
"Ma, maaf Dek!" ujar Cholil dengan bingungnya. Tangannya terlihat Ingin melap kopi yang mengenai bajunya Mila.Tapi, tangannya itu perlahan mengatung di udara. Karena tidak Mungkin dia menjamah wanita yang kaget di hadapannya.
"I, iya pak!" Mila yang salah tingkah sejak tadi, kini ngacir ke dapur. Rasanya memalukan sekali, Cholil melihat nya dalam keadaan tidak memakai hijab.
Melihat sikapnya Mila yang kaku padanya. Membuatnya nampak merasa bersalah.
"Nak Cholil, apa kopi nya tidak enak?' tanya ibu mertua nya Mila dengan penasarannya, kenapa pula kopi itu sampai di muncrat kan dan mengenai Mila.
" E, enak koq bu!" Sahut Cholil tergagap.
"Oohh..!" Sahut Ibu mertua nya Mila dengan tidak percaya nya. Karena ekspresi wajahnya Cholil terlihat kecut sekarang.
"Kirain gak enak, makanya dimuncratkan!"
"Enak bu, tadi kopi nya masih panas!" jawab Cholil cepat. Ia pun terlihat salah tingkah saat ini.
"Ayah, aku main di luar!" Ujar Darel yang kini sedang di kejar oleh Salsa.
"Iya nak!" Sahut Cholil memperhatikan kedua anak itu berlari ke taman, dan Kemudian fokus ke Ibu mertuanya Mila.
"Oh ya Nak Cholil, benarkah Nak Cholil pimpinan nya Mila di sekolah?" tanya Ibu mertuanya Mila dengan antusias.
Kedua alisnya Cholil tertaut mendengar pertanyaan nya wanita paruh baya itu. "Gak Bu, aku bukan atasannya Mila. Aku kerjanya di ibu kota provinsi." Jawab Cholil ramah
Ibu mertuanya Mila nampak semakin bingung. "Oouuww.. Kirain, Karena Mila tadi sempat cerita. Berarti ibu yang salah tanggap." Jawab wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Oh ya Nak, Bisa kah ibu minta tolong. Bilang kan dulu sama pimpinan di provinsi. Guru honorer yang lulus PPPK tahun ini, di tempatkan ke sekolah induk nya saja. Tidak usah di rolling." Ibu mertuanya Mila menghentikan ucapannya. Ia menunduk sekilas. "Aku tidak ingin menantuku Mila jauh dariku.' Kini wanita tua itu malah menangis sesenggukan.
Cholil terdiam, baru ia tahu, kalau Mila menang PPPK di Kemenag.
" Bu, gak usah khawatir. Selama di sekolah tempat Mila kerja, ia masih dibutuhkan, ya dia biasa diusulkan tetap di kerja di sekolah itu. Tentunya kepala sekolah nya yang Usul kan ke Kanwil bu." Jelas Cholil dengan serius.
"Oouuww... Bayar lagi dong nak!"
"Gak bu." Jawab Cholil tegas
"Masak sih? sekarang kan sistem bayar!" ujar mertuanya Mila nyolot.
"Iya bu. Lembaga kita amanah bu." Jawab Cholil sopan.
"Entah lah nak, aku sangat khawatir dengan masa depan menantuku itu. Aku takut dia akan sengsara, jika kami mertuanya ini sudah tiada." Keluh Wanita tua itu dengan penuh Tatapan.
"Dia belum pernah merasakan bahagia setelah menikah dengan putraku. Dan sekarang ia jadi single parent. Hal itu membuatku sangat was was nak."
Cholil tersenyum tipis merespon cerita wanita paruh baya di hadapannya. Ia terkesan dengan ibu mertuanya Mila.
"Nak Cholil, bantulah ibu untuk cari kan pria yang baik dan bisa menjaga Jamila dan putrinya Salsabila." Pinta Ibu mertua nya Mila penuh harap, bahkan wanita tua itu sampai mengatupkan kedua tangganya kepada Cholil.
Permintaan wanita tua di hadapannya Cholil tentu saja sangat mengejutkannya. Ia malah diminta I sebagai makcomblang.
"Eemmm.. Gimana ya bu, soal jodoh kan,"
__ADS_1
"Tolong lah nak, kamu pasti punya banyak kenalan yang baik. Tapi, jangan yang kaya. Yang biasa saja, yang sholeh dan penuh tanggung jawab. Karena kami pun orang susahnya." Ibu mertuanya Mila terlihat sangat berharap akan bantuan Cholil
Mila yang kini tinggal menunggu kue nya matang di oven, tentu membuka lebar kupingnya di dapur. Agar bisa mendengar percakapan Cholil dan ibu mertuanya. Soal permintaan ibu mertuanya untuk mencari kan jodoh untuk nya. Mila yang menguping dibalik dinding dapur dibuat geram akan ucapan sang ibu mertua. Karena Mila tidak ingin berumah tangga lagi. Ia ingin fokus besar kan Salsa. Bukan menambah kerja an dengan mengurus suami.
Ia sudah punya pengalaman pahit berumah tangga. Capek kerja di rumah, capek kerja cari uang bantu pemasukan untuk keluarga. Dan sudah merasakan dikhianati. Jadi, sedikit pun Mila tidak tertarik lagi untuk menikah. Ia tidak ingin mem uang energi nya dengan punya suami lagi.
"Bu, soal jodoh ini sangat sensitif sekali. A, aku tidak berani menjodoh-menjodohkan orang. Nanti, orang yang ku jodoh kan nyatanya gak baik di Kemudian hari, aku Bisa malu kepada ibu dan Dek Mila nya." Sahut Cholil sopan penuh keyakinan.
Huufftt..
Ibu mertuanya Mila menarik napas panjang. Wanita tua itu pun bersandar di badan sofa.
"Iya nak, maaf ya. Kalau begitu permintaan ibu tadi gak usah diambil hati."
"Iya bu, maaf soal yang ini aku gak bisa bantu!" Sahut Cholil dengan enggan.
"Soal penempatan Mila di sekolahnya. Bisa nak Cholil bantu?" tanya Wanita paruh baya Itu.
"Kalau soal itu, bisa bu!" Sahut Cholil sopan.
Mendengar pembicaraan di ruang tamu sudah mendingin. Mila kembali fokus ke kue bolunya. Kini tinggal menunggu dua loyang lagi di oven. Dua loyang telah masak
Ternyata Salsa cerita kepada Darel, Kalau ia pandai buat kue bolu. Dan Darel mem pesan kue ulang tahun brownis kepada Salsa, karena Darel ingin membuat kejutan kepada ayahnya yang sedang berulang tahun.
Dari cerita Darel ke Mila di dapur. Pak Cholil, ayahnya Darel tidak suka merayakan ulang tahun. Tapi, kalau sekedar makan kue bersama ayah nya itu tidak keberatan. Makanya Darel memaksa Cholil datang ke rumahnya Mila, karena ingin memesan kue ulang tahun.
__ADS_1
Mila dibuat bingung sekarang. Bagaimana dia akan menghias kue ulang tahun Pak Cholil.