Takaran hidup Zahra

Takaran hidup Zahra
Dikenalkan??


__ADS_3

Tak Terasa hari sudah mulai panas saja, setelah berjalan jalan ke tempat wisata di kota Bandung, akhirnya pak Iwan mengajak pulang karena dia perlu ke kebun karena ada pemborong yang membeli sayurannya.


"Eh Iwan"


Panggil laki laki yang usianya tak jauh dari pak Iwan


"Eh Asep, gimana kabarnya? lama kita tidak ketemu?"


Jawab Pak Iwan sambil berjabat tangan.


"Alhamdulillah sehat wan, wah sepertinya habis jalan jalan nih rupanya?"


"Iya, ini anak saya yang ngajak kita keluar"


Asep pun melirik ke arah Zahra


"Oh ini anak bungsu (bontot) mu ya wan?"


Zahra pun tersenyum kepada pak Asep


"Iya wan"


"Sudah nikah belum sekarang?"


"Belum pak"


Jawab Zahra


"Oh, eh wan gimana tawaran yang pernah saya bilang ke kamu dulu? mau ga?"


"Oh itu sih harus saya bicarakan dulu sama anaknya"

__ADS_1


Zahra hanya diam membiarkan bapak dan temannya berbicara.


"Oke lah, bicarakan saja dulu, tapi jangan lama lama, terus kabari saya secepatnya ya wan, kalau begitu saya pamit"


Setelah berjabat tangan lagi Pak Asep pergi dari tempat mereka yang sedang menunggu bunda ke toilet.


"Siapa tadi pak?"


"Oh itu teman lama bapak, bunda kamu mana? ko lama?"


Malam hari ketika pak Iwan sedang duduk bersama sambil menonton tv, pak Iwan tiba tiba teringat obrolan tadi dengan temannya. Sebenarnya Asep sudah membicarakan hal ini dari lama, sejak Zahra masih kerja di Jakarta, namun Pak Iwan belum sempat membicarakan lebih lanjut dengan anaknya.


"Ra, bapak mau bicara sama kamu"


"Bicara apa? tumben bapak bilang dulu mau bicara, biasanya langsung saja"


"Iya ada apa sih pak?"


"Ini loh ra, soal tadi siang bapak jadi teringat Asep, dulu dia pernah nanya ke bapak kalau dia lagi cari calon istri untu adiknya, dia nawarin ke bapak buat mengenalkan kalian berdua, yah bapak dulu jawab saja kalau soal seperti itu mah hak kamu ra, jadi menurut kamu gimana ra?"


Zahra menarik nafas dalam, jujur Zahra ragu kalau di kenalkan seperti ini, tapi dia juga bingung gimana menjawab pertanyaan bapaknya.


"Tuh ra dicoba aja siapa tau cocok dan berjodoh"


"Bun, biar Zahra yang putuskan, bapak ga maksa kamu ra"


"Ya tapi kan pak, ga ada salahnya mencoba, ingat umur loh ra, teman se umuran kamu sudah pada nikah dan punya anak"


"Bun, jangan ngomong gitu, biarkan Zahra yang memilih, gimana ra kamu mau?"


"Aku.. aku ga tau pak, terserah bapak saja"

__ADS_1


Kepala Zahra tertunduk, bingung harus menjawab apa.


"Bapak ga maksa kamu, ini cuma kenalan dulu ra, pikirkan saja dulu, tapi jangan kelamaan mikirnya, besok atau lusa bapak mau kabarin si Asep"


" Iya pak".


"Di coba dulu ra ga ada salahnya kan, ikhtiar dulu, siapa tahu jodoh, yang penting dia soleh , baik tanggung jawab"


Ucap bunda saat mereka mau pergi ke kamar masing masing.


"Bun, jangan maksa gitu, biarkan Zahra yang putuskan"


Tadinya bunda mengira suaminya sudah jauh dari mereka, dan berniat merayu Zahra supaya mau menerima tawaran bapaknya, tapi tahu tahunya Pak Iwan muncul dari belakang.


Ya Allah aku harus bagaimana?"


Monolog Zahra saat berbaring di tempat tidurnya.


"Oh iya aku hampir saja lupa mau menelpon Mia"


dan tak lama panggilannya pun di jawab oleh Mia


"Hallo Assalamualaikum Mi"


"Waalaikumsalam teh Zahra"


"Mi tadi toko gimana? maaf saya baru sempat telpon kamu"


"Iya ga papa teh, tadi aga sepi sih teh jadi Mia bisa handle, tapi tadi ada satu orang ibu ibu yang mau pesan buat acara pengajian gitu teh, tadi Mia sudah kasih nomor teteh supaya jelas, Apa dia sudah ngehubungi teh Zahra?"


"Oh, belum ada yang ngehubungi aku mi, ya sudah makasih mi, selamat istirahat, Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam"


__ADS_2