
Sayup-sayup Mila mendengar namanya dipanggil, disusul oleh sentuhan di hidung serta rasa menyengat di indera penciumannya itu.
"Mila, Mila, sadar Dek!" Mila kenal suara yang memanggil manggil namanya itu. Pemilik Suara barithon itu adalah Cholil Qoumas. Kakan Kemenag Kanwil tingkat provinsi itu, Pejabat tertinggi di kementerian tempat Mila kerja.
Mila yang sudah sadarkan diri. Takut untuk membuka kedua matanya. Gimana tidak takut, orang penting dan nomor satu di kementerian tempat dia kerja, terdengar sangat khawatir padanya. Dimana marwah pria itu, yang terlalu perhatian kepada janda.
"Sepertinya Mila sudah sadar Pak." Ujar Bu Romlah, yang sejak tadi memijat mijat tangannya Mila. Wanita itu juga yang mengoleskan minyak kayu putih ke dekat lubang hidung nya. "Itu bola matanya bergerak-gerak!"
Ngapp..
Mila yang sudah sadar. Kembali menyipitkan kedua matanya. Agar tidak terlihat bola matanya yang bergerak-gerak.
"Panggil kan dokter, Mila harus diperiksa. Mungkin dia sangat lemah, sehingga dia tidak bisa membuka kedua matanya."
Mila dibuat tidak tenang, setelah mendengar Pak Cholil meminta para guru memanggil dokter. Kalau itu terjadi bisa semakin panjang urusannya.
__ADS_1
"Baik pak?" sahut Pak Ardhana.
Mila pun merasa dia tidak perlu bersandiwara, hanya untuk menghindari Cholil. Pria yang melamarnya semalam.
"Eemmm...!" gumamnya, ia gerak kan tangannya lemah. Dengan keadaan mata memicing sebelah, sedang mengawasi keadaan.
"Dek Mila, kamu sudah sadar?" ujar Cholil dengan penuh kekhawatirannya.
Mila yang sudah membuka kedua matanya, menyoroti sekitar. Ingin tahu, siapa saja yang ada di ruangan saat ini. Ia malu juga kepada teman kerjanya, karena Cholil terlihat sangat mengkhawatirkannya. Ternyata saat ini, ia sedang di ruang UKS. Di ruangan ini hanya Ada Pak Cholil, Bu Romlah, dan Pak Ardhana.
"I, iya pak!" Sahutnya dengan bingungnya. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Takut Bu Romlah dan Pak Ardhana menilainya buruk. Dia yang hanya guru honorer, diperhatikan dengan spesial oleh atas an tertinggi di instansi mereka.
Mila yang malu, hanya bisa menjauhkan pandangannya dari tatapan Pak Cholil. Tapi, ia tetap merespon ucapan pak Cholil dengan anggukan pelan.
Mila saat ini membuang pandangannya kepada Bu Romlah dengan penuh tanda tanya. Bu Romlah yang takut salah jawab, memilih diam.
__ADS_1
"Bu Romlah, papah Mila ke mobil ku!" Titah Pak Cholil dengan tegas
Mila mengedipkan ngedipkan matanya kepada Bu Romlah, agar wanita itu menolak permintaan Pak Cholil, tidak usah membawa nya ke mobilnya. Karena ia merasa baik-baik saja.
"I, ia Pak!" Sahut Romlah sopan. Mana mau membantah ucapan sang atasan.
Mila menatap malas Pak Cholil yang kini ada di hadapannya. Tapi, entah kenapa mulutnya terasa keluh dan terkunci untuk menolak dibawa ke rumah sakit.
Romlah pun memapah Mila setelah turun dari bed. Menuju mobilnya Cholil.
Cholil yang merasa bu Romlah kesusahan memapah Mila. Akhirnya mengambil alih Mila dari rangkulannya Romlah.
"Aauuwwhh.. !" dalam satu gerakan. Arum telah berpindah Tempat ke dada bidangnya Cholil. Hal itu tentu membuat Mila malu, semalunya. Ia pejamkan kedua matanya, tidak sanggup melihat para guru yang menonton atraksi romantis mereka.
"Pak, lepas, turunkan aku pak. Aku malu dilihatin orang. Yang bapak lakukan tidak benar! kelakuan bapak ini dosa!" ujar Mila gugup. Jujur, ia takut pada pria yang menggendong nya sekarang.
__ADS_1
Tidak bisa diatur lagi ritme jantung nya sangat cepat saat ini. Bahkan Mila merasa jantungnya sudah copot. Darahnya sudh tumpah ruah di rongga dadanya sat ini. Sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Cholil. Pria itu menggendong Mila di depan para guru. Dan itu menyalahkan akidah. Mereka muslim, tidak seharusnya kontrak fisik.
"Pak," Protes Mila, berontak agar di turunkan oleh Cholil.