
Darel dan Salsa berlarian masuk ke dapur. Mereka sudah puas main di teras dan halaman rumah.
Sesampainya di dapur.
"Waahh.. Kren sekali kue nya Mama!" ucap Salsa dengan ceriah nya. Gadis kecil itu pun menoleh ke arah Darel. "Darel, kue nya sudah jadi. Mana bayar nya!" Salsa menengadahkan tangannya ke arah Darel.
"Salsa, gak usah dibayar." Mila yang masih merapikan hiasan kue tart itu, menatap tajam kepada sang putri.
"Koq gak dibayar sih ma? kan kita lagi butuh uang banyak, untuk beli seragam sekolah ku, buku, sepatu."
"Iya sayang, kalau kita ikhlas berbagi, pasti Allah akan menggantinya lebih banyak lagi. Dan ingat, Berbagi tanpa harus menunggu banyak rezeki. Lagi pula, ayahnya Darel. Pak Cholil kan pernah kasih uang banyak sama Salsa?" ujar Mila lembut.
Pikiran Salsa kini dipenuhi uang dan uang terus. Karena, Mila sempat mengeluh soal keuangan. Gaji guru honorer yang diterina sekali tiga bulan, sering membuat merek kesulitan dalam keuangan akhir-akhir ini. Apalagi, mereka masih ada hutang di bank, saat mau buka usaha depot air minum. Baru jalan dua bulan, Suaminya sudah meninggal.
"Kapan Ma?" tanya Salsa dengan bingungnya. Ia nampak mengingat-ingat.
"Dulu sayang, sudah....Jangan bahas itu lagi ya nak. Kamu harus sering berbagi dengan sahabatmu!" ujar Mila tersenyum tipis. Tapi, Sebenarnya ia sedang sedih. Gara-gara membahas uang yang pernah diberikan Choil satu tahun yang lalu. Ia jadi teringat kejadian meninggal nya Sang suami.
"Bu, gak apa-apa koq. Memang, aku m pesan kue tart ke Salsa. Gak mau gratis." Ujar Darel lembut. Anak ini sudah tampan, baik, sopan lagi.
Pasti mantan istri Pak Cholil itu cantik dan baik.
Mila membathin, memperhatikan lekat Darel yang terlihat tidak enak an itu.
"Ini Salsabila...!" Darel yang sudah menyiapkan uangnya. Memberikan uang pecahan 100 ribu kepada Salsa
"Iya, Hehehe.. Terima kasih ya?" Salsa memang matre. Tetap ia terima uang itu, padahal Mila sudah mengatakan kue nya gratis. "Sebentar, aku ambil kembalian nya dulu!" Salsa naik ke atas kursi. Ia ambil dompetnya yang ia simpan di dalam lemari makan. Ia pun turun, mendekati Darel. "Ini kembaliannya!" Salsa memberikan uang pecahan 50 ribu kepada Darel.
"Gak usah, buatmu saja kembaliannya!" Darel menolak uang kembalian dari Salsa.
"Oouuww.. Makasih banyak Darel!" Ucap Salsa semangat.
"Man, mana kue nya!" Darel sangat antusias untuk merayakan ulang tahun ayahnya itu.
"Ini nak!" Mila memberikan kue ulang tahun kepada Darel, sudah lengkap dengan lilinnya.
Dengan perasaan yang senang mereka keluar dari dapur. Dan Mila menyempatkan diri merapikan penampilannya dan mengenakan hijab yang menutupi dadanya.
Dan mereka pun mulai bernyanyi, Mila dan Salsa yang mengekori Darel mesra majikannya dengan tepuk tangan penuh irama mengikuti nada lagu.
Mabruuk alfa mabruuk ‘alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk yawm miiladik mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk yawm miiladik mabruuk
__ADS_1
Selamat hari milad
Semoga dapat rohmat
Selamat hari milad
Semoga dapat rohmat
Dari Allahu Ahad
Hingga hidup Selamat
Cholil dibuat terkejut dengan kejutan malam ini. Saking terkejut nya, ia sampai menutup kedua mulutnya yang sempat menganga, tidak menyangka, ulang tahun nya akan di peringati malam ini.
"Astaga.. Apa-apa an ini Darel..!" ujar Cholil dengan bahagia nya. Ia nampak salah tingkah di hadapan semuanya. Ia bukan anak kecil lagi, yang harus merayakan ulang tahun.
Darel tersenyum lebar di hadapan sang ayah. Ia masih memegang kue ulang tahun itu.

Kekompakan ayah dan anak di hadapannya, membuat Mila terharu. Seandainya Mas Irfan nya masih hidup, tentu Salsa tidak akan kehilangan kasih sayang dari sosok seorang ayah.
"Ayah berdoa dong!" ujar Darel dengan semangatnya
Mila sangat terharu melihat kekompakan yang ditunjukkan ayah dan anak itu. Apalagi wajahnya Cholil saat ini sangat bahagia. Senyum mengembang menghiasi wajah penuh jambang itu. Mila sampai terbawa suasana dibuatnya.
"Happy birthday ayah, moga sehat selalu, rezeki lancar. Dan Semoga aku secepatnya dapat ibu baru..!" ujar Darel tersenyum jahil. Saat sang Ayah menutup kedua matanya dikala berdoa. Sebenarnya Cholil kurangnya setuju dengan acara ini. Tapi, entah kenapa dia menyukai kejutan ini.
Ucapan sang anak cukup membuat Cholil tersinggung. Untuk apa berdoa minta ibu baru di hadapan orang banyak. Kan Cholil jadi malu.
"Tiup lilin nya, tiup lilinya sekarang juga. Sekarang juga, sekarang juga!" Mereka bernyanyi serentak sambil bertepuk tangan.
Bahkan ibu mertuanya Mila menggoyang kan tubuhnya. Ikut larut dalam kebahagiaan.
Mila menyalakan lilin berwarna putih yang jumlah nya ada tiga itu.
Huufftt...
Huufftt
Huufftt
Cholil meniup lilin dengan semangatnya. Pria dewasa itu sudah terlihat seperti anak TK, yang kegirangan saat ulang tahunnya Dirayakan. Sungguh, kelakuan Cholil membuat Mila tercengang. Karena yang ia bisa nilai, Cholil itu pria yang tegas dan kaku. Saat memimpin rapat juga penuh wibawa, dan sekarang pria Itu na pak seperti anak kecil. Bebas dan lepas.
"Yeeeiii... Potong kue nya, potong kue nya!" Kini hanya Darel dan Salsa yang bernyanyi sedangkan Mila, membantu Cholil sat memotong kue, menyiapkan pisau, sendok dan piring.
Darel menyuapkan kue tart itu kepada sang ayah. Kemudian Cholil juga menyuapi anaknya. Kebahagiaan terletak jelas di wajah ayah dan anak itu
"Sekarang sama mama!" Pinta Salsa, setelah Cholil juga menyuapinya.
Mila yang kini sedikit menjauh dari mereka. Melambaikan tangannya, menolak untuk disuapi Cholil. Mana Mungkin Pak Cholil Kakankemenag tingkat provinsi itu menyuapi nya.
__ADS_1
"Dek, ini..!" Ternyata Cholil memaksa agar Mila tetap memakan kue itu dari tangan yang ulang tahun.
Dengan canggung nya akhirnya Mila mendekat. Rasanya mendebarkan sekali. Ia jadi gugup parah saat disuapi.
"Aauuwwhh...!" karena grogi, Mila malah menggigit jarinya Cholil saat menyuapi nya.
"Ma, maaf pak!" ujar Mila refleks. Ia raih tangannya Cholil yang masih dilumuri oleh cream.
Huufftt
Huuttff
Huufftt..
Mila tiup-tiup tangan itu dengan paniknya. Takut si empunya tangan marah kepadanya.
Cholil malah senyam senyum diperlukan seperti anak kecil, yang disaat tangannya kegores sedikit, maka minta perhatian pada si emas untuk meniup nya.
"Ciehh... Ciieehh... Romantis ni yee..!" ledek Darel dan Salsa sambil tertawa renyah. Begitu juga dengan si nenek, ibu mertuanya Mila ikut, ikutan memanas manasi keadaan, sehingga kedua nya jadi salah tingkah.
"Aaduhh.. Maaf pak. Aku tidak ada maksud apa-apa! " ujar Mila dengan Se juta malu di wajahnya. Apalagi kini Cholil menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. Antara senang dan kesal terhadap Mila.
"Its ok.!" Sahut Cholil.
"Assalamualaikum. ...!'
" Walaikum salam..!" semuanya menjawab serentak.
"Kakek!" ternyata yang datang ayah mertuanya Mila.
"Waahh.. Nak Cholil, ada apa ini?" tanya ayah mertuanya Mila dengan ramahnya.
Cholil memang cukup terkenal di kampung itu. Karena, ia baru saja membangun sebuah masjid, yang kebetulan sekali ayah mertuanya Mila, yang menjabat sebagai BKM nya.
"Ini pak, pesan kue sama Salsa!" Sahut Cholil sopan. Ia lirik Mila yang kini bergegas ke dapur, setelah membawa gelas kopi nya Cholil.
"Oouuww.. Nak Cholil yang ultah?"
"Iya pak!"
"Waahh.. Selamat ya nak Cholil. Moga sehat selalu dan makin sukses!" ujar ayah mertuanya Mila.
"Iya pak Samsul, terima kasih!"
Cholil kembali membuang pandangnya kepada Mila yang kini datang dari dapur membawa minuman. Tentu saja Mila juga membawa minuman yang baru untuk Cholil. Karena kopi yang disemburkan Cholil tadi, tidak pakai gula. Tapi, pakai garam. Mila tahu itu, setelah ia mencicipi sedikit kopi bekas nya Cholil.
Mila kembali masuk ke dapur. Ia menyiapkan bolu pesanan Pelanggan nya. Pak Cholil berbincang-bincang dengan kedua mertuanya Mila. Dan Darel serta Salsa bermain di tegas rumah.
Hingga tidak terasa satu jam berlalu. Perbincangan Cholil dan pak Samsul malah semakin seru. Darel kini sudah tidur di sofa. Sedangkan Salsa Dan Mila sudah masuk kamar, begitu juga dengan ibu mertuanya Mila sudah istirahat di kamar.
Mila yang sudah lelah, tertidur, tanpa tahu jam berapa Pak Cholil pulang ke rumahnya.
__ADS_1