Takaran hidup Zahra

Takaran hidup Zahra
Muhammad Zidan Alfarisi


__ADS_3

Butuh waktu dua puluh menit untuk Zidan sampai ke rumah sakit, Zidan langsung masuk menemui sang ayah di ruangannya.


"Assalamualaikum yah, maaf jadi bikin ayah nunggu"


"Waalaikumsalam ga papa ayah juga yang dadakan ngajak kamu ketemu"


"Ada hal penting apa yah? sampai dadakan ayah nyamperin aku kesini?"


Tanya Zidan melihat raut wajah ayahnya yang serius


"Ayah mau mastiin lagi keputusan kamu zidan, kamu ga mau merubah keputusan kamu lagi, hem?"


"Yah"


Zidan menarik nafasnya dalam dalam, sebenarnya mereka sudah membicarakan hal ini beberapa kali dan keputusan Zidan tetap sama.


"Aku kan udah pernah bilang sama ayah, keputusan aku udah bulat yah, aku mau merintis pekerjaan aku sendiri di rumah sakit ini"

__ADS_1


Ayah Romi seorang pengusaha, dia ingin Zidan yang dapat meneruskan bisnisnya, namun Zidan sendiri punya cita cita sendiri yaitu mendirikan rumah sakit, karena sejak kecil Zidan punya cita cita ingin membantu banyak orang terutama orang yang tidak mampu untuk berobat.


"Tadinya ayah berharap kamu yang dapat meneruskan usaha ayah nak, tapi ya kamu juga sekarang merintis cita cita kamu juga, Ayah dukung kamu nak, maaf jika ayah terkesan memaksa, karena ayah rasa ayah sudah tua"


Jawab ayah Romi sambil tersenyum, mau bagaimanapun anaknya punya cita cita sendiri dan dia tidak bisa memaksakan kehendaknya


"Kata siapa ayah udah tua, ayah masih muda gini ko"


"Ha ha ha, kamu ini paling bisa aja, kalau ayah masih muda gini berarti masih kuat dong gendong anak dari kamu nanti, jadi cepat cepat nikah deh kamu dan kasih ayah cucu"


"Tadinya sebelum ayah nawarin ke Kamil abang iparmu, ayah berharap sama anak ayah dulu, dan juga apa dia mau ditawarin? dia kan ngurus pesantren ayahnya juga"


"Iya juga sih yah, tapi ga ada salahnya kan nyoba, siapa tau dia mau kan?"


Ayahnya Zidan pergi meninggalkan ruangan anaknya.


"Ayah bangga sama kamu Zidan, Cita Citamu dari kecil sangat mulia, ayah percaya kamu pasti bisa mewujudkannya"

__ADS_1


monolog ayah Ridwan sambil memperhatikan bangunan rumah sakit yang masih dibangun itu, memang belum terlalu besar, namun usaha Zidan untuk membangun rumah sakit ini yang sangat patut diacungi jempol.


Berawal dari membangun klinik, dan sudah tiga tahun ini Zidan berusaha membangun rumah sakit, dan rumah sakit inilah bukti hasil perjuangannya.


Zidan memang putra seorang pengusaha,namun dia tidak mau menjadi anak yang tinggal instan menikmati kekayaan orang tuanya, dia berjuang keras untuk membangun rumah sakit impiannya ini.


Sedangkan Zidan masih duduk termangu di kursi ruangannya sempat terpikir apa yang barusan dikatakan oleh sang ayah.


"Bismillah mudah mudahan aku bisa segera menemukan pasangan tulung rusuk ku"


batin Zidan.


Muhammad Zidan Alfarisi anak ke dua dari dua bersaudara dari pasangan Romi dan Zaenab, Seorang dokter muda yang sedang merintis karirnya di bidang kesehatan, dia sedang berjuang mewujudkan cita citanya untuk bisa mendirikan rumah sakit seperti sekarang.


Pemuda berumur 31 tahun, selain dikaruniai otak yang cerdas juga muka yang rupawan, dan perilaku yang sopan. Bukannya tak sulit baginya mencari seseorang untuk dijadikan pasangan, bahkan banyak dari kaum hawa yang mengidolakan dirinya, namun sayang di usianya sekarang dia belum bisa menemukan yang cocok dengan hatinya dan pas untuk dijadikan seorang istri.


Zidan yakin jodoh sudah Allah yang atur.

__ADS_1


__ADS_2