Takaran hidup Zahra

Takaran hidup Zahra
Memastikan hubungan


__ADS_3

Sudah sebulan dari pertemuan Zahra dan Fatir, selama itu Fatir pernah sekali berkunjung ke rumah Zahra dan Beberapa kali juga menemui Zahra di tokonya.


Awalnya Fatir mengajak untuk bertemu di luar, namun Zahra beralasan jika tidak bisa bertemu di luar, pasalnya Fatir hanya ngajak bertemu berdua, dan itu yang di rasa Zahra tidak benar. Makanya Zahra menyarankan Fatir jika mau bertemu dengannya datanglah ke rumah, atau ke toko. Karena jika di rumah sudah tentu ada orang tuanya, dan jika di toko ada Mia dan satu karyawan laki laki yang baru, jadi mereka tidak hanya berdua.


"Maaf Fatir sudah sebulan kita kenal dan kita juga jadi sering berjumpa, rasanya tidak baik jika terlalu lama jika seorang laki laki terus mendatangi perempuan tanpa tujuan jelas, aku mau tanya tentang kejelasan hubungan kita"


Sebulan ini, Zahra tidak pernah mendengar dari fatir yang membahas ke arah yang lebih serius. Dan rasanya Zahra perlu kepastian.


"Aku ngerti apa yang kamu maksud Zahra, apa kurang jelas buat kamu memahami kenapa aku terus datang menemuimu? aku merasa cocok dengan kamu, seperti tujuan omku mengenalkanku denganmu, pasti kamu faham hal itu."


"Aku sedikit faham dengan melihat sikapmu, namun aku tak pernah mendengar langsung dari kamu"


Zahra ingin memperjelas bagaimana hubungannya


"Kita jalani saja ya, aku belum membahasnya karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan, dan mungkin sekarang saatnya"

__ADS_1


Fatir menjeda ucapannya


"Aku butuh waktu satu tahun lagi untuk menikah, bukan aku tak serius, tapi ada cita cita yang harus aku capai yang tak lain adalah karirku, itu juga buat masa depan kita nanti, supaya hidup kita lebih mapan"


Zahra mengambil nafas dalam, tak di pungkiri Zahra juga merasa cocok dengan Fatir, sebelumnya Zahra pernah mendengar cerita dari pak Asep bahwa Fatir tidak akan menunda pernikahan dalam artian akan menyegerakan jika Fatir merasa cocok, namun beda dengan kenyataan yang Fatir ucapkan, rasanya satu tahun terlalu lama, bukannya tidak bisa menunggu namun Zahra tak ingin menunda nunda lagi.


"Aku menghargaimu Fatir, kejarlah cita citamu, aku membebaskanmu mengejar karirmu, tapi maaf untuk satu tahun ini aku tak bisa menjanjikan apapun"


"Maksud kamu? kamu tak mau menunggu dan memperjuangkannya, satu tahun ra? apa perlu aku mengkhitbahmu dulu ra?"


"Apa tidak bisa kurang? aku rasa itu tidak baik, waktu satu tahun dari khitbah ke nikah rasanya terlalu lama, lebih baik kita kembali ke jalan kita sendiri sendiri, tidak ada ikatan di antara kita, bila berjodoh kita akan di pertemukan kembali begitu juga sebaliknya"


Memang dalam islam tidak ada ketentuan khusus yang menerangkan berapa lama untuk melangsungkan pernikahan setelah adanya proses khitbah.


Hanya saja, Islam menganjurkan agar tidak menunda hal yang baik dalam jangka waktu yang lama. Sebab, kebaikan itu harus segera dilaksanakan, agar nilai ibadah itu akan dapat kita rasakan secepatnya. Selain itu, ketika waktu menunda cukup lama, maka akan semakin banyak godaan yang bisa saja membuat diri kita terjerumus pada lubang kesalahan.

__ADS_1


Itu juga yang di rasa oleh Zahra, waktu satu tahun menurutnya terlalu lama, selain umurnya yang bertambah Zahra juga takut jika terjerumus kepada perbuatan maksiat.


Fatir mengambil nafas dalam


"Aku pikir kamu bisa berjuang bersama dan menungguku, tapi jika ini keputusanmu aku tak bisa memaksa, baiklah aku pamit pulang, Assalamualaikum".


"Waalaiukumsalam"


Fatir melangkah menuju pintu sedangkan Zahra menuju meja kasir.


"Jika dalam waktu satu tahun kita masih sama sama sendiri apa boleh aku mendatangimu dan melanjutkan cerita kita"


Baru beberapa langkah, terdengar Fatir berbicara kembali.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi satu tahun ke depan, biarlah semua berjalan sesuai skenario Allah"

__ADS_1


Zahra meneruskan langkahnya, begitu juga Fatir, tak di pungkiri di hati mereka masing masing ada rasa sedih dan kecewa.


__ADS_2