
Pendakian dilanjutkan lagi dari Telaga Biru ke pos Rawa Panyangcangan, yang memakan waktu kurang lebih dua puluh menit, dari sini jalan sudah mulai bercabang, ke Gunung Gede Pangrango dan Air Terjun Cibeureum.
Kami tidak berhenti di pos ini jadi masih terus jalan ke pos selanjutnya, Rawa Denok 1-2, Batu Kukus 1-3 dan sampai pos Pondok Pemandangan. Jalanan di pos-pos ini lumaya bagus, jalur pendakiannya sudah menggunakan beton, jadi mempermudah pendakian.
Dan yang tidak tertinggal dari pos-pos yang sudah kami lewati tadi adalah foto-foto hehe... Karena sumpah pemandangannya indah sekali... Dan sudah banyak koleksi foto-fotoku dengan Arga.
"Setelah ini treknya akan lebih terjal dan sulit..." jelas Arga.
"Kamu akan jagain aku kan...? karena sesulit apapun treknya selama bersama kamu aku pasti bisa melewatinya..." godaku sambil menyeringai lebar.
Arga merapikan poniku, "Iya Nona... Itulah tujuan gue lahir ke dunia ini... Untuk menjagamu..." gombal Arga membuat aku tergelak dan mencubit lengannya.
"Aawww sakit Nay..." pekik Arga sambil mengelus lengannya.
"Kamu bisa tidak sih... Tidak gombal sehaariii saja...?" tanyaku sambil terkikik.
"Tapi lo suka kan...?" bisik Arga di telingaku, di susul dengan dehaman kak Bima di belakangku, membuatku kembali terkikik geli, karena melihat wajah lucu Arga ketika mencibir kesal.
Dan Arga benar, trek dari pos Pondok Pemandangan ke pos Air Panas itu lebih terjal dan sulit.
"Lo perhatikan sekitar lo Nay, saat ini adalah waktu yang tepat untuk kita menilai sifat asli seseorang..." kata Arga.
"Kenapa...?" tanyaku dengan nafas yang sudah mulai senin-kamis.
"Karena sifat asli seseorang akan mudah terlihat saat mendaki gunung, atau kegiatan petualangan lainnya. Beratnya beban di punggung kita, lelah dan capeknya badan kita, disinilah akan muncul sifat-sifat asli seseorang, yang egois, apatis, mau menang sendiri, manja, dan yang sering mengeluh." jelas Arga.
"Iya kamu benar Ga..., tadi aku juga mendengar keluhan dari salah satu angota kita... Dan parahnya lagi, ada anak cowok yang marah-marah sama cewek di kelompoknya karena jalannya lambat, dan menghambat gerak mereka."
"Nah seperti yang gue bilang tadi, keegoisan kita diuji disini. Jika dalam kelompok kita ada yang lemah..., bersediakah kita bersabar dan menunggunya...? Atau meninggalkannya...? Kita akan bersitegang dengan hati dan rasa. Marena kelemahan seseorang adalah mengalahkan egonya..."
"Aku senang yang mendampingiku kamu, kak Riko dan kak Babam. Semuanya terlihat sabar...." ujarku sumringah.
"Untung kamu pacaran sama gue anak pecinta alam..." kata Arga, narsis tingkat tingginya keluar.
__ADS_1
"Kenapa...?" tanyaku.
"Karena alam saja dijaga..., apalagi kamu..." jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Bam lo nyium sesuatu ga...?" celetuk Riko.
"Apaan tuuhh...?" Babam balik nanya sambil cekikikan.
"Bau-bau cowok gombal..." jawab Riko sambil tergelak, aku jadi tidak bisa menahan cekikikanku.
"Denger aj lagi lo bangkeee..." rutuk Arga.
Riko berjalan mundur di depanku, matanya menatap serius mataku, "Tiana..., mendaki gunung yang melelahkan saja gue bisa... Apalagi menaklukan hati lo..." godanya, sengaja membuat Arga marah.
"Benar-benar cari mati lo yaa..." geram Arga.
Akhirnya setelah kurang lebih dua jam mereka sampai di pos Air Panas Gunung Gede, dengan ketinggian 2143 mdpl.
Arga tidak pernah melepas tanganku selama melewati air terjun panas, mereka melangkah dengan sangat berhati-hati karena ada jurang di sebelah kanan. Untungnya ada seutas tali yang bisa kita pakai untuk berpegangan, selama menyeberangi jurang yang curam.
Badan yang tadinya lelah kembali segar setelah menyentuh aliran air panas. Yaa walaupun badan jadi keringatan hehe.
Pendakian lanjut lagi, sampai kami bertemu dengan air terjun yang airnya seegeeerrr sekali... Banyak pendaki yang mengisi botol minumnya dengan air ini, sebelum melanjutkan lagi pendakiannya.
"Akhirnyaaaa....!" teriak Riko ketika sampai di pos selanjutnya.
"Kenapa kak Riko...?" tanyaku pada Arga.
Arga tersenyum manis, membuat perutku terasa mencelos, "Kita sudah sampai di Kandang Badak, dan akan mendirikan tenda di sini..."
"Sudah sampai...? Yeeyyy..." seruku senang sambil memeluk Arga, untung saja kak Bima lagi asik ngobrol sama temannya.
Hari sudah mulai gelap, ketika Arga dan yang lainnya sedang mendirikan tenda, Aku dan Icha hanya bisa mandorin saja dan berswafoto.
__ADS_1
Semua di minta untuk tidur cepat, karena kita harus bangun jam dua pagi untuk memulai summit attack dan mengejar sunrise di puncak Gunung Gede. Tapi aku belum bisa tidur, tidak seperti Icha yang sudah terlelap di sebelahku.
Tapi pada akhirnya aku tertidur juga, karena Icha menggoyang-goyangkan badanku untuk membangunkanku.
"Tiana bangun..., sudah jam dua kurang..."
Sambil mengulet aku bangun, rasanya kaki masih cenat cenut, tapi sayang kalau aku tidak melanjutkan sampai ke puncak, lagipula besok-besok aku pasti tidak akan di izinkan mengikuti hiking lagi.
Setelah semua berkumpul, summit attackpun di mulai, Arga terus menuntun tanganku, memberikan kehangatan yang menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuhku, lumayan di udara sedingin ini.
Sedingin apapun suhu di gunung, selama bersamamu semua akan terasa hangat.
Setelah jalan cukup lama, melewati jalan tanah, tanjakan terjal dan licin, tibalah kami di puncak Gunung Gede jam lima pagi. Dan terlihatlah semburat kemerahan tanda matahari akan segera terbit.
"Rasa lelah mendaki terbayar sudah dengan pemandangan indah ini..." gumamku.
"Jadilah matahari yang selalu menyinari..., dia memang akan terbenam tapi akan terbit di tempat lain..." seru Arga di belakangnya.
Aku berbalik menghadap Arga, dan melihatnya tersenyum lembut padaku, "Yang paling aku sukai hari ini adalah..., aku sudah melihat dua keindahan sekaligus... Matahari terbit dan senyummu..." godaku.
Arga langsung tergelak, dan merapikan poniku, "Tenyata pacar gue bisa ngegombal juga yaa..." gumamnya.
Aku menyeringai lebar, "Kan kamu yang ngajarin..."
"I love you from 2.958 mdpl..." ucap Arga, membuat jantungku berdetak kencang.
"Sepertinya sunrise itu kalah indah dengan pernyataan cintamu... I love you too Ga..." balasku sambil memberikannya senyum termanisku.
"Gue janji Nay..., gue akan selalu menjaga dan melindungilo, dan gue akan selalu mencintailo. Puncak Gunung Gede dengan segala keindahannya ini yang akan menjadi saksinya... Saksi cinta kita berdua." kata Arga lembut.
Aku menjulurkan jari kelingkingku ke Arga, "Janji..." dan Arga menyambutnya dengan jari kelingkingnya, "Iya janji..."
Kami pun langsung tertawa lebar, tawa bahagia atas perasaan cinta kami yang terjalin dengan begitu indahnya. Terutama perasaanku karena berhasil mendapatkan cintanya Arga, gunung es, dan ketos nan sempurna itu.
__ADS_1
"Ada yang bilang, mendaki gunung akan mencapai kedamaian abadi, sama halnya dengan mencintaimu, yang mampu memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang abadi." kata Arga lalu mencium keningku.