TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
17


__ADS_3

Satu bulan kemudian


"Bu Rose, izin keluar sebentar ya. Aku mau jemput Salsa di sekolahnya!" Kini Mila yang sedang Free les mendatangi guru piket di meja piket.


Bu Rose yang sedang sibuk juga di laptop nya melirik Mila sekilas. "Kalau ada jam kerjanya, gak boleh!" sahut Bu Rose tegas. Guru yang satu ini memang suka berdebat. Dan suka cari muka dengan atasan.


"Aku Fre les koq bu. Nanti, aku kesini lagi koq." Sahut Mila sopan, ia tidak mau terpancing dengan nada bicara Bu Rose yang jutek.


"ASN itu gak boleh keluar dari lokasi kerja, disaat jam kerja, walau pun Fre les." Tegas Bu Rose lagi.


"Aku belum jadi ASN Bu, aku hanya guru honorer yang di gaji 300.000 per bulan." Jawab Mila tegas, ia mulai terpancing.


"Kan kamu sudah lulus PPPK, berarti kamu sudah ASN!"


"Aku belum dapat SK bu. Kalau sudah dapat SK, baru beneran deh jadi ASN. Dan kalau sudah jadi ASN. Aku tahu kewajibanku. Karena jadi ASN sudah digaji, ada tunjangan juga dan uang makan. Sempat sudah dapat banyak uang, terus tidak bekerja dengan baik untuk negara, itu namanya kita makan uang haram. Kami hanya guru honor, bekerja lebih capek dari kalian yang PNS. Ibu ya, tidak usah cari-cari kesalahan orang lain. Bukannya ibu yang sering meninggalkan sekolah ini disaat jam kerja. Ibu pergi ke pasar, padahal belum pulang sekolah."


"Hei Mila, koq kamu jadi sok gini. Baru juga lulus PPPK. Tahu gak kamu, PPPK itu pegawai kontrak, dan tidak pensiun. Kalian itu ASN KW." Sahut Bu Rose nyolot


Mila menatap sinis Bu Rose. Ia terpancing juga dengan guru yang penjilat itu. "Yang KW itu ibu!" tegas Mila, ia meninggalkan tempat itu. Tidak ada gunanya berdebat dengan manusia sok benar. Mending ia minta izin keluar ke pak satpam saja. Toh, ia hanya mau jemput putri nya.


***


Mila telah mengantarkan Salsa pulang ke rumah. Salsa kini bersama kedua mertuanya di rumah.


Mila kembali memacu motornya menuju ke sekolah. Saat melintas di depan rumah mertuanya Cholil. Ia di stop oleh adik iparnya Cholil.


"A, ada apa ya Dek?" tanya Mila sopan kepada adik iparnya Cholil itu.


Sejak merayakan ulang Tahu nya Cholil di rumahnya mereka. Mila tidak pernah bertemu lagi dengan Cholil dan anaknya Darel. Itu artinya pak Cholil dan Darel sudah pulang ke kota. Apalagi dari sudah akan masuk sekolah.


"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu!" ujar wanita muda itu dengan muka masamnya. Dari tatapannya, terlihat ia tidak menyukainya Mila.


Mila mengikuti langkahnya Adik iparnya Cholil itu, setelah memarkirkan motornya di tepi jalan. Mila benar-benar tidak tahu nama si wanita itu. Karena Mila terbilang orang baru di komplek ibu mertuanya. Lagian Mila baru tahu, kalau ini adalah rumah dari keluarga mantan Istrinya Pak Cholil.


Perasaan Mila sudah tidak enak. Sepertinya ia akan kena sembur.


Hadeuhh.


Kenapa sih, orang-orang pada sepele pada nya. Apa karena ia orang miskin. Tidak punya orang tua dan seorang janda?

__ADS_1


"Ayo duduk, ngapain kamu berdiri bengong seperti orang gila di situ. Ini kursi untuk diduduki!" ujar adik iparnya Cholil dengan nada kesal. Lirik nanya benar-benar mau membuat Mila muntah.


"Aku tidak sempat untuk duduk. Emangnya kamu mau bicara mengenai apa. Kalau tidak ada hal penting. Maaf, aku tidak ada waktu untuk mendengar kan ocehanmu." Tegas Mila dengan nada tegas. Ia ketat kan mukanya menatap wanita sok cantik dihadapannya.


Mila merasa tidak ada urusan dengan wanita sok ini. Ia mau diajak masuk ke pekarangan rumah itu, karena ia menghargai sesama tetangga.


Adik iparnya Cholil bangkit dari duduknya. Ia berkacak pinggang, sambil menatap tajam Mila. "Aku panggil kamu, karena ada yang penting. Kalau gak penting, ngapain aku buang waktu bicara dengan kamu!" ujarnya menatap sinis Mila.


Mila tersenyum devil. Ia langkah kakinya. Ngapain juga dia buang waktu ngobrol dengan wanita gila dihadapannya.


"Hei, koq malah pergi. Tunggu!" wanita itu bergerak cepat menangkap lengan Mila yang sudah melangkah meninggalkan beranda rumah itu.


"Lepas...!" Mila hentakkan kuat lengannya yang digenggam adik iparnya Cholil. "Maaf, aku banyak urusan!"


"Hei ..!"


Kreekk..


Karena ditarik dengan kuat baju yang dikenakan Mila malah koyak.


Seketika darahnya Mila mendidih rasanya sampai ke ubun-ubun. Baju yang ia kenakan rusak, mana rusak nya bukan di tempat jahitannya.


"Jauhi Mas Cholil!" ujar wanita itu dengan muka songongnya.


"Haahh.. !" Kedua matanya Mila membuat mendengar permintaan wanita sok cantik di hadapannya.


"Jauhi Mas Cholil dan Darel.!" tegas wanita itu lagi dengan kesal.


Hahahaha..


Mila malah tertawa lepas. Ia merasa lucu dengan ucapan wanita di hadapannya.


"Adek, aku gak pernah dekatin Pak Cholil, jadi. Aku merasa tidak perlu menjauhinya. Lagian, apa hubungan nya Pak Cholil denganku!" Jawab Mila enteng


"Kata Mas Cholil, kamu menawarkan diri untuk jadi istrinya!"


"Haahh.. Adik salah dengar kali. Maaf ya, aku pergi dulu. Aku mau kerja!" Ujar Mila tegas. Ia balik kan badannya cepat...


GRraaap...

__ADS_1


Kembali tangannya dicengkram kuat oleh adik iparnya Cholil.


"Hei, aku serius! "


"Aku juga serius dek. Sudah ya, jangan halangi aku Ingin pergi. Aku mau kerja!" Mila menjauhkan tangan adik iparnya Cholil dari lengannya.


"Janji, kamu jangan dekati Mas Cholil!" tekan Wanita yang kini ekspresi wajah nya mendung.


"Iya," Sahut Mila cepat. Ngapain dia harus bicara panjang lebar dengan wanita aneh di hadapannya. Toh, ia tidak ada ke pikiran untuk dekati Cholil. Dia tidak ada power untuk dekati pria itu. Jadi, Mila tidak pernah Ke pikiran untuk menjadi Istrinya Cholil.


"Ku pegang kata-kata mu. Ingat, jangan pernah dekati Mas Cholil. Dia itu calon suamiku. Kakak ku sudah berpesan, agar aku yang akan jadi ibunya Darel!" Ujar Wanita itu sendu


"Iya dek!" Aku pamit!" Mila menyeret kakinya cepat dari rumah mewah itu. Setelah keluar dari pagar rumah anti sosial itu. Mila menaiki motornya


Sepanjang perjalanan menuju sekolah. Pikiran Mila tidak lepas dari ucapan adik iparnya Cholil. Kenapa wanita itu mengancamnya. Emang dia pernah jalan dengan Cholil, kan tidak. Bicara berdua saja tidak pernah. Koq adik iparnya Cholil mewanti-wantinya.


"Aneh.... Mana mungkin aku dan Pak Cholil... Hadeuhh ....!" ujar Mila keras sambil menyetir motornya. Ia memang sering bicara sendiri saat berkenderaan. Mila merasa saat yang tepat curhat di jalanan saat berkendara. Apalagi jika jalan dalam keadaan sepi.


Sesampainya di parkiran sekolah. Mila cukup dikejutkan dengan mobil mewah yang parkir di parkiran sekolah khusus guru itu. Ada mobil jenis


Toyota Land Cruiser warna hitam.


"Astaga apa ada kunjung an pejabat?" Mila dengan tidak tenangnya turun dari atas motornya setelah ia lepas Helm nya.


"Iya, mam pus Aku!" Mila melihat tiga orang pria beserta kepala sekolah mereka kini berjalan ke arah parkiran. Dan benar sekolah mereka di kunjungi oleh pejabat. Pasti tadi ada arahan, dan dia sedang di luar.


"Astaga.. Mati aku, pasti aku kena tegur!" umpatnya, berjalan secara mengendap endap ke ruang laboratorium yang memang dekat ke parkiran. Bahkan Mila yang takut, menyiapkan tanya dibagasi motornya.


"Apa itu guru yang tidak ikut rapat tadi bu?" Mila mendengar dengan jelas, kalau ia sedang dibahas.


"Iya pak!" Sahut bapak kepala sekolah mereka.


"Muallimaah MiLA... Kemari Sebentar!"


Deg


Ya Allah.. Tolong aku!


Mila membathin, ia putar tubuhnya yang kini menegang karena ketakutan itu.

__ADS_1


__ADS_2