Tak Bisa Ke Lain Hati

Tak Bisa Ke Lain Hati
Cemburu Yaa?


__ADS_3

"Hmmm Ga... Boleh bawa pinjam novel ini gak...? Sehari saja... Besok aku balikin lagi ke kamu..." tanya Nay sambil tersenyum manis.


"Beuh... Katanya lebih suka novel online karena lebih simple... Kenapa sekarang mau baca novel terjemahan...?" ledek gue.


"Ceritanya menarik... Aku suka..." elak Nay sambil menyeringai lebar.


Gue tahu apa yang menurut Nay menarik, pasti tidak jauh dari yang membuat Ajeng tertarik juga.


Sambil tersenyum usil, gue mengendap-ngendap ke belakang kursinya, Nay yang masih serius baca tidak menyadari kalau gue sudah berada di belakangnya.


Gue melihat bab yang sedang Nay baca, kemudian membacanya kencang-kencang, "Tekanan bibir marcus meningkat dibibirnya, dengan belaian-belaian lembut dan tidak sabaran..."


"Arga...!!" pekik Nay sambil menutup novel itu, lalu berdiri dan berkacak pinggang menatap gue, wajahnya perpaduan antara marah dan malu. "Kamu tuh tidak sopan tau gak?!" geramnya.


Sambil menyeringai lebar, gue memutari bangku kecil itu dan berdiri tepat di depannya. "Lo tambah cantik kalau sedang marah seperti itu, Nay." puji gue.


Tatiana mengerutkan hidungnya, "Basi tau gak?!"


"Tinggal angetin..." balas gue, Nay menyeringai lebar dan kepalan tangannya memukul pelan dada gue.


"Apaan sih...Sudah basi bisanya dibuang, bukan di angetin." ralatnya.


Sambil menatapnya dengan tatapan lembut, gue menahan tangan Nay. Seringaian menghilang dari wajahnya, berganti dengan tatapan yang sama yang gue berikan untuknya.


Gue pegang pipi lembutnya dengan tangan gue yang nganggur, dan Nay tidak menepisnya.


Begitu juga saat gue mendekati wajah gue ke wajahnya, lalu mencium bibir lembutnya, Nay juga tidak mendorongku. Malah Nay ikut berpartisipasi di dalam ciumannya.


Nay membuka bibirnya dan membiarkan lidah gue bermain-main di dalamnya, hingga erangan pelan keluar dari tenggorokannya, dan junior gue mulai on, saat itulah gue harus melepas ciuman itu.


"Untungnya kali ini bibir gue aman..." canda gue untuk mencairkan suasana dan meredakan hasratku.


Nay tertawa pelan, "Ya, aku lupa seharusnya aku menggigit lagi bibirmu itu..."


"Lo boleh mencobanya kalau mau..." gue kembali menggodanya, dan wajah Nay kembali merona merah.


"Apaan sih..." ujarnya dengan suara manjanya.

__ADS_1


"Kalau gue sudah lulus nanti, lo berangkat sekolah pasti sama kak Bima lagi, trus pulangnya sama siapa?" tanya gue.


Karena selama gue pacaran sama dia, gue yang selalu antar jemput dia.


"Hmmm pulangnya yaa..." gumamnya sambil mengelus-ngelus dagunya.


"Sok mikirlo..." ledek gue sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Arga...Berantakan kan!" gerutunya sambil memberengut dan merapikan lagi rambutnya.


"Jadi pulang sama siapa? Gue khawatir tau kalau lo pulang sendiri..." tanya gue lagi.


"Ya tinggal cari tebengan susah banget sih..." jawabnya santai,


Tebengan? Wah... awas saja kalau sama teman cowoknya.


"Sama sahabatmu itu? Icha? Vava, Vivi?" tanya gue pemasaran sekaligus takut saat menunggu jawabannya.


"Mereka pulang sama pacarnya masing-masing...Masa aku harus jadi nyamuk, ihh ogah banget deh..."


"Gampang...Teman-teman cowokku yang bawa kendaraan pasti mau lahh nebengin aku..."


Yaa jelas saja mereka pada mau, secara lo kan wanita tercantik di sekolah kita...Hanya cowok maho aja Nay yang nolak nganterinlo.


"Enak aja... Gue gak rela pacar gue pulang dianterin cowok lain..." protes gue.


"Cemburu yaaa?" tanyanya sambil menyeringai lebar.


"Iya! Gue cemburu... Sekarang lo sudah tahu kan kalau pacarlo ini cemburuan? Jadi jangan terlalu dekat dengan cowok lain." jawab gue dengan nada tegas.


"Iya...Iya... Ya sudah sekarang kita masuk ke dalam lagi yuk, aku mau bantu mamamu masak, Ga." seru Nay sambil memasukkan novel Ajeng yang mau ia pinjam ke dalam tasnya, sebelum melangkahkan kakinya keluar dari rumah kaca. Lalu langkahnya terhenti ketika ia teringat sesuatu.


"Oh iyaa...Tadi mamamu belum selesai cerita karena kamu keburu datang tadi. Saat Ajeng menimpukmu dengan sendok, itu mengenai apa?" tanyanya.


Ah sial! Pasti mama cerita sewaktu gue baru saja sunat, saat itu banyak yang ngasih uang ke gue, dan lumayan banyak hingga Ajeng merengek meminta sebagian uang itu untuknya saat gue sedang menghitungnya.


Yah, saat itu gue menghitung uang itu sambil jalan, dan menolak saat Ajeng meminta setengahnya. Karena kesal, Ajeng berbalik ke arah dapur, lalu mengambil sendok dan melemparnya ke arah gue, tepat mengenai junior gue hingga kembali berdarah lagi.

__ADS_1


Dan saat itu gue menjerit kesakitan, bahkan sekarang hanya sekedar mengingatnya saja, gue masih merasa ngilu.


"Mengenai apa, Ga? Cepat katakan!" desak Nay dengan tidak sabar.


"Eh, sepertinya Mama memanggil kita tuh, lebih baik kita segera mendatanginya, sebelum tanduk di kepalanya keluar." elak gue sambil menarik tangan Nay, mengabaikan pertanyaan dan protesannya.


Sesampainya mereka di dapur, nampak mama sedang sibuk memasak, dengan bantuan dua asisten rumah tangganya.


Nay melepas tangannya dari genggamanku, lalu melangkah ke arah mama,


"Ada yang bisa aku bantu, Tante?" tanyanya.


Mama mematap Nay, lalu beralih menatapku, lalu menyeringai lebar sebelum menjawanya, "Ajak ngobrol anak tante itu, sebelum ia datang ke sini dan mencomoti potongan keju kesukaannya ini."


"Siap, tante." sahut Nay lalu kembali mendekati gue, "Aku di suruh ngobrol sama kamu, Ga."


"Itu tandanya, Mama sudah tahu kalau lo tuh ga bisa masak..." ledek gue membuat Nay memberengut lagi.


"Aku bisa masak tau..." sanggahnya.


"Iya gue percaya...Masak air kan?" goda gue lagi dan wajah cemberutnya betganti dengan seringaian lebar sekarang.


"Arga!!"


"Sudah ngaku saja kalau lo memang ga bisa masak kan?" tebak gue, dan Nay mengangguk.


"Aku malu, Ga...Sudah sebesar ini tapi tidak bisa masak, jangankan masak menyalakan kompor gas saja aku tidak tahu...BagaimanA aku bisa jadi istri yang baik yaa?" aku Nay lembut.


"Memang apa hubungannya masak dengan iatri yang baik?" pancing gue.


"Bukannya seorang istri harus pandai masak dan beberes rumah? Sepertinya itu yang menjadi acuan istri yang baik." jelas Nay.


"Itu istri apa asisten rumah tangga?" tanya gue lagi, Nay mengkerutkan keningnya dengan bingung.


"Maksudmu?"


"Kalau gue pribadi yaa Nay, Tidak mewajibkan calon istri gue bisa masak dan beberes rumah, karena gue mencari istri, bukan asisten rumah tangga." jelas gue.

__ADS_1


__ADS_2