TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
8


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mila yang baru tidur setelah pukul 3 dini hari dikejutkan dengan suara wajan jatuh dari dapur. Ia pun terbangun dan buru-buru turun dari atas ranjang. Dia juga heran, Karena putrinya Salsa tidak ada di tempat tidur lagi.


Ia bergegas menuju dapur.


"Eehh... Adek sudah bangun. Maaf, kuali ini jatuh tidak sengaja dari tanganku dek!" ujar Irfan dengan muka sok polos nya.


"Mak, ayah mau masak nasi goreng spesial!" timpal sang putri dengan ceriahnya. Gadis kecil itu kini sibuk membantu Irfan mengiris bawang merah.


Mila dengan muka bantalnya mengabaikan Irfan dan Salsa yang terlihat sedang memasak telur dadar dan nasi goreng itu. Wanita itu pun kini masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi Mila bersiap-siap untuk pergi bekerja. Hari ini dia banyak jam pelajaran.


"Dek, sarapan dulu!" tawar Irfan lembut, saat melihat Mila mengambil sepatu dari Gak yang ada dekat dapur. Ia melewati meja makan, saat ini putrinya Salsa sedang sarapan. Sedangkan Irfan terlihat bersih-bersih di dapur.


Dua minggu ia tinggalkan rumah itu. Jelas rumah itu berantakan dan kotor sekali. Dan hari ini Suaminya pandai mengambil hati. Rumah kembali kinclong. Memang tidak butuh waktu lama untuk membersihkan rumah mereka, karena rumah mereka kecil yaitu hanya 6x6 meter.


"Aku sudah telat Mas. Aku sarapan di sekolah saja!" Sahut nya cepat, tanpa menoleh ke arah Irfan yang sejak tadi menatapnya terus menerus dengan muka yang berbinar.


"Sedikit saja dek, bukan kah kamu selalu bilang nasi goreng masakan ku enak!" ujar Irfan dengan mulut manisnya.


"Dulu, walau sekarang Mungkin rasanya seperti empedu!" sahut nya malas, ia menyeret kakinya meninggalkan Irfan di dapur. Dan Irfan menyusulnya. "Mama kerja ya sayang. Kamu ke sekolah diantar ayah!" Mila mengecup pipi nya Salsa yang sedang menikmati sarapan nya di meja makan.


"Iya ma!" Sahut Salsa dengan semangat. Ia senang, karena bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Irfan menyusul Mila ke teras rumah. "Jam berapa kamu pulang hari ini dek?" tanya nya saat Mila memakai Helm.


"Pukul tiga sore!" jawab Mila cepat. "Aku ke rumah pak Mahmud nanti, mau kembalikan motor ini!" Mila menatap motor yang ia naiki


"Oouuww.. Iya sayang, nanti Mas jemput kamu ke rumah Pak Mahmud."


"Gak usah, aku. bisa naik becak!" jawab Mila cepat. Ia pun tancap gas, saat tangannya Irfan menjulur untuk disalim. Akhirnya tangannya Irfan mengatung di udara, karena Mila tidak menyambut nya.


***


Sesampainya di sekolah, Mila yang telat. Tidak ikut apel pagi. Dan seperti biasa, sejak kasus yang ia alami. Ia jadi pusat perhatian di sekolah itu sekarang. Setiap hari, para guru-guru yang kepo akan menanyakan akan masalah rumah tangganya.


Tidak sedikit yang kasih masukan, agar ia memaafkan Irfan. Dan kembali membina biduk rumah tangga. Karena mereka sudah punya anak. Dan ada juga beberapa guru yang memberi masukan agar ia minta cerai kepada Irfan karena suami yang berani selingkuh apabila dimaafkan maka, ia akan melakukan kesalahan itu lagi.


Mila sudah menebalkan kupingnya atas gunjingan beberapa Guru. Makanya terkadang ia memilih tetap berada di kelas saat waktu istirahat tiba. Dan kali ini ia malah di datangi Bu Salamah. Tetangga nya Mila


"Mila, kamu sudah baikan dengan Irfan?" tanya Bu Salamah yang kini berdiri di hadapannya


"Iya bu!" Jawabnya cepat.


"Astaga Mila, kamu kenapa bodoh sekali!" Bu Salamah nampak kesal mengetahui Mila kembali dengan Irfan.


"Iya bu, aku bodoh." Jawab Mila malas. Ia kembali sibuk dengan kerjaan nya mengoreksi tugas siswa.


"Kamu dan suaminya Irene memang sama-sama bodoh. Dengar kabar Suaminya Irene juga memaafkan Istrinya yang selingkuh dengan suamimu Irfan!" Jelas Bu Salamah dengan antusias. Memang sangat asyik jika menghibah.

__ADS_1


"Entahlah bu, aku rasa inilah yang terbaik untukku. Semoga Mas Irfan berubah lebih baik setelah kejadian ini!" Jawab Mila sendu.


Sebenarnya jika ditanya hati kecilnya yang paling dalam. Ia sama sekali tidak ingin kembali kepada Irfan, ia lebih memilih menjadi janda, membesarkan sendiri anaknya. Tetapi Salsa masih butuh sosok seorang ayah. Apalagi Irfan terlihat sangat menyayangi anaknya. Jadi di sini Mila mengambil keputusan. Biarlah dia yang berkorban perasaan asalkan anaknya bahagia. Apalagi setelah selesai sholat istikhorah, hatinya sudah yakin menerima Irfan kembali.


"Ya ampun, lapang benar dadamu Mila. Kesalahan fatal seperti itu kamu maafkan. Mana masalah kalian sudah diketahui oleh seluruh warga Indonesia raya!" ujar Bu Salamah dengan muka herannya menatap Mila yang nampak santai.


Ya, pertengkaran Mila dan sang suami dua minggu lalu sempat viral di sosial media. Karena ada yang meng-upload kejadian pertengkaran Itu. Tapi, video itu langsung diberhentikan penayangannya. Karena Irfan mengancam akan melaporkan oknum yang menyebar video pertengkaran nya dengan Mila.


"Iya bu. Sudah ya bu. Aku mau ke kantor!" Mila bangkit dari duduknya. Ia beres beresin LKS anak-anak. Ia akan lanjutkan koreksi tugas anak fi kantor saja. Terkait ia akan dijejal banyak pertanyaan soal ia yang sudah kembali serumah dengan Irfan, ia sudah siap untuk memberi jawaban kepada teman kerja yang prihatin akan masalah rumah tangganya.


"Ya ampun Mila, kamu yang kuat ya!" Ujar Bu Salamah lembut. Ia pun tersadar, sikapnya akan melukai dan buat beban di hatinya Mila.


Sesampainya di kantor, benar saja. Berita ia yang sudah se rumah dengan Ifan sudah diketahui para guru. Tapi, terlihat para guru enggan membahas masalah Itu. Dan Itu cukup membuat Mila tenang. Hanya Bu Salamah yang ikut campur urusan orang lain. Mila pun akhirnya bisa kembali kerja dengan tenang.


Pukul 15.00 Wib. Saat hendak pulang ke rumah Pak Mahmud, motornya Mila dicegat oleh Irene, selingkuh an sang suami. Rasanya dadanya bergemuruh hebat saat melhat Irene menghampirinya. Ia dilabrak oleh Irene di tengah jalan yang lumayan sepi. Kepo sekali memang pelakor satu ini. Ia merasa sebagai korban. Padahal ia yang selingkuh


"Mil, kita harus bicara!" Irene memegangi stir motornya Mila


Ciieehh


Mila menatap malas Irene. Ini kedua kalinya Irene menantangnya.


"Oouuww.. Merasa hebat kamu ya, karena Kamu dan Abang Irfan bersatu lagi."


Mila jauhkan tangannya Irene dari stir motornya dengan kesalnya. Hal itu membuat Irene tersinggung.

__ADS_1


"Kamu harus bayar hutang nya Irfan padaku. Dia banyak hutang samaku. Apa kamu tahu itu?" tanya Irene dengan mata melotot nya!


__ADS_2