
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Tapi aku belum bisa memejamkan mataku, bolak balik dikasur, tengkurap, terlentang, tengkurap lagi, tapi tetap tidak berhasil mengusir bayangan aku dan kak Arga waktu ditaman tadi, bayangan-bayangan itu masih terus berkelebat di pikiranku.
Aaaahhhh bodoh... bodohh... bodohhh
Teriakku sambil menghentak-hentakkan kakiku dikasur.
Kenapa siihh tadi aku ketawain tampangnya kak Arga??
Yaa memang, sekilas tampangnya mirip kak Bima dan kak Arya kalo lagi marah, tapi tetap aja kenapa aku langsung reflek ketawa siihh....
Aku tau, cowok kalo udah naikin sebelah alis sambil pasang muka horror, itu pasti ada sesuatu yang bikin dia marah, atau ada sesuatu yang tidak disukai, kadang buat menakuti lawan bicaranya.
Tapi, tumbuh besar dengan kedua kakak laki-laki, membuatku tidak gentar dengan tatapan mematikan seperti itu.
Aku selalu tertawain kak Bima dan kak Arya kalo lagi pasang muka itu, ketika mereka sedang marah saat aku usilin. Atau saat aku tidak mau menuruti kemauan mereka.
Karena aku tau, senakal-nakalnya aku, seberapun aku membatah perkataannya, mereka tidak akan pernah menyakitiku, karena aku menganggap itu hanya topeng, dibaliknya tetap kakak-kakak yang selalu memanjakanku, selalu ada untukku.
Tapi kak Arga kan bukan kakakku.
Dan masalah surat itu...
Untung kak Arga tidak membacanya.
Fyuuhhh... bisa double malu aku kalo sampai dia udah baca, dan aku ketawain dia waktu ditaman tadi, kesannya aku gak punya malu banget yaa...
Hiii aku begidik sendiri membayangkannya.
"Chaa..." iseng ku chat Icha
"Np?" balasnya, setelah lama cuma 2 contreng hitam
"Lom mau tidur kan?"
"Blom, nanggung nih episode terakhir"
Huh, pasti lagi nonton drakor dia
"Yaudah lanjut deh, tar aku ganggu"
__ADS_1
"Sans ae, np?"
"Tadi aku dan kak Arga berduaan ditaman"
Tuuuttt.. Icha langsung menelponku
"Kok bisa?" tanyanya penasaran
"Ada taman kecil dibelakang sekolah, aku tau taman itu pas hari kedua sekolah. Berkali-kali kesana gak pernah aku liat ada siswa lain, makanya pas kemarin bete liat kak Arga digelayutin monyet aku kesana, ngilangin bete sambil baca novel online. Eh gak lama tiba-tiba aja kak Arga ada disana"
Aku diam, bayangan kak Arga setelah berdeham mengagetkanku kembali muncul
"Pantes lo jadi kaya orang kesambet pas habis istirahat, diem aja dikelas. Terus?"
"Yaa gitu deh, masih dingin banget sikapnya"
"Kenapa gak langsung cerita aja sih tadi dikelas?"
"Gak enak Cha, takut Vivi denger"
"Terus?
"Yee yaudah gue lanjut nonton lagi"
"Eheh bentar Cha, aku belum selesai. Lo tau gak? ternyata semua surat dibuang kak Arga ketempat sampah, tanpa dibaca satupun katanya"
"Yakin lo dia gak baca?" tanya Icha gak percaya
"Gak yakin juga sih.. Tapi liat sikap dia yang biasa aja kayanya memang gak baca deh dia. Kalo baca pasti dia marah ke aku kan? atau dia pasti tanya apa maksudku.. iya kan?"
"Gak juga, bisa jadi dia baca tapi cuma dianggap gak penting, makanya dia gak mau bahas ke lo. Lagian lo juga aneh, ngapain lo ungkit-ungkit masalah surat sih?"
"Mau gimana lagi Cha, aku kan menghindar ketemu dia karena surat itu. Jadi pas ketemu yaudah minta maaf sekalian, daripada selama disekolah aku terus-terusan menghindarinya... Iya kan?.
Untung laahh dia gak baca"
"Lebay juga sih lo, kak Arga juga udah biasa kali terima surat cinta dari cewek, bukan dari lo doang, kenapa juga sih harus lo besar-besarin, pake minta maaf segala, hadeeehhh"
"Isi suratku yang bikin aku malu Cha" elak ku
"Mang isinya apa? lo ga pernah cerita ke gue, lo cuma bilang kasih surat ke kak Arga"
__ADS_1
Lama ku terdiam, sama Icha aja aku malu cerita hiks
"Wooiii tidur lo?" Icha mulai gak sabar
" Aku cuma tulis... Aku calon istrimu doang Cha"
Terdengar suara Icha tertawa ngakak, aku tambah malu dong.. sahabatku aja ngakak huft
"Pede bangetlo... buahahahah" masih terus tertawa dia, seneng banget tau temannya maluin diri sendiri
"Dah ahh mau tidur" suntukku
"Sory sory sory, gue cuma ga bisa bayangin apaan yang ada di otaklo waktu itu hahaha. Yaudah santai aja lah sist, paling kak Arga cuma anggap suratlo itu angin lalu doang, yang tulis surat pake puisi atau kata-kata romantis aja belum tentu dia tanggepin, apalagi cuma 3 kata itu doang. Seapes-apesnya paling dikira lo kepedean hihihi"
"Udah... puas ketawanya?" suntukku lagi, Icha masih terus cekikikan
"Nih ya gue kasih tau, besok lo bersikap biasa aja didepan dia. Anggap lo gak pernah tulis surat gak jelas ke dia. Pokoknya lo harus bersikap seperti biasanya elo aja, yang selalu ceria, pecicilan, usil.
Kalo bisa lo anggap aja dia gak ada, Oke?!".
"Iya tapi Cha.."
"Gak usah tapi tapi, dah ahh gue mau lanjut nonton lagi" potong Icha langsung mutusin sambungan telponnya
Benar juga yaa kata-kata Icha barusan.
Ngapain juga aku harus jaim-jaim, toh dah terlanjur famous.
Baiklah, mulai besok aku akan jadi diriku sendiri.
Ternyata benar yang dikatakan orang-orang yaaa...
Kalau kita sedang jatuh cinta, terkadang kita bersikap seperti bukan diri kita sendiri
Kurebahkan lagi tubuhku kekasur, dan kembali lagi pikiranku melayang ke taman tadi.
Kak Argaku, terlihat seperti biasanya.
Sempurna tapi dingin.
Ada tapi tak bisa diraih.
__ADS_1