
Sesampainya di rumah pak Mahmud. Rasanya dadanya Mila mau meledak. Baru saja dia ingin berdamai dengan diri sendiri. Memaafkan kesalahan sang suami. Tapi, setelah mengetahui fakta kalau Irene hamil anaknya Irfan, membuatnya kembali tergunjang akan kenyataan itu. Berarti dia belum siap untuk kembali dengan Irfan, dengan segala kesalahan yang Irfan lalu kan.
"Huhuhu... Bu, a, aku sepertinya gak sanggup lagi hidup dengan Mas Irfan Bu. A, aku semakin tersiksa hidup dengannya. Kesalahan nya tidak bisa ku terima bu!"
Saat ini Mila sedang menangis dalam dekapan Ibu Jannah.
"Ya, karena baru itu makanya kamu masih sakit hati seperti ini. Dengan berjalan nya waktu, semuanya juga akan baik- baik saja." Jawab Bu Jannah lembut, mencoba memberi gambar an pada Mila.
"Gak, gak bu. Aku gak bisa melawan kata hatiku. Aku gak mau kembali lagi dengan mas Irfan bu!"
"Mila, pikir kan baik-baik. Kalau kamu cerai dengan Irfan, yang nafkahi kamu siapa? gajimu hanya 500 ribu sebagai guru honorer. Dan anakmu butuh sosok seorang ayah." Ujar Bu Jannah penuh penekanan. Wanita paruh baya itu mengendorkan pelukan Mila, menatap tajam Mila yang sedang kalut itu.
"Aku punya tangan, punya kaki. Aku bisa cari makan sendiri bu." Sahut Mila masih terisak dalam dekapan Bu Jannah.
Bu Jannah tidak mengeluarkan sepatah kata lagi. Ia hanya menatap sendu Mila yang terlihat Terpukul itu.
Sementara di ruang tamu. Pak Mahmud dan Irfan sedang berdebat. Irfan yang tidak stabil emosinya memaksa untuk masuk ke kamar, menemui Mila yang sedang ditenangkan Bu Jannah.
Mila yang tidak tahan mendengar keributan itu, akhirnya memutuskan keluar dari kamar. Ia akan menemui Irfan. Saat ia keluar dari kamar, ia langsung disambut putrinya Salsa. Yang memang sejak dari tadi menguping pembicaraan Ibunya dengan sang nenek bu Jannah.
"Ma, Salsa ikut Mama!" Ujar Salsa menangis tersedu-sedu. Sepertinya ia sudah sedikit mengerti dan tahu, jikalau ayah dan mamanya sedang bertengkar.
"Iya nak!" Mila merangkul sang anak. Membawanya ke ruang tengah untuk menemui Irfan.
Sesampainya di ruang tengah, Irfan yang tadi duduk, bergegas menghampiri Mila.
"Mila, kamu jangan marah padaku lagi ya? aku benar-benar tidak ada hubungan lagi dengan Irene. Maafkan aku Mila!"
__ADS_1
Bruuggkk
Kembali Irfan bersujud di kakinya Mila, sontak Mila memundurkan tubuhnya. Ia bukan Tuhan yang harus disembah. "Maafkan aku dek!" Pinta nya dengan kedua tangan terkatup.
Pak Mahmud dan Bu Jannah dibuat sedih melihat keadaan di hadapannya. Pasangan suami istri itu tidak menyangka rumah tangganya Mila dan Irfan akan hancur seperti ini, padahal Irfan Dan Mila sebelum memutuskan menikah sudah pacaran 3 tahun. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat.
"Beri aku Kesempatan sekali lagi sayang. Jika aku melakukannya lagi, aku benar-benar akan pergi dari hidup mu dan Salsa!" pinta Irfan dengan berderai air mata di hadapan Mila, Salsa, pak Mahmud dan Bu Jannah.
Bu Jannah menghampiri Mila. Mengelus lembut bahu wanita yang lagi rapuh Itu. "Bulatkan lah tekatmu. Maafkan dia untuk kesalahan ini. Saran ibu kalian berbaikanlah, demi anak kalian Salsa!" ujar Bu Jannah Lembut.
Mila kembali goyah. Kulit sekali rasanya untuk konsekuen dengan keputusan yang ia ambil o pertama kali. Dia seperti itu, karena terlalu mencintai Irfan.
Mila masih bergeming.
Pak Mahmud membantu Irfan bangkit. Ia t untuk pria itu untuk duduk di sofa. Sedangkan Bu Jannah menuntun Mila dan Salsa duduk di sofa yang berbeda.
Mila masih bungkam. Sedangkan Irfan nampak sumringah dengan usul Pak Mahmud. "Iya pak!" Jawabnya semangat. Wajah murung penuh kesedihan berubah jadi ceriah.
"Mila, kamu beri kesempatan sekali lagi kepada Irfan!" Usul Pak Mahmud lagi. "Ingat, ada Salsa yang butuh kasih sayang kedua orang tuanya!" Timpal Bu Jannah penuh penekanan.
Mila menatap sendu Salsa yang kini ada di pangkuan Irfan. Melihat putrinya itu sedih membuat hatinya hancur.
"Dek.. Maafkan Mas!" Irfan menjulurkan tangannya perlahan, mengharapkan Maaf nya Mila.
Mila menatap lekat Irfan, terlihat ketulusan di pacaran matanya Irfan.
"Iya Mas!' Jawabnya lemah.
__ADS_1
" Terima kasih Dek!" Irfan yang bahagia, mengecup gemes pipi sang putri. Ia terlihat bahagia sekali.
"Hutang, kenapa Mas ada hutang kepada Irene?" Mila ingin Irfan jujur di hadapan Pak Mahmud dan Bu Jannah. Karena sekarang, Pak Mahmud dan Bu Jannah sudah dianggap Mila sebagai orang tua
"Itu, hanya akal akal an nya Irene. Aku gak ada hutang dengannya. Hanya saja, ia menganggap aku berhutang padanya, disaat kami inde hoy..!"
"Apa.. Astaghfirullah. ..!" teriak Mila Histeris. Kenapa suaminya itu dengan gamblangnya mengakui maksiat yang ia lakukan di hadapan orang lain. Dimana rasa malu nya.
Irfan yang sadar akan ucapannya, akhirnya memilih diam dan menunduk malu.
"Nak Irfan, Mila mau memberikan kamu kesempatan sekali lagi. Bapak harap, kamu benar-benar dan sungguh-sungguh memperbaiki diri. Jikalau kamu ketahuan selingkuh lagi, maka. Kamu harus menceraikan Mila!" tegas Pak Samsul.
"Iya pak!' sahut Irfan lemah.
Pak Samsul beranjak daru tempat duduknya. Ia mengambil laptop yang ada di meja kerjanya fi ruang tamu. Ya, Pak Mahmud adalah Seorang guru juga, tepatnya teman Mila satu kerja.
Pak Samsul mulai mengetik di laptop nya. Membuat poin-poin yang harus di taati oleh Irfan . Sekali saja dilanggar, maka Irfan harus menceraikan Mila.
Saat Pak Mahmud sibuk mengetik poin-poin yang harus ditaati oleh Irfan. Mila hanya bisa menunduk dan tak mau bersitatap dengan Irfan. Ia masih terlihat kesal kepada suaminya Itu. Sedangkan Bu Jannah kini sedang sibuk membuat kopi di dapur.
Pak Mahmud memprint surat perjanjian itu. Memberikan nya kepada Irfan untuk dibaca. Irfan setuju dengan isi surat perjanjian itu, ia pun menandatanganinya.
Setelah menandatangani surat perjanjian itu. Pak Mahmud tidak membolehkan Irfan dan Mila langsung pulang, sebelum pasangan yang baru Baik an itu makan malam di rumahnya. Mila yang tidak enak an menolak tawaran niat baiknya Pak Mahmud dan Bu Jannah, akhirnya makan malam di rumah itu.
Pak Mahmud juga memberikan na sehat panjang pada Irfan. Begitu juga dengan Mila, yang harus sabar menjalani coba an dalam be rumah tangga.
"Aauuwwhh.. Mas.. Apa-apa an sih?" keluh Mila kesal, disaat Irfan bercandain Mila dengan Tiba-tiba ngerem mendadak setelah ia tancap gas. Kini mereka sedang di perjalanan menuju pulang ke rumah
__ADS_1