Takaran hidup Zahra

Takaran hidup Zahra
Bertemu Fatir


__ADS_3

Hari Minggu jadwal toko tutup, namun kadang ada pelanggan yang suka memesan buat di hari minggu, sekiranya Zahra tidak ada halangan, maka Zahra membuat kuenya di rumah dan pakai jasa ojek online.


Sesuai janji hari ini juga Zahra mau bertemu dengan adik pak Asep, dengan ditemani Fatma sahabatnya, sekarang mereka sedang berada di salah satu kafe yang tak jauh dari rumahnya.


"Kenapa? kelihatannya nervous kamu ra?"


Tanya sang sahabat


"Ya sedikit mah ada lah fat, kan baru pertama kali mau ketemu, ga tahu juga orangnya seperti apa?"


Fatma tersenyum, mengerti dengan keadaan sahabatnya, kemarin pagi setelah pak Iwan membicarakan untuk bertemu dengan adiknya pak Asep, Zahra menelpon Fatma untuk bisa menemaninya supaya tidak timbul fitnah.


"Kamu sudah di kasih tahu ciri ciri orangnya seperti apa?"


Zahra menggeleng


"Terus nanti kita ngenalin dia gimana? ada no HPny?"


"ga juga"


Tak lama HP Zahra berbunyi


"Assalamualaikum Zahra"


Ucap seseorang di sebrang telpon sana


"Waalaikumsalam, maaf ini siapa?"


Tanya Zahra karena tidak mengenali suara si penelpon.


"Saya Fatir, adiknya pak Asep, apa kamu sudah sampai di kafe?"


"Oh Iya saya di meja no 15"


"Oke, saya ke sana"

__ADS_1


Fatir segera mematikan telpon dan melangkah mencari meja no 15.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ucap Zahra dan Fatma berbarengan dan sekilas memperhatikan Fatir.


Zahra yang sudah bisa menebak jika yang di hadapannya adalah orang yang sama dengan yang di telpon barusan langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum ramah.


Fatir pun langsung mengerti dan melakukan hal serupa, awalnya dia berniat mau mengajak berjabat tangan.


"Maaf jadi bikin nunggu lama"


"Tidak papa Fatir, oh iya kenalkan saya Zahrana dan ini Teman saya Fatma"


"Jadi kamu ini owner toko kue yang di jalan x itu ya?


Tanya Fatir di sela sela obrolannya.


"Kalau tempat kerja saya juga tidak terlalu jauh dari toko kamu, boleh dong sesekali mampir ke toko mu"


"Tentu, tempat itu terbuka untuk umum"


Fatir orangnya humble, jadi Zahra tidak terlalu tegang dan mereka cuma terpaut umur 2 tahun, ga terlalu jauh juga jadi ya ga ter lalu canggung . Setengah jam mengobrol mereka mengobrol, Zahra teringat kalau dia harus mengantar pesanan Ummi Aisyah.


"Maaf sebelumya Fatir kami harus segera pulang, karena harus mengantar pesanan."


Ucap Zahra


Fatir melihat jam di Hpnya


"Oh iya silahkan, tidak terasa ya, perasaan baru 5 menit kita ngobrol, eh ternyata sudah setengah jam lebih"


Zahra hanya tersenyum

__ADS_1


"Baiklah kami pamit, Assalamualaikum"


Ucap Zahra dan Fatma


"Waalaikumsalam, hati hati di jalan"


Setelah meninggalkan kafe, Zahra dan Fatma segera menuju parkiran dan menuju ke alamat Ummi Aisyah


"Gimana setelah bertemu? apa udah ada rasa srek?"


Tanya Fatma saat di perjalanan menuju Ummi Aisyah.


"Entahlah"


Jawab Zaha


"Jangan buru buru, Istikharohnya jangan lupa"


"Iya fat, menurut kamu Fatir gimana orangnya?"


"Ya dia baik sepertinya, tapi ingat baik aja tak cukup untuk di jadikan patokan jadi suami, Yang penting itu sholeh, kalau baik namun tidak sholeh ya kurang baik juga untuk dijadikan suami"


Fatma lah sahabatnya yang selalu menjadi tempat curhat terbaiknya, bukan hanya pendengar yang baik, Fatma juga yang suka ngasih solusi untuk masalahnya.


Setelah memutuskan untuk mencoba berkenalan dengan adiknya pak Asep, Zahra mengajak Fatma untuk menemaninya.


Mengingat Fatma lah teman yang paling dekat dan Zahra percaya.


Meskipun sudah menikah dan punya anak berumur 3 tahun, hubungan mereka masih sama seperti dulu,sering curhat via chat, atau telpon, karena dulu Zahra kerja di Jakarta, namun akhirnya Fatma senang Zahra bisa kembali lagi ke Bandung.


"Bener banget Fat, eh anak kamu rewel ga di tinggal sama bapaknya?"


"Engga, tadi suamiku bilang dia anteng"


Akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju, segera Zahra keluar dan menurunkan pesan Ummi di bantu oleh Fatma

__ADS_1


__ADS_2