sudah puas sekarang? Cari, cari apalagi yang bisa kalian bakar atau kalian mau membakar aku juga?" Tanya Zakia memandang ke arah seluruh keluarga dengan tatapan penuh luka
"Kalau itu yang kau inginkan aku bisa mewujudkan nya anak Sialan" ucap Leni mencengkeram dagu Zakia dengan kuat hingga kuku-kuku tangannya menancap di kulit Zakia
Zakia hanya terdiam tidak ada tangisan ataupun rintihan seperti tadi, Ia hanya tersenyum dan menatap manik mata Ibunya yang tidak pernah memancarkan kehangatan untuknya. saat ini Zakia sudah tidak takut lagi dengan kesakitan fisik ataupun hatinya hanya satu yang ada dalam hatinya yaitu memperjuangkan pilihannya meskipun harus mempertaruhkan nyawanya
"Lakukanlah lah Ma, aku tidak akan memberontak jika Mama yang melakukan nya sendiri. setidaknya itu hadiah yang bisa Mama berikan padaku, Mama yang melahirkan aku dan aku akan sangat bahagia jika Mama juga yang meniadakan ku" ujar Zakia dengan wajah datar seperti raga tak bernyawa
Sedangkan Edi yang melihat ketidak gentaran Zakia pada pilihannya membuat amarahnya kembali memuncak ia segera menarik kesper yang di pakainya dan segera menyambuki tubuh Zakia dengan bringas
Leo yang sudah tidak sanggup melihatnya segera menghentikan keberingasan sang Abang yang menyiksa Zakia tanpa belas kasihan
"Sudah Bang hentikan, kasihan kak Zakia" ucap Leo mengambil alih kesper dari tangan Edi seketika membuat Edi menatap tajam ke arahnya
"Kau mau membelanya juga? atau kau mau ikut-ikutan seperti dia juga, mempermalukan keluarga kita?" Bentak Edi yang merebut kembali tali kesper nya dan hendak melayangkan nya ketubuh Zakia. Namun lagi-lagi ada seseorang yang menahannya dan kali ini dengan orang yang berbeda
__ADS_1
"Sudah cukup, Cukup Edi" Bentak Celina yang sudah tidak tahan lagi melihat Zakia yang terus-menerus di siksa. Celina memang kecewa dengan pilihan Zakia akan tetapi ia tidak sepenuhnya menyalahkan Zakia karena ia mengerti mungkin saja Zakia mencari kenyamanan dan kebahagiaan nya sendiri di sebabkan kedua hal itu tidak ia dapatkan dari keluarganya.