
Seperti perkataan Umar bin khatab r.a
apa yang melewatkan ku tidak akan pernah menjadi takdirku
Dan apa yang ditakdirkan untuk ku tidak akan pernah melewatkan ku
Zahra juga yakin dengan ketetapan Allah, kelak apa yang di takdir untuknya akan datang sendiri.
"Eh Zahra kamu sekarang udah balik kampung? ga ke Jakarta lagi?"
Tanya teman lama Zahra?
"Engga Ani, aku disini aja sekalian nemenin bunda sama bapak aja"
"Iya, sudah kerja disini saja, kapan nikah ra? minggu depan si Dea nikah loh,kamu kapan nyusul? teman sekelas kita tinggal beberapa orang loh yang belum nikah termasuk kamu"
"Kenapa ini menjadi pertanyaan orang orang saat ketemu sama aku sih?"
Batin Zahra
"Doain aja ya"
Jawab Zahra sambil tersenyum namun berbeda dengan isi hatinya.
"Ya sudah aku duluan ya Ani"
Zahra segera meninggalkan temannya, untuk menghindari pertanyaan lainnya yang bikin dia tidak nyaman. Tak sengaja setelah dia turun dari taxi online Zahra bertemu dengan Ani teman waktu SMA nya.
__ADS_1
Jujur semenjak dia tinggal di Bandung, setiap bertemu dengan teman temannya ataupun orang yang di kenalnya, kerap sekali menanyakan hal yang sama seperti Ani tadi. Pertanyaan klasik menurutnya.
Zahra segera masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa kantong hasil belanjaannya untuk keperluan baking kue.
Setelah menata semua bahan dan perlengkapan, Zahra bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, ketika mengeluarkan isi di kantong gamisnya, Zahra mengeluarkan Sapu tangan biru muda.
"Oh ini milik cowok tadi, aku cuci aja lah besok sekalian"
tok..tok
"Zahra ayo makan dulu, bapak sudah nunggu"
Ajak bunda di balik pintu kamar Zahra
"Iya bun, aku otw"
Tanya bapak Iwan ayahnya Zahra di akhir makan malam mereka
"Insyaallah pak, do'ain aku ya mudah mudah bisa terealisasi"
"Aamiin, emang kamu bisa bikin kue?"
"Baru mau belajar dia pak"
Bunda yang menjawabnya
"Loh, kamu ini gimana baru mau belajar udah mau buka toko aja"
__ADS_1
Pak Iwan dibuat heran oleh anaknya, baru mau belajar tapi sudah mau buka tokonya aja
"Ya pak kan sambil belajar, lagian kan aku juga sering tuh bantu bantu bunda dulu, terus masih ada waktu juga sambil aku nyari tempat yang cocok, jadi Bismillah aja pasti bisa"
Jawab Zahra
Pak Iwan tersenyum mendengar jawaban anaknya
"Iya bapak pasti doain dan dukung kamu, yang penting usaha dan doa, tapi ngomong ngomong soal toko dan modalnya gimana? bapak paling bisa bantu buat beli terigu doang ra"
Ucap pak Iwan sambil tersenyum
"Makasih pak, yang Zahra paling butuhin itu doa dari bunda sama bapak, Insyaallah untuk modal Zahra ada simpanan sedikit, mudah mudahan cukup ya pak"
Kedua orang tua Zahra hanya mengangguk saja.
"Nak apa kamu belum kepikiran soal menikah? bapak kasihan melihat kamu harus sibuk mencari kerja, kalau nikah kan masalah nafkah tanggung jawab suamimu, kalau kamu mau kamu juga ga perlu ko bekerja juga, Insyaallah kami juga masih sanggup untuk makan kita bertiga, walaupun seadanya yang penting berkah"
"Untuk mengisi waktu pak, sekarang nyari kerja susah, ya aku coba buka usaha aja sendiri pak, siapa tahu kedepannya bisa buka kerjaan buat orang lain"
Bapaknya pun ikut tersenyum
"Aamiin, semoga dilancarkan segalanya"
"Besok berarti mulai praktek ya ra, bunda lihat di dapur peralatan dan bahan kue sudah lengkap"
"Siap bun"
__ADS_1