Takaran hidup Zahra

Takaran hidup Zahra
Keputusan Zahra


__ADS_3

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al baqarah:216)


Rasa kecewa itu pasti ada walaupun sedikit, awalnya Zahra mengira Fatir lah jawaban dari doa'nya, dan terbaik, namun ternyata salah. Zahra telah salah berharap pada manusia yang berujung kecewa.


"Sabar, mungkin ini yang terbaik buat kamu, Insyaallah jika berjodoh sejauh apapun kalian pasti akan di pertemukan, begitu juga sebaliknya, jika tidak berjodoh sedekat apapun kalian, maka tidak akan pernah bersatu"


Disinilah sekarang Zahra berada di rumah Fatma, setelah toko tutup lebih awal karena hati Zahra yang sedang tidak mood, akhirnya toko tutup sesudah asar dan langsung pergi ke rumah Fatma.


"Aku telah menyimpan harapan pada Fatir, namun hasilnya seperti ini, apa keputusanku sudah benar Fat?"


Fatma tersenyum sambil menatap dan tangannya menggenggam Zahra memberikan kekuatan karena mengerti apa yang dirasakan sahabatnya saat ini.


"Insyaallah, gini ra waktu satu tahun itu kondisional, tergantung gimana kondisinya, sekarang jika kondisi seperti kamu aku rasa keputusanmu sudah benar, kita tidak tahu bagaimana dengan satu tahun itu, jika banyak godaan godaan bagaimana? jika kita tidak kuat iman kita bisa saja tergoda kan? apalagi dengar Fatir sudah beberapa kali ngajak kamu untuk jalan berdua kan? tentu kamu tahu sendiri bagaimana hukumnya jika lawan jenis yang bukan makhrom berduaan"


Zahra mendengarkan nasihat Fatma, memang kalau soal ilmu agama Fatma sudah lebih dalam daripada Zahra, Fatma saja menikah dengan anak pesantrennya dulu dengan cara bertaa'ruf.


"Bismillah serahkan semua pada Allah, Insyaallah Allah akan memberikan yang terbaik buat kamu, menurut versi Allah bukan menurut versi manusia, jangan kamu menikah karena karena terburu terburu, tenang semua punya timeline nya masing masing".

__ADS_1


Sejak dari tadi Zahra menceritakan tentang yang terjadi pada dirinya air mata yang sudah dia tahan akhirnya turun juga dan membasahi pipi Zahra.


"Makasih Fat atas nasihatnya, aku salah telah menaruh harapan dan hati pada manusia, dan berujung kecewa"


"Sabar Ra, Innalloha Maa'na Allah beserta orang orang sabar"


Fatma pun memeluk Zahra, memberikan semangat dan doa terbaiknya.


Setelah pulang dari rumah Zahra, Zahra membersihkan diri dan melaksanakan solat magrib, setelah solat dia panjatkan do'a pada Sang Pencipta, dalam doanya dia hanya minta yang terbaik menurut Allah dan hanya berharap dan memasrahkan kehidupannya pada Allah.


Kemudian Zahra menemui bunda dan bapaknya.


Ucap Zahra kepada bunda dan bapak yang sedang duduk nonton tv.


mata bunda dan bapak yang sedari tadi fokus ke tv, langsung menghadap Zahra.


"Aku sudah memutuskan hubungan sama Fatir bun, pak"

__ADS_1


Ucap Zahra dengan kepala tertunduk


"Loh kenapa? tidak cocok atau bagaimana ra? kan sudah lumayan kenal sudah sebulan lebih kayanya"


Jawab bunda, sedangkan bapak hanya diam mendengarkan mereka.


"Fatir minta waktu satu tahun lagi untuknya mencapai cita citanya, ada karir yang harus dia capai, dan ada hal yang tidak cocok juga"


"Satu tahun? lama itu, tabun depan umur kamu bertambah juga, bunda kira dia serius dan akan segera meminangmu".


"Ga papa itu semua keputusanmu ra, bapak dan bunda hanya ingin yang terbaik saja buat kamu"


"Iya sabar ya ra, bunda selalu mendoakan kamu, setelah ini kamu bisa mencari lagi kan ra"


Ucap bunda


"Bun, jangan nekan Zahra seperti itu, emang gampang nyari suami yang baik? kita doakan saja bun"

__ADS_1


Jawab pak Iwan, sebenarnya bapak Iwan tidak seperti bunda yang selalu menyuruh Zahra cepat menikah, bukan tidak mau melihat anaknya menikah, namun pak Iwan tidak mau dengan terus menyuruh anaknya cepat cepat menikah itu membuat Zahra tertekan, beliau tahu jika jodoh akan datang pada waktunya.


__ADS_2