Tak Bisa Ke Lain Hati

Tak Bisa Ke Lain Hati
Aku Tiasmu


__ADS_3

"Terima kasih pangeran Naveen."


"Arga ... Nama gue Arga!"


"Pangeran Naveen!" rengeknya sambil ngentakin kedua kakinya.


"Iya ... Iya ... Tapi kenapa harus pangeran Naveen?"


"Karena namaku Ti ... "


Ocehan anak itu terhenti karena tiba-tiba pintu terbuka, dan ibu-ibu yang tadi kembali masuk kedalam gudang, anak itu langsung ngumpet dibelakang gue, kedua tangannya menggenggam erat kaos gue.


Dengan mata melotot tajam, Ibu itu terus maju nyamperin gue dan anak itu, keranjang bawaannya dia lempar kesampingnya.


PLAK!!


Tamparan keras mendarat dipipi gue, bikin gue terjatuh.


"Pangeran Naveen!!"


Terdengar teriakan anak kecil itu sebelum gue kehilangan kesadaran.


"Kak ... Kak Arga ... "


Suara lembut seseorang membuat gue terjaga dari mimpi buruk gue itu. Tidak seperti biasanya, kali ini gue bangun hanya dengan napas yang tersengal dan keringat yang membasahi kemeja putih gue.


"Mimpi buruk lagi?" tanya suara itu, yang ternyata adalah anak baru yang famous itu.


"Mau ngapain lo ke sini?" tanya gue dengan nada dongkol, sambil duduk di pinggir gazebo.


"Aku tau kakak sering ke taman ini sama kak Tiana. Dan mumpung kak Tiana ga ada, aku bisa dekati kakak," jawab wanita itu dengan santai.


Hari ini Nay dan beberapa siswa mewakili sekolah untuk mengikuti pameran IPTEK di SMA Tunas, tempat dulu gue dan Tatiana pernah datangi juga.


Sekarang, karena dua bulan lagi gue ujian nasional, jadi pihak sekolah gak ngizinin gue untuk turut serta.


Tapi ...


Gue ngelirik jam di lengan kanan gue, seharusnya Nay udah sampai, kenapa dia belum ke taman ini?

__ADS_1


Gue kembali natap tuh cewek dengan tatapan dongkol, gue harus ngusir dia dari taman ini, sebelum Nay datang dan malah jadi salah paham.


"Udah sana lo menjauh dari gue! Gue gak mau cewek gue nanti salah paham!"


"Kenapa kakak masih sama aja kaya dulu, ngusir aku terus! Apa kakak mau aku diculik lagi?" tanya cewek itu tidak dapat dapat menyembunyikan nada sedih di dalam suaranya.


Sontak aja gue teringat pada kejadian sebelas tahun lalu ... Kejadian yang barusan aja kembali datang di mimpi gue.


"Kenapa lo bisa tau masalah penculikan itu? Siapa yang udah ngasih tau lo?"


"Apa kak Arga lupa? Aku Tias, anak kecil yang diculik itu!"


Deg! Jantung gue terasa berhenti berdetak saat mendengar pengakuannya itu.


Benarkah dia anak kecil yang selama ini gue cari itu? Gue langsung menggelengkan kepala gue,


"Gak mungkin ... Lo bohong kan? Lo cuma ngaku-ngaku aja kan?" Sangkal gue.


"Aku gak bohong kak, aku memang Tiasmu ... "


Gue terus natap penuh Tias, sambil terus berusaha mengingat lagi kejadian sebelas tahun yang lalu itu.


'Karena namaku Ti ... '


Mungkinkah anak kecil itu akan menyebutkan nama Tias sebelum penculik itu datang dan nampar gue sampai pingsan?


"Tias ... "


Tias mengangguk penuh semangat, bulir air matanya terjatu saat dia menarik tangan gue untuk dia genggam,


"Iya kak, aku Tiasmu ... "


"Bagaimana lo bisa selamat dari penculik itu?" tanya gue.


Berkali-kali pertanyaan itu selalu berulang di benak gue, pertanyaan yang akan langsung gue tanya ke anak kecil itu kalau gue bertemu dengannya lagi.


Dan sekarang ...


Anak kecil itu tepat berada di depan gue. Antara percaya dan gak percaya gue dengan semua kenyataan ini.

__ADS_1


"Aku gak tau kak. Aku hanya ingat pantai dan anak laki-laki yang berusaha menyelamatkanku itu. Selama ini aku mencari-cari siapa anak laki-laki itu? Apa dia juga selamat? Apa dia juga sama denganku tiba-tiba sudah terbangun di rumah sakit?" jelasnya.


Ya Tuhan ...


Jadi benar, anak kecil itu adalah Tias?


Dada gue langsung membuncah dengan perasaan lega, ibarat sebuah bisul yang bertahun-tahun gue tahan yang pada akhirnya pecah juga.


Anak kecil itu selamat, dan sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.


Gue lega, lega sekali mengetahui kenyataan ini. Bertahun-tahun gue merasa bersalah karena gue gagal nyelamatin anak itu, dan tidak bisa melakukan apapun selain hanya bisa melihat penculik itu yang kembali membawa anak kecil itu.


"Bagaimana lo bisa tau kalau anak laki-laki itu gue?"


"Aku mencari-cari semua nama anak laki-laki bernama Arga yang seusia kakak. Dengan bantuan Papi, akhirnya aku bisa menemukan kak Arga juga," jelasnya sambil menghapus air matanya.


Dan tanpa bisa gue duga, Tias langsung memeluk erat gue,


"Aku lega, kak ... Aku lega karena ternyata kakak masih hidup. Orang yang aku cari selama ini ternyata masih hidup ... " isaknya.


Gue ngerasa kemaja gue mulai basah karena air matanya, dan gue berusaha dorong dia supaya menjauh.


Tapi semakin gue dorong semakin itu pula dia mengeratkan pelukannya, hingga gue terdorong ke belakang, dan terpaksa menahan berat badan gue dan Tias dengan kedua tangan gue, atau gue akan jatuh terlentang dengan Tias berada di atas badan gue.


"Tias, lepas!" seru gue.


Gue udah ga bisa dorong dia lagi, kalau gue angkat satu aja tangan gue buat dorong dia, bisa dipastikan gue akan langsung jatuh terlentang, mengingat kuatnya tenaga Tias saat meluk dan berusaha dorong gue.


"Biarkan aku memeluk kak Arga sebentar. Aku hanya mau meluapkan kegembiraanku karena telah kembali bertemu dengan penyelamatku," pintanya.


Gue mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Gak mau siapapun pemilik langkah itu salah paham, gue langsung angkat tangan gue buat dorong Tias.


Tapi baru aja mau mendorongnya, wanita itu terlebih dulu mendorong gue hingga terlentang, dan secara otomatis wanita itu berada di atas gue.


"Argaa!!!" pekik seseorang yang gue kenal betul siapa pemilik suara itu.


Dengan sekuat tenaga gue dorong Tias ke samping dan gue langsung bangun duduk, mata gue langsung bertemu dengan mata Nay yang membola.


"Nay ... "

__ADS_1


Nay terlihat menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih, sebelum balik badan ninggalin gue. Dan tanpa membuang waktu lagi, gue langsung mengejarnya, mengabaikan panggilan Tias di belakang gue.


__ADS_2