
Ada tiga jalur pendakian resmi ke gunung Gede, antara lain melalui jalur Cibodas, Gunung Putri, atau Selabintana. Kami memilih jalur Cibodas, karena merupakan jalur utama dan paling favorit bagi para pendaki.
Dan ternyata, tenaga profesional yang diminta pihak sekolah untuk mengawasi dan mendampingi mereka adalah club pecinta alam dari kampusnya kak Bima, yang memang sudah sangat terkenal itu.
Jadi kak Bima sudah memastikan kalau aku tidak akan bisa lepas dari pantauannya... Huft!
Setelah sampai di titik awal pendakian, dan sudah mengurus SIMAKSI atau Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi, pendakianpun di mulai pada pukul sepuluh pagi.
Kak Bima mengumpulkan anak-anak untuk memberikan pengarahan, “Baiklah, mohon perhatiannya sebentar, estimasi waktu pendakian kita dari sini sampai tempat kita mendirikan tenda kurang lebih tujuh sampai sepuluh jam yaa... Tapi jangan khawatir, kita akan berhenti di beberapa titik pos bayangan untuk istirahat.”
“Itu seriusan kakak lo...?” tanya Icha.
“Ck, iya... kenapa sih? Jangan bilang lo naksir sama kakak Bima...”
“Ganteng banget gilaaa.”
“Hati-hati dia playboy.” rutukku.
“Satu pesan kakak, sekuat apapun dirimu, jangan pernah meninggalkan temanmu sendirian dengan alasan apapun.” lanjut kak Bima.
Untuk keamanan bersama, satu siswi di dampingi tiga siswa, dan aku di dampingi kak Arga, kak Riko dan kak Babam. Sudah pasti aku senang karena ada Arga yang mendampingiku.
Kak Arga yang sedari tadi diam, mulai berjalan di samping kananku, dan kak Riko di samping kiriku, “Kakaklo rese banget sih, daritadi mantauin kita terus...” rutuk Arga.
“Yaa mau bagaimana lagi... daripada aku tidak dikasih ikut...”
“Iya deh... kali ini gue mengalah...” gumam Arga.
Kak Riko tergelak, “Memangnya enak pacaran ada CCTVnya...” ejeknya yang mendapatkan tatapan galak dari Arga.
“Gue tenggelamin juga lo di Telaga Biru...” geram Arga.
“Wiiihhh santai Brooo...”
“Dengar-dengar Telaga Biru itu bagus yaa...? Aku sama Icha mau foto-foto nanti di sana...” tanyaku antusias.
“Fotonya cuma mau sama Icha saja nih...?” rajuk Arga.
Aku menyeringai lebar sambil menatap wajahnya yang makin terlihat tampan itu..., ketos sempurnaku, “Sama kamu juga dong...” kataku sambil memberikan senyum terbaikku untuknya.
__ADS_1
“Akuuu...?” celetuk kak Riko.
“Yeee cari mati nih manusia satu...!” rutuk Arga, kak Riko hanya nyengir kuda sambil memperlihatkan jarinya yang membentuk huruf V.
“Kalian kalau ribut terus, aku jalan sama kak Bima saja deh...” gertakku.
“Jangan...” seru mereka bersamaan.
“Lo sih Ko....”
“Lo sih Ga...”
Mereka saling menyalahkan, membuatku memutar kedua bola mataku.
“Daripada ribut... Lebih baik ceritakan ke aku kenapa kita lebih memilih jalur Cibodas, daripada jalur Gunung Putri dan jalur Selabintana...?”
“Karena jalur Cibodas lebih landai, jadi masih terbilang aman untuk pendaki amatiran macam lo... Dan banyak bonusnya kalau lewat sini...” jelas Arga.
“Bonusnya...?” tanyaku bingung.
“Yaa itu tadi tempat yang lo mau foto-foto bareng Icha, Telaga Biru. Selain itu ada air terjun dan jembatan panjang juga kalau lo mau cari spot foto yang bagus.” jawab Arga.
“Owa Jawa...? Itu hewan paling langka di dunia... Semoga aku beruntung bisa melihatnya...” seruku penuh harap.
“Yah semoga kita beruntung...” sahut Arga sambil mengelus kepalaku.
“Hai tolong kondisikan tangannya...!” terdengar suara bariton kak Dimas di belakang mereka, membuatku tersentak kaget, dan Arga langsung menjauhkan tangannya dariku, sambil bergumam kesal.
“Hmmmpppttt....” tawa tertahan kak Riko, membuat Arga semakin emosi.
Sambil memberengut aku balik badan, dan menatap kesal kakakku itu, “Kak Bima ngapain sih dekatin aku terus...? Kan bukan hanya aku yang harus kakak awasi...!” gerutuku.
Kak Bima mengangkat bahunya dengan cuek, “Kelompok lain sudah di awasi sama teman-teman kakak.”
“Aku bukan anak kecil lagi kak...” rengekku sambil menghentakkan kedua kakiku.
Kak Bima mengacak-ngacak rambutku, “Kamu tetap saja adik kecilku, Sudah lanjut jalan lagi, tertinggal jauh tuh sama yang lain...”
Dengan kesal aku langsung balik badan dan menggandeng lengan Arga sebelum beranjak menyusul yang lain.
__ADS_1
“Tatiana....!” geram kak Bima, aku hanya memalingkan wajahku ke arahnya sambil menjulurkan lidahku, tanganku tetap merangkul lengan Arga.
Trekking landai yang panjang dari basecamp ke pos kedua, membuat kita merasa tidak sampai-sampai, tapi aku tidak akan mengeluh, karena sekali saja aku mengeluh, kak Bima akan membawaku pulang, huft!
Tapi dengan pemandangan pohon besar di kanan dan kiri jalan, serta pemandangan fauna khas hutan dan pegunungan, membuat kita lupa akan waktu yang sudah kita lewati, hingga akhirnya kami sampai di Telaga Biru.
Guru dan pengawas mempersilahkan kami untuk rehat sejenak sambil menikmati pemandangan Telaga Biru nan indah, yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango itu.
“Diseberang sana ada pos bayangan yang menjual makanan dan minuman yaa... Jadi bagi yang persediaan airnya sudah tiris, kalian bisa membelinya di sana..” seru kak Bima.
Aku kembali mengedarkan pandanganku ke area Telaga Biru itu, “Waaahhh....” seruku takjub.
“Katanya sih... Plantae di telaga ini mengandung zat berwarna biru... Jadi membuat airnya terkesan berwarna biru...” jelas Arga.
“Kalau di suguhi pemandangan seperti ini sih... aku tidak akan pernah bosan mendaki gunung...” seruku.
Arga terkeleh pelan, “Pemandangan di puncak gunung jauh lebih indah... Percayalah...”
“Iyaa aku percaya, ayo kita foto...” kataku sambil mengeluarkan telepon selularku dari saku jaketku.
Aku berswafoto dengan Arga, terkadang kak Riko dengan terpaksa memotret untuk kami, dengan imbalan ia juga foto berdua denganku hehehe.
Icha nampak lari ke arahku, dan menagih foto denganku. Setelah itu dia memintaku untuk membujuk kak Bima supaya mau foto dengannya.
“Please... Bantu aku bujuk kakakmu yaa...” pintanya.
“Ya sudah tunggu sebentar...” seruku lalu beranjak menghampiri kak Bima yang sedang berdiskusi dengan teman-temannya untuk langkah dan perhentian selanjutnya.
Kak Bima yang memunggungiku tidak sadar kalau aku sedang menghampirinya, tapi ia melihat tatapan teman-temannya yang terus menatap penuh minat ke arah belakangnya, hingga kak Bima balik badan dan melihatku.
Sambil mengumpat kesal, kak Bima bergegas menghampiriku sebelum aku sampai ke tempatnya berdiri, “Kenapa kamu ke sini...?” tanyanya, lalu celingak celinguk ke belakangku, “Mana Arga...?” tanyanya lagi.
“Arga di panggil guru tadi... Kak ikut aku yuk sebentar...” jawabku lalu menarik tangan kak Bima.
“Mau kemana...?” tanyanya kesal.
“Ikut saja... sebentar doang kok...” bujukku sambil terus menyeretnya ke arah Icha.
“Kakak berdiri di sebelah Icha sebentar, aku mau foto...” seruku sambil mengarahkan posisi berdiri kak Bima, wajah Icha langsung merona merah.
__ADS_1
“Kamu apa-apaan sih...?” desis kak Bima kesal dengan mata yang memelototiku, aku hanya membalasnya dengan menyeringai lebar.