
Pintu pagar yang menjulang tinggi itu terbuka, nampak security menghampiri mobil kami, kak Bima memperlihatkan kartu undangan dari pemilik rumah ini, kamipun dipersilahkan masuk
Rumah mewah ini memiliki halaman yang sangat luas, lebih luas dari rumahku, garasi mobil yang besar dengan mobil-mobil mewah berjajar anggun didalamnya, salah satu petugas menghampiri kami ketika kami turun, dan memarkirkan mobil entah dimana
Kami diarahkan kekolam renang, tempat diadakannya pesta, aku melihat sekeliling area pesta ini sambil merapikan gaunku, waahhh termasuk mewah banget untuk acara pesta rumahan
ada lapangan basket disudut kiri rumah ini, sepertinya pemiliknya suka basket, saking sukanya sampai bikin lapangan segede lapangan basket disekolah huft
"Happy Birthday Jeung Liza.. tambah cantik dan awet muda yaa"
Mama cipika cipiki sama temannya, tuan rumah pesta ini, temannya melihat kearah ku dan kak Bima, papa tidak jadi ikut karena ada rapat komisaris dadakan
"Haaii mereka pasti anak-anakmu..?"
"Ohiyaa... Bima.. Nay ayo salim sama tante Liza"
Aku dan kak Bima langsung menghampiri teman mama itu, tante Liza memandangi kami berdua dengan seksama
"Sudah pada besar yaa Sis... terakhir aku ketemu mereka 10 tahun yang lalu masih pada imut-imut?"
"Iya, kamu selalu sibuk bolak balik Jakarta-Amerika jadi kita nggak sering kumpul-kumpul lagi kaya dulu hehe"
Tante Liza tersenyum manis mendengar jawaban mama, dia mengelus rambutku
"Cantik... mirip kamu waktu masih muda dulu Sis, kamu tau dulu tuh mama kamu sudah matahin hati banyak anak cowok" kata tante Liza sambil nyegir
"Hahaha Kamu juga nggak kalah banyak sama aku" balas mama disambut cekikikan tante Liza
"Sini...!" tiba-tiba tante Liza memanggil seseorang dibelakangku sambil melambai-lambaikan tangannya
Aku mau nengok tapi takut dibilang kepo, jadinya aku tetap berdiri diam disamping mama, kak Bima udah menghilang, entah cari makanan atau cari cewek
"Nah dia anakku Sis, yang kemarin nemenin aku keacara nikahan anakmu"
Mama langsung balik badan, aku auto ikut balik badan juga dan langsung kaget melihat sosok yang sudah berdiri menjulang didepanku sekarang ini
"Kak Arga..."
__ADS_1
Jadi dia anaknya teman mama
"Tante...." sapa kak Arga sambil cium tangan mamaku
"Tatiana..." dia lanjut menyapaku
"Loohh kalian saling kenal? satu sekolah atau gimana?"
Mama bolak balik melihatku dan kak Arga
"Dia kakak kelasku ma" jawabku sambil mendongak liat mukanya kak Arga, seperti biasa dia balas natap sambil naikin sebelah alisnya, huh sok cool
"Oh yaampun aku lupa, sekolah itu kan salah satu dari yayasan dibawah naungan perusahaanmu yaa, sudah pasti anakmu juga masuk sana"
"Arga... kamu ajak Tatiana keliling rumah yaa, mama mau bernostalgia dulu sama tante Siska"
Tanpa menunggu persetujuan kami, tante Liza mendorongku dan kak Arga supaya bergegas meninggalkan mereka, kulirik mama dia mengangguk, langsung aku ikutin langkah kak Arga
Sebenarnya dia mau ngajak aku keliling atau nggak sih? jalannya cepat-cepat banget udah kaya mau ambil gaji aja huft
"Kita mau kemana sih? pelan-pelan dong jalannya aku pakai high heels nih!" suntukku kesal sambil menatap tajam punggungnya
"Ternyata kamu bisa cantik juga ya"
Diucapkan sambil tersenyum sinis, entah itu artinya pujian atau ejekan. Dan dia kembali lanjut jalan lagi
"Dasar gunung es, ngapain aku ngikutin kamu, kerajinan" gerutuku kesal sambil hentakin kedua kakiku
Aku jalan berlawanan arah dengannya, mending aku cari kak Bima deh, daripada ngekor dia yang nggak jelas, jadi tuan rumah tetap aja nggak sopan huh!
Aku celingak celinguk cari kak Bima, dia lagi asik ngobrol sama cewek, huh! dimanapun selalu aja ada cewek yang nyantol, aku mau samperin dia tapi takut ganggu, jadi aku kembali ke tempat mama tadi, tapi dia dan tante Liza juga udah tidak ada disana
"Hai cantik... butuh teman ngobrol?" sapa seseorang sambil merangkul bahuku
Aku tau itu suara kak Riko, jadi aku malas nepis tangannya dari bahuku, karena nanti juga dirangkul lagi sama dia
"Kamu udah ketemu Arga?" tannyanya
__ADS_1
Aku cuma jawab dengan anggukan, tatapanku sekarang terpaku ke sosok cewek cantik yang sedang bermanja-manja dengan kak Arga, dan kak Arga serius mendengarkan cewek itu dengan sesekali tersenyum dan tertawa lebar
Hebat banget cewek itu bisa bikin gunung es mencair seperti itu, bahkan muka dinginnya berganti muka ceria, jadi kaya dua orang yang berbeda, padahal dia sama-sama Argaku
Aku cemburu melihat kedekatan mereka, aku merasa dikhianati, padahal kak Arga kan bukan pacarku, tapi tetap aja rasanya pengen aku jambak rambut cewek itu, aku tarik trus aku lempar kekolam, Cih
Kak Arga menggandeng cewek itu kearah tante Liza, yang sudah berdiri didepan kue ulang tahun 5 susun itu, sepertinya acara utama akan segera dimulai
"Kita kesana yuk" ajak kak Riko
"Kak Riko duluan aja, aku tiba-tiba pusing"
"Hmmm yaudah sini ikut kakak"
Kak Riko menarik tanganku, bukan ke arah tante Liza yang sedang tiup lilin, tapi menjauhi area pesta, dia terus membawaku kebagian samping rumah ini, ada tembok setinggi orang dewasa yang membatasi area taman belakang dan samping rumah ini, tembok itu dipenuhi daun dolar rambat, kak Riko membuka pintu masuk yang tersembunyi diantara daun dolar rambat ini, benar-benar tidak terlihat ada pintu sebelumnya
"Kak gapapa kita main masuk aja?" tanyaku
"Ini tempat favoritnya Arga kalo lagi suntuk, atau sedang serius belajar atau tidak mau diganggu siapapun. kakak juga biasa masuk kesini jadi nggak masalah" jawab kak Riko
Dia mendorongku masuk kedalamnya, ruangan terbuka ini berbentuk persegi, tidak terlalu besar dan tidak banyak tanaman hias yang mengisi area ini,
disudut kanan ada rumah kaca dengan sofa berbentuk L minimalis, dan rak-rak buku yang menjulang tinggi dan pendingin ruangan didalamnya
"Kamu istirahat aja dulu disana yaa.. kakak ambil minum dulu sebentar"
Aku mengangguk dan langsung duduk diatas sofa empuk ini, kak Riko menghilang dibalik tembok tanaman itu
Sambil menarik nafas panjang, kusandarkan kepalaku kesofa, menatap langit malam yang bertabur bintang-bintang dan bulan baru yang menambah keindahan langit itu
Aku berusaha meghilangkan bayangan kak Arga dan cewek itu dari pikiranku tapi nggak bisa, cewek itu bukan hanya bisa bikin kak Arga terlihat bahagia, tapi dia juga dekat dengan tante Liza, itu yang bikin aku tambah sedih hiks
Kutatap pintu masuk taman ini, berharap kak Arga dengan pose santai seperti biasanya, satu tangan disaku kiri celananya, sedang jalan menghampiriku dengan segelas air ditangan kanannya. muka dinginnya tak lepas dari memandangku sambil tersenyum sinis dengan sebelah alis yang dinaikkan
Sambil tersenyum aku terus memandang bayangan itu, yang sekarang sudah berdiri tepat didepanku dan dia berdeham, bahkan suaranya bisa terdengar jelas dikupingku
"Ngapainlo disini?!"
__ADS_1
Aku tersentak kaget dan langsung berdiri, tapi badanku terbentur badannya kak Arga membuatku jatuh terduduk lagi, sial aku kira tadi cuma khayalanku aja