
"Nay ... "
Nay terlihat menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih, sebelum balik badan ninggalin gue. Dan tanpa membuang waktu lagi, gue langsung mengejarnya, mengabaikan panggilan Tias di belakang gue.
"Nay, tunggu!!"
Gue nahan tangannya dan dia berusaha menepis tangan gue,
"Lepasin, Ga!" geramnya.
"Nay, Tias yang nyamperin gue!"
"Tetap aja kamu biarin dia meluk kamu!" sungut Tatiana.
"Gue udah berusaha dorong dia, Nay. Tapi tenaganya kuat juga."
Tatiana mengangkat dagunya dengan gaya menantang,
"Dulu kamu dorong aku kenapa sama Tias nggak?" tanyanya.
Iya juga yaa?
Kenapa sama Tias gue malah gak tega dorong dia? Apa Tias benar-benar qnak kecil itu?
"Tuh kan ga bisa jawab!" rutuk Tatiana.
Gue meraih tangan Tatiana dan terus berusaha membujuknya,
"Nay, tadi tuh beneran gue ga tau kalau Tias bakal meluk gue."
"Ya ga mungkin juga kan kalau tiba-tiba aja Tias meluk kamu tanpa sebab?!"
"Ada rahasia masa kecil gue yang mau gue ceritain ke lo, Nay. Tapi ga di sini ... Nanti pulang sekolah kita ke kafe biasa yaa?"
"Rahasia apa?"
Gue merangkul pundak Tatiana, dan mengarahkannya ke kantin,
__ADS_1
"Kita liat kantin, kalau sepi aku ceritain semuanya di sana. Tapi kalau ramai, gue ceritain di kafe aja."
Untungnya Tatiana gak banyak protes lagi, dan gue kembali ngalihin dia lagi,
"Gimana pamerannya? Pasti kurang seru kan?" tebak gue.
"Sok tau!" sungut Tatiana.
"Ayoo jawab jujur, pasti kurang seru kan?"
"Kenapa kamu yakin banget kalo pameran itu kurang seru?"
"Ya karena ga ada gue."
Tatiana mendengus pelan,
"Pede banget ... Hahaha."
"Benerkan? udah jujur aja ... "
"Gak sih ... Di sana tuh banyak cowok-cowok yang jauh lebih keren dari kamu."
Lagian untuk apa gue cemburu? Toh Tatiana udah sah jadi pacar gue. Cowok lain boleh merhatiin dia, tapi hatinya udah jadi milik gue.
Tapi meski begitu, gue tetap nimpalin perkataannya tadi,
"Oohh jadi gitu ... Udah mau beralih aja nih ke cowok lain?"
Sambil menyeringai lebar Tatiana merangkul lengan gue,
"Gak mau beralih ... Aku maunya kamu."
Gue mengacak-acak puncak kepalanya,
"Ini baru cewek gue."
Sesampainya di kantin, ternyata di sana tidak terlalu ramai. Biasa istirahat kedua memang relatif lebih sepi daripada jam istirahat pertama.
__ADS_1
"Lo mau makan apa?" tanya gue.
"Aku masih kenyang, Ga. Tadi dapat nasi kotak dan aku langsung makan di sana," jawab Tatiana.
"Kita ngobrol aja kalau begitu, gue juga masih kenyang."
Setelah memesan dua es teh manis, gue kembali duduk di depan Tatiana.
"Kamu mau cerita apa?" tanyanya.
"Jadi begini, waktu gue umur tujuh tahun, gue dan keluarga gue liburan ke pantai. Nah waktu itu gue sengaja bangun pagi-pagi buat bikin istana pasir untuk Ajeng, gak lama kemudian dateng anak kecil umur lima tahun."
"Terus?"
"Anak kecil itu bawel banget dan banyak nanya, bikin gue bete yang akhirnya anak kecil itu jauhin gue sambil nangis. Tapi ada ibu-ibu nyamperin dia yang ternyata mau nyulik anak kecil itu. Dan gue ngikutin mereka."
"Astaga, Ga! Kamu kenapa nekat banget sih? Sok jagoan banget tau ga?!" keluh Tatiana.
"Ya gue merasa bersalah aja, Nay. Kalau gue gak bikin dia nangis sampai ninggalin gue, mungkin anak itu masih sama gue dan gak akan diculik."
"Terus gimana? Kamu berhasil nyelamatin anak itu?" tanya Tatiana.
"Gue berhasil ngikutin mereka. Dan saat ibu-ibu itu keluar gue langsung masuk buat nyelamatin anak itu. Tapi sialnya pas udah mau sampe pintu, tuh ibu-ibu balik lagi ... "
"Hah?! Terus?!" potong Tatiana.
"Tuh ibu marah dan langsung nampar gue sampe pingsan. Dan gue gak tau kabar anak kecil itu lagi. Gue ngerasa bersalah karena gak bisa nyelamatin anak itu, Nay. Gue gak bisa nepatin janji gue ke anak kecil itu kalau gue gak akan pernah ninggalin dia ... Sebelas tahun ini gue nyari-nyari tuh anak tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya Tias datang ... "
"Anak kecil itu Tias?"
"Yaa ... Anak kecil itu ternyata Tias. Gue baru tau tadi. Itu kenapa dia tadi meluk gue."
"Terus setelah sekarang kamu udah nemuin dia kamu mau apa?" tanya Tatiana lagi.
"Ya gak mau apa-apa ... Cuma merasa lega aja karena ternyata anak kecil itu baik-baik aja," jawab gue.
"Beneran?"
__ADS_1
Gue merapikan poni Tatiana sebelum menjawab,
"Iya benar, Sayang ... "