TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
23


__ADS_3

"Pak, lepas, turunkan aku pak. Aku malu dilihatin orang. Yang bapak lakukan tidak benar! kelakuan bapak ini dosa!" ujar Mila gugup. Jujur, ia takut pada pria yang menggendong nya sekarang.


Tidak bisa diatur lagi ritme jantung nya sangat cepat saat ini. Bahkan Mila merasa jantungnya sudah copot. Darahnya sudah tumpah ruah di rongga dadanya sat ini. Sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Cholil. Pria itu menggendong Mila di depan para guru. Dan itu menyalahkan akidah. Mereka muslim, tidak seharusnya kontrak fisik.


"Diam lah Dek, aku juga tahu apa yang ku lakukan ini tidaklah diperbolehkan. Tapi, saat ini niatku adalah untuk menolongmu." Jawab Cholil.


Mila terdiam.


Kini mereka sudah dekat ke mobilnya. Sang ajudan dengan cepat membuka pintu mobil. Mendudukkan Mila, kemudian ia juga duduk di jok sebelah Mila.


Huufftt..


Cholil yang sudah duduk di kursi mobil sebelah Mila menarik napas panjang dan berat. Mila yang grogi, memilih diam tanpa menatap Cholil yang terlihat Ke capek an.


"Kamu makan apa sih dek? berat betul, padahal nampak kurus!"


Seketika Mila menoleh ke arah Cholil dengan muka masamnya, yang sedari tadi menunggu untuk ditatap wanita itu.


"A, aku berat? aku gemuk ya?" tanya Mila dengan polos nya.

__ADS_1


"Ho oooh..!" Sahut Cholil sambil menahan tawa. Ia mengangguk kan kepalanya. Ia sengaja menggoda Mila. Agar suasana mencair di dalam mobil itu.


Mila yang enggan kepada Cholil, membuang muka dengan cemberut.


Hahahaha..


Cholil malah tertawa.


Mila kembali menatap Cholil yang nampak bahagia itu. "Iihh.. Bapak nyebelin!" ujar Mila dengan manyun.


"Nyebelin, tapi ngengenin kan?" goda Cholil.


Mila memperhatikan sekitar, Ternyata mereka sedang ada di depan sebuah klinik.


"Ayo turun, atau mau di gendong lagi!?" ujar Cholil Yang kini sudah turun dari dalam mobil.


"Gak, gak pak. Aku gak sakit!" Jawab Mila cepat, menolak dengan lambaian tangan tidak mau turun. Ia merasa baik-baik saja sekarang.


"Ayo lah dek, kita periksa kesehatan mu!" desak Cholil dengan memelas.

__ADS_1


Mila pun jadi merasa tidak enak an. Ia akhirnya membuka pintu mobil di sebelahnya. Cholil berlari ke arahnya. Terlihat sangat khawatir kepada wanita yang ia cintai itu.


"Ayo jalan, aku tidak akan menyentuhmu!" ujar Cholil menahan senyum. Ia sangat terhibur dengan sikap nya Mila, yang selalu jaga jarak kepadanya. Padahal banyak cewek-cewek yang ngejar-ngejar dia. Lah, si Mila malah tidak tertarik kepadanya. Kan aneh?


Mila menyeret kakinya ke dalam klinik. Ia yakin kan dirinya, bisa melangkah tanpa sempoyongan. Karena jujur, ia merasa kepalanya pusing saat ini.


"Kan ngeyel!" Akhirnya Cholil menangkap Mila yang hampir saja terjatuh itu. Dan ia kembali membopong wanita itu.


Mila yang malu, dan salah tingkah tidak tahu harus bersikap apa. Jujur ia nervouse sekali.


"Setelah kejadian ini, ku harap adek bisa berfikir realistis. Kita sudah dekat seperti ini. Kalau adek masih menolak lamaran ku, itu adalah musibah untuk kita berdua!" ujar Cholil lembut dengan mimik wajah serius, menatap Mila dalam gendongannya.


Mila tersentak dengan ucapan Pak Cholil. Ada benar nya kata pria yang membopongnya itu. Kalau ia menolak Pak Cholil, Sedangkan mereka sudah sedekat ini. Maka, akan banyak sekali gosip negatif yang akan datang menerpa mereka.


"Di sini ruangan nya pak!" ujar perawat memberi jalan kepada Cholil.


Cholil mengikuti langkah perawat ke ruang pemeriksaan. Dan membaringkan Mila di bed. "Aku akan kata kan kepada semua orang, kalau kita sudah bertunangan dan minggu besok kita akan menikah.!"


"Haahh..!" kedua mulutnya Mila menganga sempurna setelah mendengar ucapan Pak Cholil.

__ADS_1


Mila sangat terkejut akan sikap pak Cholil yang terkesan sangat obsesi untuk mendapatkannya.


__ADS_2