TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
Jangan sepele


__ADS_3

Mila dan Cholil melangsungkan pernikahan di kediamannya Cholil di kota yang jaraknya 350 Km dari kampungnya Mila. Pak Cholil yang bahagia, mengudang semua teman kerjanya Mila ke acara tersebut. Bahkan Pak Cholil menyediakan angkutan exculusif kepada para guru-guru teman kerjanya Mila.


"Gak disangka ya, takdirnya Mila secemerlang ini. Menikah dengan Pak Cholil pejabat Esselon II. Padahal dulu si Irfan saja menyelingkuhi nya." Ujar Bu Rose takjub menatap pasangan pengantin baru Mila dan Cholil di pelaminan yang bersandingan mesra. Walau Mila nampak canggung dengan perlakuan hangatnya Cholil.


"Takdir itu bukan ditentang, tapi diterima. Mila saat dikecewakan oleh Irfan. Ia ikhlas dan sabar menjalaninya. Hasil dari kesabarannya, lihatlah dia sekarang bahagia." Sahut Bu Risma menatap sinis kepada Bu Dewi. "Makanya jadi orang jangan suka merendahkan. Lihat sekarang, Mila Bahkan jadi istri pejabat yang berkuasa. Yang harus kamu hormati." Ketus Bu Risma kepada Bu Dewi.


"Siap-siap sajalah bu Dewi. Kamu kena depak dari sekolah kita dan pindah tugas ke pedalaman." Timpal Bu Jamilah.


"Hei ... Kita ini saudara, jangan saling menyudutkan . Mila tidak mungkin setega itu kepada Bu Dewi." Ujar Pak Hendra.


Bu Dewi hanya bisa menunduk terdiam. Ia teringat sikapnya kepada Mila selama ini. Ia selalu sepele kepada Mila, karen Mila hanya guru honorer dan seorang janda. Dan sekarang Mila malah jadi istri pejabat.


"Ayo ke pelaminan. Itu Mila mengajak kita foto bersama!' ujar Bu Risma. Bangkit dari duduknya.


Para guru yang duduk di meja VIP itu pun semuanya bergegas ke pelaminan. Dan Ibu Dewi yang memusuhi Mila tanpa alasan itupun ikut ke pelaminan.


" Bu Risma! ayo kita foto lagi!" pinta Mila dengan mata yang berkaca-kaca pada teman kerjanya itu. Hanya ibu Risma lah yang baik padanya di sekolah dengan tulus.


"Haahh...!" Ujar Bu Risma terkejut.


"Iya bu. Foto berdua saja!'


Cholil dibuat terkejut mendengar ucapan sang Istri. Kenapa ia tidak diajak berfoto beserta bu Risma.


" Aku gak boleh ikut foto kah?" tanya Cholil tersenyum manis.


"Eemm.. Ma, maaf pak. Kami ingin foto berdua!" ujar Mila segan.


"Bapak, bapak lagi!" ujar Cholil cemberut.


Heeheh....

__ADS_1


Mila tertawa kecil.


Sedangkan Bu Risma senyam senyum melihat keromantisan pasangan pengantin.


"Hehehe. Ayo kita berfoto!" akhirnya Mila menggandeng tangannya Pak Cholil dan menggandeng tangannya Bu Risma.


Cepret..


"Sekali lagi pak!" pinta Mila pada Cameramen.


Cepret


Kali ini Mila berfose merangkul Bu Risma.


"Semoga bahagia ya Dek!" ujar Bu Risma dengan lirih. Sejenak ia teringat Mila yang sering curhat padanya soal masalah rumah tangganya. Dimulai dari masalah ekonomi dan suami yang selingkuh.


"Terima kasih Bu. Hanya ibu yang mengerti aku dikala susah dan senang." Sahut Mila, kembali memeluk bu Risma.


"Iya bu!" Mila mengurai pelukannya.


"Eehh... Sudah banyak tamu yang antri!" ujar Bu Risma. Ia pun turun dari pelaminan.


"De, Delima!" Mila sangat terkejut melihat Delima datang ke pesta pernikahannya.


"Selamat ya!" Delima memeluk Mila, cipika dan cipiki. Ekspresi wajah wanita itu masih nampak tidak ikhlas. Tapi, mau gimana lagi. Cholil sudah bersikap tegas padanya.


Jikalau Delima mengusik rumah tangganya, meneror Mila. Maka Cholil tidak akan segan untuk memenjarakan Delima. Bahkan, Cholil tidak akan memberikan akses kepada adik iparnya untuk masuk ke rumahnya di kota.


"Terima kasih ya!" jawab Mila tersenyum tulus.


Delima mengangguk lemah dengan mata yang berkaca-kaca. Siapa yang tidak sedih, incaran kita menikah dengan yang lain.

__ADS_1


"Selamat bang!"


Cholil mengatupkan kedua tangannya tidak mau menjabat tangannya Delima yang terlanjur menjulur.


Sikapnya Cholil yang dingin dan jaga pada Delima. Membuat wanita itu semakin sedih.


Mila hanya melirik ke arah Cholil dan Delima. Ia teringat ucapan sang suami, yang memnag membatasi hubungannya dengan Delima sekarang.


"Semoga bahagia bang!" ujar Delima pelan.


"Oya, Terima kasih!" sahut Cholil datar.


"Ayah.... Mama...!"


Teriakan Darel dan Salsa menyita perhatian Cholil dan Mila. Sehingga Delima terabaikan.


"Dari mana saja kalian nak!" Cholik merangkul sang anak, begitu juga Salsa yang menempel pada sang ibu


"Eemmm.... bukannya ayah yang bilang, agar kami tidak ganggu ayah dan Mama baru, hingga seminggu Ke depan. Agar kami cepar dapat dedek bayi!" ujar Salsa dengan polosnya menatap ke arah Cholil dan Mila secara bergantian.


Mila melototkan kedua matanya kepada sang suami. Bisa-bisanya suaminya itu berkata seperti itu kepada anak-anak mereka.


Graapp..


Kini Cholil meraih Salsa dalam gendongannya. "Sayang, jangan bongkar perjanjian kita di sini!' ujar Cholil gemes menjepit hidung kecilnya Salsa.


"Iihh.. Pak, koq bicara seperti itu sih pada anak-anak!" ujar Mila sewot. Ia manyun kan bibirnya kepada suaminya itu.


"Ya, harus dibilangin dek. Biar ganggu kita malam pertama!" ujar Cholil tersenyum genit.


"Iihh.. Genit!" protes Mila, ia lempar pandangan ke arah tamu undangan. Malu sudah rasanya bersitatap dengan sang suami.

__ADS_1


***


__ADS_2