
Satu Tahun Kemudian
" Ayah nyaman kan di sana? Di sini berbeda tanpa ayah. Tapi, aku akan kuat dan gak mau buat ayah di sana sedih. Ayah, besok Salsa akan masuk sekolah dasar. Coba ayah masih ada, pasti ayah yang akan anterin aku ke sekolah.!"
Mila yang sedari tadi menahan diri untuk tidak menangis. Akhirnya pertahanannya goyah juga. Air mata pun kini menggenang di pelupuk matanya.
Salsa yang juga sedih, memeluk ibunya itu. Kini mereka sedang beri arah kubur ke makamnya Irfan.
"Mama, kata teman ku. Agar mama gak sedih lagi, Mama harus menikah dengan ayahnya."
Mila yang terkejut mendengar celoteh Salsa, memutar lehernya cepat menatap putri nya itu.
"Salsa, kamu bicara apa. Kita sedang di makam ayahmu!" Tegas Mila, ia bangkit dari duduknya. Dan menuntun Salsa untuk bangkit juga.
"Habis Mama sedih terus. Nenek juga bilang koq samaku. Membujuk Mama agar nikah lagi."
"Salsa!" Mila menatap tajam anaknya itu.
Seminggu terakhir ini memang, Salsa sering bilang pada Mamanya, agar menikah lagi. Tentu, itu semua ajarannya si nenek. Ibunya Irfan. Sejak Irfan meninggal, Mila dan Salsa tinggal bersama dengan kedua mertua nya. Ia masih mengajar, sekaligus me lanjutkan usaha depot sang suami.
"Iya deh, kalau Mama gak mau nikah lagi." Sahut Salsa lemas. Ia seret kakinya, meninggalkan makam sang ayah.
Sedangkan Mila, mengecup nisan sang suami. Saat ini ia merasa sedih sekali. Merasa hampa, kecewa dan pastinya kesepian. Kepergian Irfan untuk selama-lamanya juga membuatnya merasa kehilangan dan kerinduan yang membuncah. Apalagi Suaminya itu meninggal saat kedua nya dalam keadaan yang sangat harmonis. Irfan sangat baik kepadanya di tiga bulan sebulan pria itu menghembuskan napas nya.
Puas meratapi di makam sang suami. Mila pun mulai heboh mencari keberadaan putri nya di parkiran. Sudah hal biasa, Salsa menunggu sang Mama di parkiran. Tapi, Kali ini gak ada.
Dengan perasaan yang kacau Mila kembali Masuk ke pekarangan kuburan. Mencari anaknya yang sangat aktif itu. Mana saat ini pemakaman itu berada di dataran tinggi, Ada jarang di setiap sisi pemakaman itu. Hal itu membuat Mila semakin panik, Jangan jangan anaknya terjatuh ke curang.
"Ya Allah.. Anakku dimana?" dengan paniknya Mila bicara sendiri. Ia sedang di pemakaman tidak mungkin dia berteriak-teriak memanggil sang anak.
Setiap sudut pemakaman itu tidak lepas dari sorot matanya yang penuh kekhawatiran itu. Tidak kunjung melihat keberadaan sang putri. Mila menyisir pemakaman yang sedikit landas ke arah barat. Ia sangat berharap anaknya itu bermain disana.
Dan
Huufftt..
Ia pun bisa bernapas legah. Anaknya itu ternyata sedang bersama dengan peziarah yang lain. Dan terlihat para peziarah itu sudah selesai dengan kegiatan nya, dan bersiap-siap hendak meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Mila sudah kesal sekali kepada putri nya Salsa. Ingin rasanya ia menjewer telinga sang anak. Tapi, karena tempatnya tidak memungkinkan untuk marah. Mila pun mencoba tenang dan meredam emosinya.
"Mama...!" Salsa berlari ke arahnya.
"Kamu, kenapa pergi jauh. Mama khawatir tahu!" akhirnya Mila tidak bisa menahan diri juga untuk tidak marah kepada Salsa
Salsa manyun, ia tidak suka dimarahi. Ia malah berputar dan kembali bergabung dengan peziarah yang ia datangi.
Mila terpaksa harus berbasa basi dengan peziarah yang di datangi Salsa. Senyum mengembang pun kini tercetak jelas di wajahnya Mila dengan bahasa tubuh yang ramah. Sejenak ia memperhatikan 5 orang peziarah di hadapannya. 2 orang wanita, dengan beda umur yang ketara. Satu berusia sekitar 55 tahun, dan satunya lagi sekitar 25 tahun an. Dan dua pria dewasa yang berbeda usia juga. Satu berusia sekitar 60 tahun an dan satu lagi berusia 35 tahunan. Serta seorang anak cowok berusia sekitar 6 tahun. Mila seperti kenal salah satu orang diantaranya. Tapi, ia kurangnya yakin.
Setelah memperhatikan seksama orang -orang di hadapannya, Mila pun terlihat tidak enak an.
"Maaf ya Bu, pak, jikalau putri ku mengganggu orang bapak ibu!" ujar Mila sopan. Kedua matanya penasaran sekali dengan sosok yang ia kenal di hadapannya. Tapi, ia kurang yakin dengan apa yang ia pikirkan saat ini.
"Oouuww... Ini putri mu ya?" Sahut seorang wanita paruh baya, berhijab putih dengan memakai Abaya hitam. Yang berusia sekitar 55 tahun.
"I, iya bu!" sahut Mila sopan. "Salsa, ayo kita pulang nak!" bujuk Mila, mendekati Salsa yang kini malah sembunyi dibalik tubuh pria yang wajahnya tidak asing di penglihatan Mila.
"Gak mau pulang sama Mama. Aku mau pulang dengan Darrel aja Ma." Sahut Salsa sedikit ketakutan melirik Mila.
Mila melirik Seorang anak cowok yang berdiri di sebelah Salsa. Berarti anak itu bernama Darel. Mila juga dibuat jadi salah tingkah di hadapan keluarga yang berziarah ini. Kenapa putri nya jadi kompak gitu dengan mereka.
"Gak ma, rumahnya gak jauh dari rumah nenek. Aku tahu koq rumahnya. Kan aku sering main ke rumah Darel." Sahut Salsa cepat. Ia terlihat tidak mau diajak pulang oleh Mila.
"Maaf, maaf ya bapak, ibu. Anakku tidak sopan dengan kalian." Ujar Mila enggan.
"Iya Nak Mila, gak apa-apa koq. Ayo, kita keluar dari makam ini!' ujar si ibu yang kira-kira usianya 55 tahun.
Mereka pun menyeret kakinya keluar dari pemakaman. Kebetulan Mila berjalan berdampingan dengan Pria yang seperti ia kenal itu. Karena saat ini, Salsa menggandeng tangan si pria. Jadi, posisi nya. Salsa ada di tengah-tengah Mila dan si pria itu.
Mila melirik pria yang kini menggandeng Salsa dan Seorang anak cowok bernama Darrel.
Ke tangkap basah sedang me lirik-lirik. Mila dengan cepat membuang pandangannya.
Pria itu pun tersenyum tipis. Ia merasa lucu dengan ekspresi wajahnya Mila.
" Bu Mila, Apa kamu gak kenal denganku?" tanya si Pria melirik Mila yang berjalan berdampingan dengannya
__ADS_1
Mila kembali melirik pria itu. Dan kini tatapannya terkunci di wajah yang kini di tumbuhi kumis dan jambang. "Eemm.. Pak Cholil kah?" tanyanya Ragu dan enggan
Si pria yang bernama Cholil mengangguk pelan dengan senyum tipis nya. Cholil Qoumas adalah Ka kanwil tingkat provinsi.
"Haah.. "Mila yang tercengang menutup mulutnya yang sempat menganga dengan jemarinya. "Ma, maaf ya Pak!" Mila dengan tidak tenang nya membungkuk di hadapan pria itu. Pria di hadapannya orang yang berpengaruh di tempat ia kerja.
"Maaf, maaf untuk apa bu Mila?" tanya si pria tersenyum tipis. Pria itu menghentikan langkahnya. Salsa dan Darel melepas genggaman tangannya Pak Cholil. Mereka berlari menyusul Kakek dan Nenek mereka.
"Maaf untuk tidak sopan nya putri ku pak. Serta, aku yang tidak kenal dengan bapak. Pak, ku mohon. Jangan berhentikan aku dari kerjaan ku!"
Ujar Mila dengan paniknya di hadapan pria Itu.
Pak Cholil tertawa kecil, ia merasa lucu dengan tingkahnya Mila.
Diwaktu bersamaan, seorang wanita cantik menghampiri Cholil.
Kini merasa sudah berada di parkir an
"Cepat Mas, kunci mobil sama Mas loh." Ujar Wanita itu dengan nada kesalnya.
"Oouwwhh.. Iya, ayo!" ujar Si Cholil. Meninggalkan Mila yang terbengong di tempat, tanpa basa basi.
Mila masih terbengong memperhatikan Pak Cholil dan keluarganya yang kini sudah bergegas masuk ke dalam mobil.
"Mama.. Ayo...!" Mila pun tersadar. Ia berjalan cepat menghampiri sang putri yang menunggunya d atas motor.
"Salsa, gak ikut dengan kami pulang nya?" tanya Darel dari kaca mobil mewah itu.
"Gak Darel, aku mau pulang dengan ibuku! dada... Da.. Da!" Sahut Salsa dengan ceriah nya, melambaikan tangan ke arah keluarganya Pak Cholil.
Tin
Klakson mobil mewah itu pun berbunyi keras. Sebagai tanda duluan kepada Mila.
Mila bergegas menuju motornya yang terparkir. Ia menaiki motornya, tapi ia tidak langsung menjalankan motornya itu. Dia sedang teringat kejadian satu tahun yang lalu. Saat Pak Cholil memberikan uang diamplop coklat kepada Salsa.
"Apa pak Cholil sudah menikah? apa wanita cantik tadi Istrinya?" ujar Mila pelan.
__ADS_1
"Ma... Ayo jalan!" pinta Salsa dengan tidak sabarannya.