
Mila yang ketakutan, menghampiri pejabat tingkat provinsi itu dengan menunduk. Ia sudah seperti penjahat yang ketangkap basah.
"Maaf ya pak, saya bersalah!" belum juga ditanya, Mila sudah menyerah terlebih dahulu.
"Lebih di tingkatkan lagi disiplinnya ya muallimmah!"
Deg
Mila yang ketakutan, mengangkat sedikit wajahnya. Karena ia kenal suara yang barusan menasehatinya.
Pak Cholil.
Gumam Mila, ia cepat menundukkan kepalanya lagi, karena tidak sanggup bersitatap dengan Pak Cholil.
"Iya pak!" sahut Mila sopan.
Mila dari kejauhan tidak mengenai Cholil yang berjalan Ke parkiran beserta anggotanya dan kepala sekolah. Karena, penampilan Cholil saat ini sangat berbeda. Pria itu nampak lebih muda dan segar. Karena kumis serta jambang yang menghiasi wajahnya, kini tidak terlihat lagi di wajah putih itu. Jadi, Cholil sekarang sudah seperti pemuda berusia 25 tahunan. Sungguh sangat tampan, dan penuh pesona.
"Kita berangkat! "
"Baik pak! "
Mila yang masih menunduk, melirik lirik Para pejabat yang kini sudah menaiki mobil. Begitu juga dengan kepala sekolah mereka.
Huufftt..
Mila yang merasa tegang, kini menarik napas panjang. Ia perlu oksigen yang banyak, Karena dadanya terasa sesak, terlalu tegang di hadapan para pejabat tadi.
Merasa lebih tenang. Kini Milah menyeret kakinya menuju kantor. Ia memang sedang tidak ada jam masuk kelas. Sesampainya di ruang kantor.
"Nah... Itu dia calon PPPK yang sok. Pas jam kerja main kabur saja!" celoteh bu Rose kesal, menatap Mila yang kini memasuki ruang kantor.
Mila yang tidak mau ribut. Mengabaikan celoteh an Bu Rose. Ia dudukkan bokongnya di kursi kerjanya. Ia ambil laptop nya. Tidak mau terusik dengan sindiran Bu Rose.
Bu Rose pun akhirnya terdiam, karena tidak ada guru-guru yang merespon pancingannya. Semuanya memilih diam.
***
__ADS_1
Pukul 15.10 Wib. Mila sudah sampai di rumah. Ia pun dikejutkan dengan keberadaan Darel di rumahnya. Bermain bersama Salsa di teras rumah. Berarti Pak Cholil benar-benar ada di kampung itu. Dan ada urusan apa pejabat tinggi ada di sekolah mereka.
Mila yang banyak order an kue bolu. Tidak mau pusing memikirkan Pak Cholil. Apalagi tadi siang, ia sampai diingatkan oleh adik iparnya Cholil, agar menjauhi Cholil. Padahal dia tidak pernah kepikiran mendekati pria itu. Ia pun kini sibuk memasak kue bolu pesanan orang dan memasak makan malam.
Pukul 17.30 Wib. Mila dan Salsa kini keluar rumah. JJS sekalian antar pesanan order an kue bolu nya.
"Salsa...!" teriak seorang anak cowok yang asal suaranya berasal dari mobil yang melaju di sebelah kanan mereka.
Sontak Mila dan Salsa menoleh serentak ke arah kanan mereka.
"Darel...!" Salsa kegirangan diboncengan sang ibu. Melambaikan tangan dengan semangatnya kepada Darel.
Sekilas Mila menatap ke arah mobil yang dikenderai oleh Cholil itu.
Deg
Tatapan tajam adik iparnya Cholil, membuat suasana hatinya Mila memburuk. Ia pun dengan cepat membuang pandangan. Fokus ke badan jalan. Kesal sekali Mila melihat adik iparnya Cholil itu.
"Salsa ... Da... Da.... Da... Da...!" teriak Darel, disaat mobil mewah berwarna hitam itu melalui Motor yang dikenderai Mila.
"Da..Da...!" Salsa membalas lambaian tangannya Darel. "Nanti malam main ke rumah ku lagi kan?'
"Iihh.. Mama kenapa sih? Darel kan akan jadi Abang ku Ma!"
"Apa...?" Mila yang terkejut mendengar ucapan Salsa, menepikan motornya. Ia out at lehernya untuk menatap lekat sang putri.
"Iya ma. Kata Darrel, aku akan jadi adik tirinya!" sahut Salsa dengan semangat.
Mila kembali memutar lehernya. Ia tatap badan jalan yang tidak berujung dihadapannya dengan bingungnya.
Kenapa Salsa mengatakan Darrel akan jadi Abangnya. Dan Adik iparnya Cholil juga mengingatkannya tadi siang untuk mejauhi Cholil.
Apa Pak Cholil ingin menjadikanku Istrinya? Oohh.. Tidak, itu tidak mungkin sekali.
Gumam Mila, ia pun kembali melajukan motornya, pulang ke rumah cepat. Karena sebentar lagi akan dapat waktu magrib.
Sesampainya di rumah.
__ADS_1
Waktu magrib pun tiba. Ia mengajak sang anak untuk sama-sama melaksanakan sholat Magrib. Kemudian Mila mengajari Salsa mengaji. 30 menit Salsa belajar mengaji. Mila malah melanjutkan kegiatannya dengan membaca Al-quran. Rencana nya ia akan membaca Al-quran hingga tiba waktu Isya.
Baru juga membaca tiga ayat suruh Al-waqiah. Pintu kamarnya dibuka sang ibu mertua.
"Nak, mengaji dilanjutkan nanti saja ya?" Ucap sang ibu mertua lembut tersenyum manis padanya
Senyuman sang ibu mertua penuh dengan tanda tanya, yang membuat Mila penasaran.
"Memangnya ada apa bu? tanggung ni bu, bentar lagi sudah dapat waktu isya." Jawab Mila sopan. Mimik wajahnya nampak datar.
"Ada tamu cariin kamu nak. Ayo cepat Dandan pakai baju yang bagus ya!" ujar sang ibu mertua dengan sumringah. Sejak tinggal di rumah ini bersama kedua mertuanya. Baru kalian ini Mila melihat sang ibu mertua bahagia sekali.
"Tamu?" tanya dengan penasarannya. Siapa pula tamu yang datang, mengharuskan dia berpenampilan bagus.
"Iya nak. Ayo cepetan, kamu ganti baju mu yang bagus!" senyum kebahagian masih terletak jelas di wajah sang ibu mertua.
Mila pun akhirnya menyudahi acara mengajinya. Ia simpan peralatan sholat dan Al-Quran ke tempatnya. Kemudian ia ambil hijab sorong dari dalam lemarinya. Hijab berbahan crincle berhiaskan renda di setiap pinggirnya berwarna pink soft, senada dengan baju stelan piyama yang ia kenakan saat ini.
Saat keluar dari kamar.
"Ayo nak, minum dulu!" Mila mendengar suara sang ibu mertua.
"Iya bu."
Deg
Mila kenal suara itu.
Pak cholil?
Gumam Mila dengan lebaran jantung yang bertalu-talu. Sungguh Mil a dibuat penasaran dengan kedatangan pejabat itu, mana tadi ibu mertua nya memintanya mengganti baju yang lebih bagus.
Mila didera rasa gugup yang paruh. Hatinya menduga-duga saat ini. Apakah tujuan Pak Cholil datang ke rumahnya.
"Ayo sini nak!" ibu mertua nya Mila melambaikan tangan pada Mila yang nampak enggan untuk bergabung di ruang tamu. Tapi, tidak mungkin dia tidak mau bergabung. Karena kata ibu mertua nya, tamu itu ingin bertemu dengannya. Pak Cholil igin bertemu dengannya.
"I, iya bu!" Sahut Mila sopan. Ia nampak gugup saat ini. Langkahnya lemas menuju ruang tamu yang kini hanya di tempati Cholil, dan kedua meetuanya.
__ADS_1
Mila yang gugup dan penasaran. Tetap berusaha menampilkan ekspresi wajah ramahnya. Ia duduk di kursi terpisah, tepat di hadapan Cholil. Ia pun tidak sanggup menatap ke arah Cholil berlama-lama, Karena Cholil terus saja menatapnya.
"Eemmm... Karena menantu kami sudah ada di hadapan nak Cholil. Maka, kami persilahkan nak Cholil menyampaikan maksud dan tujuan nya datang bertemu ke rumah ini!"