
Melihat sang putri begitu bahagia setelah bertemu dengan ayahnya. Pendirian Mila jadi goyah. Padahal, ia sudah tidak ingin bersama dengan Irfan lagi. Hal itu membuatnya menjadi sangat dilema. Dadanya semakin sesak melihat keakraban sang suami dengan putrinya yang masih terus bercakap-cakap itu.
Mana mungkin dia kembali kepada Irfan. Padahal Irfan sudah menghancurkan komitmen mereka. Dan Mila takut untuk bersama lagi. Karena, dalam enam bulan terakhir ini Mila yang curiga, selalu bertanya. Apakah suaminya itu punya wanita lain, dan Irfan selalu bisa meyakinkan Mila jika ia tidak berselingkuh. Tapi, kenyataannya pria itu berselingkuh
"Mila, ayok ikut ibu sebentar!" Bu Janna yang melihat Mila bingung dalam keadaan meratap, memegang bahu nya Mila.
"Oouuw.. Apa bu?" sahut Mila tergagap, saat ia merasakan bahunya ada yang menyentuh.
Mila dan Bu Jannah meninggalkan ruang tamu itu, yang pergerakan kaki mereka diikuti oleh Pak Mahmud. Sedangkan Irfan dan putrinya Salsa masih berkomunikasi.
"Ayah... Baru pulang dari kota, berarti di rumah banyak ole-ole ya?!"
Itulah yang terakhir Mila dengar percakapannya Irfan dan putri mereka Salsa, sebelum mereka sampai di halaman belakang rumahnya Pak Mahmud.
Sesampainya di belakang rumahnya Pak Mahmud. Bu Jannah mengajak Mila duduk di sebuah bale-bale yang terbuat dari bambu yang diteduhi oleh pohon mangga.
Huufftt..
Bu Jannah menarik napas berat. Ia tatap Mila yang duduk di tepi bale-bale yang terlihat meratap itu. Kesedihan serta kekhawatiwaran masih tercetak jelas di wajahnya Mila, yang diterangi cahaya lampu dan bulan purnama.
__ADS_1
"Ibu bisa rasakan kesedihan yang kamu rasakan saat ini Mila. Apalagi kamu lebih memilih lebih banyak menangis, menyalahkan diri sendiri hingga mengarah pada depresi. Dari pada reaksi agresif menyerang pasanganmu baik secara fisik maupun verbal. Dari sikapmu Itu bisa ibu simpulkan betapa kecewanya kamu pada Irfan." Ujar Ibu Jannah pelan penuh kehati-hatian.
Tes
Air mata yang sejak tadi memaksa keluar, kini tidak terbendung lagi. Ya, selama dua minggu ini. Mila terus saja menyalahkan diri, mencari tahu apa kurangnya dirinya, sehingga Irfan selingkuh dengan Irene. Mantan temannya Mila kerja di sekolah ia sekarang mengajar. Ya Irene dulu nya guru honorer. Tidak tahan dengan gaji sedikit jadi guru honorer, Irene melamar pekerjaan di perusahaan tambang emas, dan nasib baik berpihak pada wanita itu. Ia di terima kerja. Dan, dua tahun lalu ia menawarkan Irfan untuk kerja di tambang itu, karena ia bisa memasukkan Irfan kerja di perusahaan itu.
"Melihat kesungguhan Irfan untuk kembali padamu. Menurut ibu apa salahnya kamu berikan dia kesempatan sekali lagi. Seperti nya ia benar-benar menyadari kesalahannya dan ingin perbaiki diri " Tambah Bu Jannah lagi dengan penuh kehati-hatian.
Mila menoleh sendu ke arah Bu Jannah yang juga terlihat sedih saat ini.
"Bu, aku belum bisa memaafkan Mas Irfan. Kelakuan bejatnya terus saja tayang di pikiranku Bu. Melihatnya membuat darahku mendidih bu." Jawab Mila terisak. Jemarinya dengan cepat mengusap air matanya.
Huufftt..
"Bu, kita tidak boleh ikut campur urusan rumah tangganya Mila!" jelas pak Mahmud tegas.
"Pak, aku tidak mau ikut campur. Aku hanya kasih saran saja. Karena, belum tentu jika mereka bercerai, hidupnya Mila akan bahagia. Belum tentu ia dapatkan pengganti yang lebih baik. Semua yang berumah tangga ada ujian nya pak!"
"Iya bu, tapi kan kesalahan Irfan sudah fatal. Ia berzina bu!' terang Pak Mahmud kesal.
__ADS_1
" Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa pak. Irfan itu ibu lihat sudah menyesali kesalahan nya dan Ia ingin berubah."
"Kalau benar berubah, tidak mungkin dia datang kesini dalam keadaan mabuk-mabukan!" ujar Pak Mahmud cepat.
Huufft..
"Iya juga ya? tapi, apa salahnya. Mila, kamu beri kesempatan sekali lagi kepada Irfan. Siapa tahu, ia memang sudah bertaubat!"
Ngengg...
Suara motornya Irfan terdengar ke belakang rumah.
"Salsa.. Salsa Bu!" Mila yang terkejut bergegas menyeret kakinya ke ruang tamu. Begitu juga dengan Pak Mahmud dan Bu Jannah.
"Astaga... Mas....!" terisak Mila berlari cepat ke teras rumah, saat melihat Irfan telah membawa Salsa pergi dari rumah itu.
"Da.. Dada.... Dada, mama...!" Salsa melambaikan tangan nya kepada Mila. Kini motor sudah melaju dengan kencang.
"Mas Irfan, jangan bawa Salsa...!" Di keheningan malam, Mila teriak-teriak memanggil anak nya dan Irfa agar berhenti.
__ADS_1
"Salsa, kemari nak !" Mila pun ambruk di badan jalan, saat kakinya tidak sanggup lagi mengejar motor nya Irfan yang melaju kencang.