TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
14


__ADS_3

Malam harinya.


"Assalamualaikum. ...!'


Terdengar suara seorang pria mengucapkan salam dari luar rumah mertuanya Mila.


" Ma, ada tamu!" ujar Salsa menatap sang mama yang sedang memixer gula dan telur.


Mila juga membuka usaha pesanan berbagai jenis kue, baik basah dan kering. Dan kebetulan malam ini dia sedang memasak 2 loyang bolu pandan, pesanan untuk diantar besok. Dan hanya butuh 30 menit memasak itu.


"Sana bukakan pintu, nenek masih mengaji di kamarnya." Ujar Mila tersenyum tipis pada sang putri.


"Iya Ma!" Jawab Salsa cepat. Gadis kecil yang ceriah itu berlari ke ruang tamu. Dan ia dengan cepat membuka pintu rumah. Dan sang nenek ternyata juga sudah selesai mengaji dan kini ada di ruang tamu.


"Om Cholil, Darel..!" ujar Salsa dengan semangatnya. Ia senang sekali mengetahui siapa tamu yang datang.


"Salsa, Mama mu sudah masakkan yang aku pesan?" tanya Darel menghampiri Salsa.


Salsa nampak bingung.


"Oohh masuk nak Cholil" Ujar Nenek dengan ramahnya.


Cholil walau bukan orang asli di tempat itu, tapi ia cukup dikenal dan disegani orang di kompleks Itu. Ia adalah menantunya keluarga Pak Dasmi dan Kasinah. Pak Dasmi keluarga terpandang di komplek itu. Ditambah Cholil adalah seorang pejabat yang baik dan ramah.


"Iya bu." Sahut Cholil dengan sopan. Pria tampan yang kini wajahnya berjambang itu mendudukkan bokongnya di sofa sederhana warna hijau sage itu. Cholil mulai memperhatikan setiap sudut rumah sederhana Itu. Tak ada satu pun foto yang menggantung di dinding. Hanya ada jam dinding dan kaligragi ayat kursi, lafaz Allah SWT dan Nabi SAW.


"Darel, ayo ke dapur. Mamaku sedang memasak kue bronis!" Ujar Salsa dengan semangatnya


"Ayokk!" Darel dan Salsa berlari ke dapur.


Dari dapur memang terdengar suara mixer.


"Mil, Mila.. Buatkan minum. Kita kedatangan tamu!' Ujar Ibu mertua nya Mila dengan suara keras.


Di dapur Mila dikejutkan dengan kehadiran Darel di dapur itu.


Berarti tamu nya pak Cholil? Astaga, untuk apa bapak itu ke rumah ini.

__ADS_1


Mila membathin, perasaan nya sudah tidak enak lagi. Ia takut, karir nya akan terancam. Jika Pak Cholil tidak suka dengan dirinya Dan anaknya Salsa yang selalu buat masalah.


Di ruang tamu, saat Mila masih melamun sambil memixer gula dan telur.


" Nak Cholil mau minum apa? teh atau kopi.?" tanya ibu mertuanya Mila.


"Eeem...kopi juga boleh bu!" Sahut Cholil dengan sopan. Wajahnya terlihat sumringah


" Mila... Buatkan kopi untuk tamu Kita!"


Mila masih melamun, ditambah suara mixer cukup keras.


"Mila...!"


"Ma..!" Salsa yang menonton ibunya sedang memixer menepuk pelan lengan sang ibu, agar sadar dari lamunan nya.


"A, apa nak?" Mila menatap heran Salsa yang menatapnya tajam. Ia pun mematikan mixer nya. karena adonan yang ya aduk sudah mengembang berwarna putih tanpa berjejak tandanya adonan sudah bagus


"Nenek, kata nenek buatkan kopi untuk si oe tampan ma!" ujar Salsa dengan muka masam. Ia merasa mamanya tulalit.


"Mila...!" panggil ibu mertua nya lagi.


"Gak usah merepotkan bu. Aku gak mau minum koq." Ujar Cholil dengan ramahnya.


Mila yang mendengar ucapan atasannya tingkat provinsi itu, dibuat jadi merasa serba salah. Mila beranggapan, Pak Cholil pasti kecewa padanya, karena dia tidak cepat tangga atas permintaan ibu mertua nya untuk membuat kan kopi.


"Gak apa-apa nak. Kamu harus coba kopi buatan menantuku. Dijamin enak dan nikmat!" ujar ibu mertua nya Mila dengan semangat.


"Oiuhh.. Iya kah? itu kabar baik bu." Sahut Cholil ramah


Mila jadi merasa tidak tenang. Ia pun tidak konsentrasi lagi yang membuat kopi itu. Karena kupingnya kini fokus menguping pembicaraan ibu mertua dan Pak Cholil.


"Bu, airnya sudah mendidih!" Salsa mengingatkan Mila yang melamun.


"Ouhh.. Astaga..!" Mila mengambil serbet. Ia angkat panci berisi air panas dan menyeduh kopi di dalam gelas.


Salsa dan Darel memperhatikan Mila bang sedang membuat kopi dengan mengkhayal itu.

__ADS_1


"Darel kamu mau minum apa?" tanya Salsa kepada Darel.


"Aku gak mau minum. Aku mau makan kue bang kamu janjikan siang tadi."


"Oouuww.. Iya ya. Setelah ini matang. Kita akan buat kue bersama. Tunggu ibu selesai masak pesanan orang dulu "


"Salsa, jangan pegang barang-barangnya mama dulu ya nak!" ingatkan Mila kepada Salsa. Kopi beraroma nikmat kini sudah ada di atas nampak, siap diantar ke ruang tamu.


"Iya ma!" sahut Salsa lembut


Mila tersenyum manis kepada Darel dan Salsa. Ia merapikan penampilannya.Tapi, ia lupa memakai hijabnya. Karena tadi, selesai sholat Iya, ia langsung ke dapur. Karena ayah mertua nya ada acara di luar. Ia pun dengan enteng nya tidak mengenakan hijab. Padahal biasanya ia mengenakan hijab.


"Sudah cantik koq ma!" ujar Salsa tertawa kecil.


Mila dengan muka bingungnya sekaligus salah tingkah, melirik Darel yang sedari tadi senyam senyum padanya.


Hhujfft...


Mila sang gugup menarik napas berat. Tiba-tiba saja dia merasa grogi untuk menemui Pak Cholil. Entah dari mana datangnya rasa enggan dan salah tingkah itu. Padahal dia baru 2 Kali bertemu dengan Cholil. Lagi pula, ia kenapa jadi salah tingkah. Tidak Mungkin dia suka kepada pria itu. Dia saja tidak tahu, pak Cholil masih dua atau sudah menikah lagi.


Memang kabar terakhir yang ia tahu, Cholil itu duda. Saat Cholil melakukan kunjungan ke sekolah tempat ia bekerja


Mila berusaha tenang saat kakinya menapak di ruang tamu. Ia lirik sekilas Pak Cholil dengan senyum tipis nya, Yang membuatnya heran dengan dirinya adalah saat ini, ia grogi parah di hadapan Pak Kholil saat dirinya ingin meletakkan gelas berisi kopi di hadapan pria yang memang sangat tampan itu. Dari berbagai sisi manapun pria itu memang terlihat tampan. Dari depan, samping, belakang maupun dari atas


Dan sialnya, tatapan Pak Cholil terhenti kepada Mila yang kini berjalan menghampirinya dengan membawa kopi. Tatapan Pak Cholil yang memancarkan ke tertarikan itu membuatnya salah tingkah.


"Si, silahkan di minum pak!" ucapkan tergagap. Ia lirik ibu mertua nya yang nampak bahagia saat ini. Dan Mila tidak sanggup lagi menatap pak Cholil.


"Iya Dek Mila!"


Deg


Kenapa pula ia dipanggil Adek. Hadeuhh.. Mila tambah salah tingkah. Tangannya refleks memegang dadanya yang bergemuruh. Dan disaat itu pun ia sadar, Kalau ia tidak memakai hijab. Tapi, celemek yang ia kenakan belum dilepasnya. Tentu penampilannya sangat memalukan saat in.


"Astaga. !" teriak Mila refleks. Ia Seorang guru di madrasah, masak berjumpa dengan Pria asing tidak berhijab.


Byuurr.

__ADS_1


Tidak hanya Mila yang kaget. Pak Cholil juga kaget, saat me minum kopi nya. Dan kopi di mulutnya muncrat mengenai Mila.


__ADS_2