
Sudah sebulan lebih namun usahanya belum membuahkan hasil, kadang Zahra putus asa buat melamar kerja lagi melihat zaman sekarang tingkat pengangguran yang semakin tinggi.
Terlintas di kepalanya untuk membuka usaha aja, dia ingin memulai bisnis kecil kecilan, selain karena tabungan yang menipis, dan jenuh juga tidak ada kerjaan.
"Bun, aku mau coba buka usaha toko kue aja bun, menurut bunda gimana?"
Tanya Zahra kepada bunda Ida
"Bunda sih dukung aja, tapi mau buka toko dimana?"
"Nanti aku cari cari dulu bun tempat yang strategis dimana, kalau udah nemu nanti mungkin mulai sewa dulu bun"
"Bunda mau kan ajarin aku bikin macem macem kue, bunda kan jagonya kalau bikin kue"
"Pasti bunda ajarin, kamu emang sudah tidak melamar kerja lagi?"
Tanya bunda heran karena tiba tiba anaknya punya keinginan untuk buka toko kue
"Masih sih Bun, tapi sekarang susah ya bun cari kerja, daripada nunggu kerjaan mulu aku pikir mending buka usaha sendiri bun"
"Terserah kamu aja, tapi bunda ga bisa bantu buat modalnya Zahra"
"Ga papa bun, aku punya sedikit tabungan ko"
__ADS_1
Tadi Zahra sudah mengajukan pencairan hasil novelnya, tinggal nunggu masuk rekening aja, dan sambil menunggu Zahra mau survey tempat usahanya nanti dan sambil belajar bikin kue,
Kalau masalah bikin kue, Zahra sedikit sedikit tau karena suka melihat Bundanya bikin kue.
Dulu Bunda Ida pernah berjualan kue juga, namun hanya kue kampung saja dan beberapa kue kering.
Mereka keluarga yang sederhana, ayah Zahra seorang Petani sayuran, kebun yang di kelola pun tak seberapa luas, tapi hasilnya cukup menutupi kebutuhan sekeluarga. Zahra anak terakhir dari tiga bersaudara.
Ardi kakak pertamanya tinggal di Solo, karena kerja dan dapet istri orang solo juga.
Sedangkan Nisa kakak ke duanya masih tinggal di Bandung, jaraknya tak terlalu jauh paling cukup waktu satu jam jika jalanan lancar.
Zahra hanya bisa kuliah D3 saja udah syukur Alhamdulillah karena di desanya yang sekolah sampai tingkat kuliah saja sudah jarang.
Lagi hal ini yang ujung ujungnya di bahas orang orang termasuk di keluarganya.
"Ya gimana lagi bun, belum ketemu jodohnya"
Jawab Zahra sambil tersenyum.
Bugh..
aww..
__ADS_1
Suara laki laki yang tak sengaja Zahra tabrak seusai dia solat dzuhur di masjid.
"Maaf mas saya ga sengaja"
Zahra segera memungut barang belanjaan yang terkena kaki laki laki yang Zahra tabrak.
Laki laki itu mengelap sepatu dan kain celananya yang terkena dengan tepung belanjaan Zahra.
Kring
Bunyi handphone berbunyi dan sang pemilik segera menjawab panggilan yang masuk.
"Ya waalaikumsalam, iya saya sudah selesai solat, tunggu di sana saya segera ke sana"
Dia pun segera memasukkan handphonenya, dan bergegas pergi, dan menjatuhkan sapu tangannya yang dia pakai membersihkan celananya tadi.
Zahra masih sibuk membereskan belanjaannya hingga dia baru sadar bahwa lelaki yang dia tabrak mulai pergi.
"Maaf mba saya buru buru"
Teriak laki laki sambil melirik ke arah Zahra, sebenarnya ada rasa tak tega membiarkan Zahra membereskan sendiri tanpa menolongnya, namun karena panggilan barusan dia haris segera pergi.
"Sarung tangan laki laki tadi tertinggal, ah biar aku bawa aja lah, kalau ketemu nanti dibalikinnya"
__ADS_1
Monolog Zahra sambil berdiri hendak berjalan pulang