TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
12


__ADS_3

Sesampainya di depot usaha nya Irfan.


Terlihat di tempat itu Irfan sedang sibuk beserta satu anggotanya berjenis kelamin wanita. Gadis berumur sekitar 20 tahun. Di depot itu sedang ada pengisian air dari tangki besar yang dibawa mobil.


"Ayah.....!" teriak Salsa, setelah turun dari motor yang dikenderai oleh Mila. Salsa berlari menghampiri sang ayah.


"Salsa, jangan dekat-dekat nak!" ujar Irfan dengan sedikit rasa khawatir. Ia takut anaknya itu terjatuh saat berlari, karena ada air di lantai.


Salsa tidak jadi menghampiri sang ayah. Ia duduk di kursi panjang stainless, tempat pelanggan menunggu galon air nya saat diisi. Mila juga mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Salsa. Ia tersenyum manis kepada sang suami yang akhir-akhir sangat rajin bekerja dan baik padanya. Benar-benar Irfan sudah berubah.


"Sebentar lagi selesai!" ujar Irfan lembut. Mukanya terlihat Sangat bahagia hari ini.


"Iya Sayang!" jawab Mila tersenyum lebar.


Walau Irfan sempat mengkhianatinya. Cinta nya yang besar, dan perubahan yang sungguh -sungguh dari Irfan, membuat sakit yang pernah ia torehkan di hati wanita itu dengan cepat terobati.


"Ayah... Lihat ini!" Salsa menunjukkan amplop berwarna coklat yang diberikan oleh pejabat di sekolah tadi. "Uangku banyak!" ujar Salsa lagi.


"Iya sayang," Sahut Irfan dengan ceriah nya. Pria itu penasaran juga dengan isi amplop yang ditunjukkan oleh putri nya itu. "Ok, sudah selesai!" Irfan meraih serbet yang tersampir di meja kasirnya. Ia lap tanganya yang basah. Selesai melap tangannya. Tiba-tiba saja Irfan merasa kepalanya pusing. Ia pegangi kepalanya, sambil mebalik badannya ke arah Salsa dan Mila.


"A, ayah...!"


Mila yang tengah serius menatap layar ponselnya dikejutkan dengan teriak an Salsa.


Bruuggkk..

__ADS_1


Irfan Ambruk, tubuhnya bahkan menimpa kursi plastik sehingga menimbulkan suara gaduh


"Mas....!" teriak Mila.


"Ayah..!" teriak Salsa histeris


"Bos...!" teriak pegawainya Irfan dengan tercengang.


Mila berlari menghampiri sang suami yang terkapar di lantai. "Bang... Abang Irfan..!" Mila goyang tubuh sang suami dengan paniknya. Jangan tanya dadanya bergemuruh hebat saat ini. Dugaan dugaan negatif langsung memenuhi pikirannya. Karena, Suaminya itu terlihat tidak bernapas lagi.


"Ayah.... Ayah kenapa Ma?" tanya Salsa dengan bingungnya.


Mila yang panik tidak menanggapi pertanyaan sang putri lagi. Ia terus saja menggoyang tubuh sang suami yang tidak memberi respon. Ia juga memeriksa denyut nadi sang suami. Tidak ada detakan.


"Rosa.... Stop becak, stop mobil. Kita harus bawa suamiku ke rumah sakit." Ujar Mila dengan paniknya. Kedua matanya sudah digenangi air mata. Ia sudah yakin suaminya itu sudah meninggal.


"To..Tolong...!" teriaknya kuat.


Para tetangganya Irfan pun akhirnya berdatangan ke tempat depot air minum nya.


"Irfan kenapa dek?" tanya seorang ibu-ibu pemilik toko sepatu yang bersebelahan dengan depot nya Irfan.


"Gak tahu bu. Tiba-tiba saja Abang Irfan ambruk." Sahut Mila sesenggukan. Ia masih merangkul tubuh sang suami yang tidak memberi respon itu.


"Kak, Itu becak nya!"

__ADS_1


"Tolong angkat suamiku!" pinta Mila dengan memelas. Wajahnya terlihat tertekan sekali saat ini.


"Naik mobil ku aja!' Usul seorang pria yang kebetulan ingin mengisi galon.


Tubuh Irfan pun digotong tiga orang pria untuk masuk ke dalam mobil.


" Ma, ikut Ma!" teriak Salsa.


Mila yang kalut tidak kepikiran ke Salsa lagi. Ia syok mendapati suami yang tiba-tiba tidak bergerak. Ia yakin suaminya itu sudah meninggal. Tapi, perlu diperiksa pihak medis, agar ia lebih yakin.


"Jangan sayang, kamu dengan kak Rose ya!" ujarnya, menolak tangan sang anak yang ingin masuk ke dalam mobil


Dengan histeris Salsa menangis, tantrum di depan depot milik mereka. Mila tidak ambil pusing anaknya yang menangis Itu. Ia kini memeluk erat sang suami yang tidak ada pergerakan sama sekali.


"Dek, emang tadi gejala awal nya gimana. Koq, Irfan seperti itu?" tanya pria si pemilik mobil.


"Gak ada gejala pak. Tiba-tiba saja suami ku ambruk. Padahal baru saja isi air ke depot!" jawabnya sesenggukan. Dadanya Mila saat ini berdebar hebat. Ia sangat takut akan kehilangan suaminya itu. Selama tiga bulan ini, suaminya itu baik sekali. Sudah seperti malaikat. Bahkan Suaminya itu sudah taat beribadah. Sudah taubat nasuha.


"Oouuww.. Moga saja hanya pingsan." ujar si bapak yang memberi tumpangan pada Mila.


Hu...Hu..Hu..


"Iya pak." Sahutnya menangis sesenggukan.


Mobil pun kini telah sampai di rumah sakit. Para perawat bergegas membawa brankar saat si bapak memanggilnya dan mengatakan ada pasien.

__ADS_1


__ADS_2