
Tiga bulan kemudian
Setelah kejadian itu Irfan benar-benar berubah dan menjadi suami yang sangat baik dan mengerti dengan keadaan Mila dan lebih perhatian.
"Bu, Mas Irfan benar-benar berubah bu. Dia jadi lebih sayang dan perhatian padaku dan Salsa. Apalagi sekarang, Mas Irfan sudah punya usaha sendiri. Jadi, dia tidak terikat dengan aturan dari atasan." Ujar Mila tersenyum tipis.
Ia kini sedang berkunjung ke rumah Bu Jannah, tempat ia Kos dulu saat anak gadis. Dan Bu Jannah sudah ia anggap ibu sendiri.
"Syukurlah nak. Ini buah dari kesabaranmu. Berumah tangga itu tidak lah mudah. Ada saja masalah yang datang menghantam keluarga yang kita bina. Kita harus sabar dan semangat menjalaninya. Dan sekarang, kamu sudah menuai hasil dari kesabaranmu. Suamimu dapat hidayah dan sudah berubah." Ujar Bu Jannah lembut.
"Iya bu. Semoga Mas Irfan istiqomah." Sahut Mila sendu.
"Iya nak. Kamu harus terus berdoa untuk kebaikan rumah tanggamu!"
"Pasti bu. Baiklah bu, aku pamit dulu!" Mila menghampiri Salsa yang bermain dengan anak tetangganya Bu Jannah. Ibu dan anak itu pun pulang dengan mengenderai sepeda motor.
"Ma, kita mau ke mana ini?" tanya Salsa ia menatap sekitar. Jalan yang mereka lalui tidak jalan mau pulang ke rumah.
"Ke tempat ayah kerja sayang!" Sahut Mila lembut. Dengan fokus menyetir motornya.
"Oouuww... Mau Ke depot ya Ma?"
"Iya sayang."
"Ma, amplop yang dikasih om tadi gak masuk ke dompet mama kan?" tanya Salsa dengan suara keras.
"Hahahah... Astaga Salsa. Kamu curigain Mama?" ujar Mila, melirik sang anak dari spion. Salsa ada diboncengan.
"Hehehe... Gak Ma. Aku percaya mama koq. Oh ya Ma, om tadi baik banget kan ma?"
"Iya sayang!" Sahut Mila lembut. Wanita itu pun senyam senyum mengingat kejadian di sekolah.
Flasback on
"Aduhh Sayang, kamu main di tempat Bibi Sinar dulu ya?!" pinta Mila panik pada sang putri, yang kini asyik main hape di ruang kantor. Hari ini Mila piket harian dan katanya sekolah mereka akan kedatangan pejabat tingkat kabupaten. Pejabat yang baru tugas di wilayah satuan kerja mereka.
Biasanya pejabat baru akan melakukan evaluasi kinerja guru dan akan memberikan pengarahan. Kalau Putrinya Salsa tetap ada di ruang kantor dan main hape, itu akan sangat mengganggu sekali. Mila bisa kena tegur. Karena membawa anak ke tempat kerja.
"Gak Ma, aku gak mau di tempat Bi Sinar. Aku mau disini!"
"Hadeuhh... Tadi kenapa kamu gak ku paksa aja ke sekolah!" Keluh Mila. Tadi, Salsa gak mau ke sekolahnya. Alasannya sudah bosan sekolah. Ya, ini tahun kedua, Salsa di TK.
"Para pejabatnya sudah datang. Rapi kan kalian kantor ini. Buku-buku yang ada di atas meja. Masukkan dulu ke lemari. Meja kerja harus terlihat rapi." Wakil kepala kini memberi instruksi di ambang pintu. Para guru yang tidak ada jam, sudah berkumpul di ruang guru.
__ADS_1
"Ayo sayang, kamu ke tempat Bi Sinar dulu." Titah Mila lagi pada anaknya. Bi Sinar, adalah ibu kantin sekolah.
"Iihh... Mama!" Protes Salsa dengan cemberut. Ia pun Akhirnya mau diungsikan. Tapi, baru juga melangkah, pejabat tingkat kabupaten itu sudah memasuki ruang guru.
"Astaga...! Salsa...!" Mila yang ketakutan refleks menyembunyikan Salsa di kolong meja.
Semua guru sudah duduk di kursi masing-masing. Dan ternyata semua guru wajib ikut rapat di pertemuan itu. Dan guru-guru yang masih mengajar, meninggalkan kelas. Karena semua guru harus menyambut pemimpin yang berkunjung. Harus ada loyalitas yang tinggi untuk atasan. Jadi, guru yang sedang ada jam nya. Diintruksikan memberikan tugas, karena pejabat yang berkunjung hanya sebentar memberikan arahan.
"Astaga... Ini Pejabat yang baru kelihatan nya masih muda." Bisik Bu Risma, teman semejanya Mila. "Tampan banget, berkharisma lagi." Puji nya lagi.
Mila melirik Bu Risma dengan kening mengkerut. "Huusstt.. Bu, diamlah. Kita sedang dipantaunya!" sahut Mila dengan pelan.
"Bener gak sih, bapak itu duda?"
"Gak tahu aku bu. Kita diam dulu, nanti kita Kena marah!"
"Soalnya aku denger-denger tadi bapak itu duda dan lagi cari jodoh!" Bu Risma semakin dibilangin, semakin gak mau diam. Akhirnya Mila tidak menanggapi celotehnya Bu Risma. Takut juga dia Kena tegur.
Disaat yang bersamaan, Salsa yang duduk di kolong meja, mulai merasa tidak nyaman. Ia pun mentoel kaki mamanya.
Mila menunduk menoleh kepada sang putri. "Ma, mau keluar!"
"Husshh.. Sebentar lagi sayang!" Mila menempel Kan jempol nya di bibirnya yang ranum.
Salsa semakin kesal. Ia bangkit, dan langsung berlari. Sontak kelakuan nya menyita orang-orang di ruangan itu. Merasa diperhatikan dengan Tatapan tidak bersahabat. Salsa malah terdiam di tengah-tengah ruang kantor itu. Kedua matanya menyoroti semua orang yang menatapnya dengan muka cemberut. Karena kelakuan Salsa dianggap tidak baik.
Dada yang mana, duda yang Mana
"Salsa...!" Mila yang panik bergegas menghampiri sang putri, menggendong putrinya yang gemoy itu.
"Ma, maaf pak!" ujarnya dengan muka tegang nya sambil menunduk. Tanpa menunggu jawaban dari pejabat itu. Mila menyeret kakinya cepat dari ruang kantor itu.
Sesampainya diluar.
"Ya Allah Nak, gara-gara kamu, ibu akan dipecat!" ujar Mila dengan frustasinya. Menatap masam sang anak.
"Hua... Hua.. Hua... Ma, mama... Jangan marah ni aku!" Salsa yang juga ketakutan saat di ruang kantor tadi, malah memeluk cepat sang ibu.
"Mama gak marah, hanya kesal aja, kamu sih gak bisa dibilangin. Lihat lah, mama akan dimarahi!" keduanya masih berpelukan.
Dan Tiba-tiba saja Mila mendengar suara kaki melangkah. Itu artinya rapat telah usai. Mila pun mengurai pelukan sang putri. Merapikan Hijab dan pakaiannya, siap berdiri saat pejabat Itu melintas di hadapannya.
Mila sangat malu sekali, ia hanya bisa menunduk saat ini. Memegang tangan sang putri erat. Agar anak nya itu tidak buat masalah lagi.
__ADS_1
Saat pejabat itu melintas di hadapannya Mila.
Graapp.. Tangan kirinya Salsa malah meraih tangan si pejabat.
"Astaga... Ma, maaf!" Mila yang terkejut melihat tingkah putrinya, refleks melepas tangan pejabat itu dari genggaman nya Salsa.
Pejabat itu memberi kode dengan tangannya, agar Mila diam dan tenang. Kemudian pejabat itu berjongkok, mensejajarkan tubuhnya yang tinggi dengan Salsa.
"Om Tampan, maafkan aku!" ujar Salsa dengan mata berkaca-kaca.
Pejabat itu pun tersenyum tipis menatap Salsa. Kedua matanya berkedip sebagai tanda, ia tidak mempermasalahkan kelakuan bocah itu.
"Iya nak!" Sahutnya lembut.
Perlahan Mila melepas genggaman tangannya dari tangan kanannya Salsa.
Graapp..
Salsa malah memeluk pria di hadapannya. "Terima kasih om tampan!" ujarnya dengan ceriah. Ia kucek cepat kedua matanya yang sempat berkabut. Dan ia pun melepas pelukannya dari tubuh kekar itu.
Kini Salsa membalas tatapan si Pejabat. Terlihat si Pejabat bersikap tulus pada Salsa. Bukan pencitraan.
"Mamaku juga dimaafkan Ya Om. Mamaku jangan dipecat. Kalau Mamaku dipecat, nanti aku gak ada uang jajan. Uang Ayah ku gak banyak. Kata Mama, uang dari ayah, hanya untuk makan. Ayah sih, selingkuh. Jadinya dipecat. Dan sekarang, ayah jadi tukang galon!"
"Salsa..!" refleks Mila menutup mulutnya Salsa dengan tangan nya. Ia juga menjauhkan anaknya dari Pejabat itu.
"Pak, maaf kan anakku ya! ucapannya jangan diambil hati. Maaf sekali lagi pak!" ujar Mila dengan frustasinya. Ia malu sekali saat ini, pada Pejabat serta pegawai nya dan juga teman kerjanya.
Si Pejabat tersenyum tipis. Ia merogoh saku celananya. Dan nampak lah amplop coklat kini keluar dari Saku celananya.
"Ini, ada THR untukmu ya nak!"
Haaahh..
Kepala sekolah terkejut melihat apa yang dilakukan pejabat itu. Pasal nya amplop yang diberi kan kepada Salsa, adalah amplop yang diberikan nya kepada pejabat itu.
"T H R?" tanya Salsa dengan muka ceriahnya.
Si pejabat menganggukkan kepalanya cepat.
"Terima kasih Om!" ujar Salsa tersenyum lebar.
"Iya, sama-sama!" pejabat pria itu mengacak lembut rambutnya Salsa. "Ibumu tidak akan dipecat. Kamu jangan takut ya?" ujar pria Itu ramah.
__ADS_1
Para pegawai terkagum-kagum dengan kebaikan pejabat baru itu. Memang mereka pernah dengar rumor, kalau Pejabat baru itu adalah pimpinan yang baik dan amanah, dan Ternyata benar adanya.
Flasback of