TAKDIR JAMILA

TAKDIR JAMILA
19


__ADS_3

"Eemmm... Karena menantu kami sudah ada di hadapan nak Cholil. Maka, kami persilahkan nak Cholil menyampaikan maksud dan tujuan nya datang bertemu ke rumah ini!" ujar ayah mertuanya Mila dengan ramahnya. Pria tua itu juga terlihat bahagia sekali.


Mila sudah bisa menduga tujuan dari pertemuan ini. Seketika perasaannya disergap kecemasan tingkat tinggi. Tidak mungkin kan, Pak Cholil Qoumas mau melamar nya. Tapi, jika mengingatkan cerita Salsa tadi sore Dan adik iparnya Cholil yang melarangnya dekat dengan Cholil bisa jadi, sudah ada pembicaraan itu di keluarga besar nya Cholil. Tapi, mana mungkin Cholil mau menjadikan nya istri. Mila janda beranak satu, ia dari keluarga miskin. Bahkan ia sudah tidak punya orang tua. Jadi, sangat mustahil jika Pak Cholil menyukainya.


"Eehhmm...!"


Mila melirik Cholil yang berdehem itu. Dan disaat ituternyata Cholil juga menatapnya dengan senyum tipis penuh harap. Mila yang masih gugup kembali menunduk.


"Bapak dan ibu mertua dari adik Jamila Riahanum. Saya ingin menyampaikan isi hati saya hari ini." Ujar Cholil lembut dan terdengar tulus.


Mila dibuat penasaran dengan kalimat yang akan keluar selanjutnya dari mulut pria yang baru 3 kali bertemu dengannya itu. Karena penasaran, ia pun kini mengangkat wajahnya. Tatapannya Fokus kepada Cholil. Dan disaat itu juga Cholil yang juga menatap Mila, malah membuang pandangan ke kedua mertuanya.


"Menantu bapak yang duduk di sebelah kiri bapak dan ibu saat ini adalah alasan saya bersemangat dan menjalani hari-hari dengan tersenyum, akhir -akhir ini. Segala yang saya lakukan saat ini adalah tentang dan untuk putri bapak dan ibu seorang. Maka, izinkan saya bertanya pada bapak dan ibu. Apakah saya diizinkan untuk mempersunting Menantu bapak dan ibu untuk jadi istri sah saya?"


Deg


Bagai di sambar petir di siang bolong. Mila meras sesak, matanya berkaca-kaca mendengar permintaan Cholil yang melamar nya kepada kedua mertuanya. Ini sangat tidak masuk akal. Tapi, inilah kenyataan nya.


"Soal itu, bapak dan ibu tidak Bisa memjawabnya. Untuk itu, nak Cholil bisa tanya kan langsung kepada Nak Mila!" Jawab ayah mertuanya Mila dengan sumringah. Dari ekspresi kedua orang tua itu, terlihat mereka senang Mila dilamar Cholil.


Cholil yang juga gugup, kini menoleh ke arah Mila, yang tercengang di hadapannya.


"Dek Mila, mau kah kamu jadi istriku?"

__ADS_1


"Ti, Tidak. Maaf!"


Sahut Mila cepat, dan ia pun kembali menunduk.


Sontak Cholil dibuat jantungan dengan jawaban Mila. Ia tidak menyangka, lamarannya ditolak. Dadanya yang tadi bergemuruh karena salah tingkah. Kini berubah menjadi lenih cepat berdebar, karena tidak menyangka akan ditolak. Padahal ia sudah yakin 1000%, lamaran nya akan di terima oleh Mila. Karena tidak mungkin wanita biasa seperti Mila menolaknya. Karena selama ini banyak wanita cantik, kaya ingin jadi Istrinya. Tapi, Cholil menolak nya. Tiba, ia suka seorang wanita sederhana, ia malah ditolak.


"Nak Ma, kamu Jawabnya koq gitu?" tanya sang ibu mertua geram.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Mila menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Bu, Aku belum ada niat untuk menikah." Jawabnya singkat dan padat.


Jawaban dari Mila, membuat suasana hati kedua mertuanya memburuk. Wajah keriput yang tadinya berbinar-binar, kini murung penuh kekecewaan.


"Nak Cholil, jangan ada rasa sakit hatinya Nak Cholil kepada Mila ya Nak. Ku Mohon jangan pecat dia dari tempat kerjanya. Dia sedang menunggu SK nya." Ujar Ibu mertuanya Mila panik.


"Hehehe... !" Cholil tertawa untuk menghilangkan rasa kecewa nya. Baru kali ini, ia ditolak cintanya. Rasanya sakit juga ya!? ia sepertinya dapat karma. Karena saat masih lajang, banyak gadis yang ingin jadi kekasih nya. Tapi, ia tolak mentah-mentah.


"Gak lah bu, pak. Menolakan adalah hal yang biasa. Dan kegagalan adalah sukses yang tertunda. Mungkin saat ini, lamaran ku belum di terima Dek Mila, dan semoga besok dan beberapa hari, minggu, bulan atau tahun diterima nya!"


"Maaf pak, aku jawab sekarang saja. Pak, carilah istri yang Sepadan untuk bapak!" Jawab Mila tenang dan sopan.


Cholil terdiam, tapi ia malah terlihat semakin tertarik dam tertantang untuk mendapatkan Mila.

__ADS_1


"Bapak dan ibu keluar dulu. Kalian bicaralah dari hati kehati!" Kedua mertuanya Mila malah berjalan keluar rumah. Hal itu membuat Mila jadi kalut. Bagaimana dia akan menghadapi pria di hadapannya. Sepertinya pria di hadapannya nyolot ingin menikahinya.


"Sepadan bukan berarti sepadan dalam level status, pendidikan, suku, karier, tradisi keluarga, keuangan atau harta kekayaan kan maksudnya dek?" tanya Cholil lembut.


"Ya sepadan dalam level status, pendidikan, suku, karier, tradisi keluarga, keuangan atau harta kekayaannlah Pak. Kalau banyak beda nya, bisa pinang." Sahut Mila tanpa ekspresi. Sebenarnya ia senang dilamar Cholil, tapi. Adik iparnya Cholil sudah memperingatkannya.


"Unsur-unsur tersebut juga memang harus dipertimbangkan. Tapi, Yang ku ambil dari arti sebuah pernikahan adalah, sepadan dalam pola pikir sehingga bisa menjadi teman diskusi yang baik. Hatiku mengatakan kita cocok." Ujar Cholil tegas.


Mila semakin dibuat dilema. Pria dihadapannya Ternyata gengsi nya tidaklah tinggi. Itu artinya pria di hadapannya baik dan tulus. Tapi kan, adik iparnya Cholil menginginkannya.


"Baru kali ini aku ditolak cewek. Hahahaha...!" Cholil malah tertawa lebar.


Hal itu membuat Mila heran. Apa pria ini sedang menutupi rasa malunya.


Mila pun Akhirnya memilih diam.


Huufftt...


Cholil menarik napas berat. Suara tarikan napas itu cukup keras terdengar hingga keluar. Kedua mertua nya Mila di teras rumah dibuat tidak tenang. Ia kesal juga kepada menantunya itu, dilamar orang kaya, tampan dan baik, malah ditolak.


"Baiklah, aku pamit dulu!" pria itu bangkit dari duduk nya.


"Iya pak, maaf!" ujar Mila sopan dan tegas. Ia pun bangkit dari duduknya dengan perasaan yang kacau. Karena ia syok juga malam ini. Ia tidak menyangka pak Cholil melamar nya.

__ADS_1


"Hahahaha.... Dudududu....!" Cholil malah joging di hadapan Mila sambil tertawa garing. Pria itu sudah jadi orang gila, karena cintanya ditolak oleh Mila.


Seketika kedua bola matanya Mila membulat melihat kelakuan nya Cholil.


__ADS_2